Kesungguhan dalam Belajar, Ketekunan dan Cita-cita

Para pelajar harus bersungguh-sungguh dalam belajar, harus tekun. Seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang berjihad atau berjuang sungguh-sungguh untuk mencari (keridhaanku), maka benar-benar Aku akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan menuju keridhaan-Ku.” Dikatakan barangsiapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu tentu akan mendapatkannya. Dan siapa saja yang mau mengetuk pintu, dan maju terus, tentu bisa masuk.

Dengan kadar sengsaramu dalam berusaha kamu akan mendapat apa yang kamu dambakan. Dikatakan bahwa belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu dibutuhkan adanya kesungguhan dati tiga orang, kesungguhan murid, guru, dan ayah bila masih hidup. Read more

Penghormatan Terhadap Ilmu dan Guru

Para pelajar tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa mau menghormati ilmu dan guru.

Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah berhasil mereka ketika menuntut ilmu sangat menghormati tiga hal tersebut. Dan orang-orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu, karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya. Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu lebih baik daripada mentaati. Karena manusia tidak dianggap kufur karena bermaksiat. Tapi dia menjadi kufur karena tidak menghormati atau memuliakan perintah Allah. Read more

Cara Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Ketekunan

Para santri harus memilih ilmu pengetahuan yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya. Pertama-tama yang perlu dipelajari oleh seorang santri adalah ilmu yang paling baik dan yang diperlukan dalam urusan agama pada saat itu. Kemudian baru ilmu-ilmu yang diperlukannya pada masa yang akan datang.

Ilmu tauhid harus didahulukan, supaya santri mengetahui sifat-sifat Allah berdasarkan dalil yang otentik. Karena imannya orang yang taklid tanpa mengetahui dalilnya, sekalipun sah menurut pendapat kami, tetapi ia berdosa. Read more

Niat dalam Mencari Ilmu

Kemudian setiap pelajar harus menata niatnya ketika akan belajar. Karena niat adalah pokok dari segala amal ibadah. Nabi bersabda, “Semua amal itu tergantung pada niatnya.” Hadis Sahih.

Rasulullah SAW bersabda, “Banyak perbuatan atau amal yang tampak dalam bentuk amalan keduniaan, tapi karena didasari niat yang baik (ikhlas) maka menjadi atau tergolong amal-amal akhirat. Sebaliknya banyak amalan yang sepertinya tergolong amal akhirat, kemudian menjadi amal dunia, karena didasari niat yang buruk (tidak ikhlas).”

Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat menghilangkan kebodohan dirinya, dan orang lain, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Karena Islam akan tetap lestari kalau pemeluknya atau umatnya berilmu.

Zuhud dan takwa tidak sah tanpa disertai ilmu. Syaikh Burhanuddin menukil perkataan para ulama berikut: “Orang yang tekun beribadah tapi bodoh, bahayanya lebih besar daripada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, yaitu bagi orang yang menjadikan mereka sebagai panutan dalam urusan agama.”

Dalam menuntut ilmu juga harus didasari niat untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Jangan sampai terbesit niat supaya dihormati masyarakat, untuk mendapatkan harta dunia, atau agar mendapat kehormatan di hadapan pejabat atau lainnya.

Muhammad bin Hasan berkata, “Andaikata seluruh manusia menjadi budakku, pasti akan kumerdekakan semuanya dan akan kubebaskan diriku dari wala’ (loyalitas) mereka.”

Barangsiapa dapat merasakan lezatnya ilmu dan nikmatnya mengamalkannya, maka dia tidak akan begitu tertarik dengan harta yang dimiliki orang lain.

Syaikh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail Assyafar Al Anshari membacakan syairnya kepada Abi Hanifah: “Siapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memperoleh anugerah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menuntut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat.”

Boleh menuntut ilmu dengan niat dan upaya mendapat kedudukan di masyarakat kalau kedudukan tersebut digunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan untuk melaksanakan kebenaran, serta untuk menegakkan agama Allah. Bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, juga bukan karena keinginan hawa nafsu.

Hal itu perlu direnungkan oleh para penuntut ilmu, supaya ilmu yang mereka cari dengan susah payah tidak sia-sia. Oleh karena itu dalam mencari ilmu jangan punya niat untuk mencari dunia yang hina dan fana itu. Seperti kata syair: “Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah sihir yang dapat menulikan dan membutakan, mereka kebingungan tanpa petunjuk.”

Para ulama harus menjaga diri dari hal-hal yang dapat merendahkan martabatnya. Harus tawadhu’. Dan tidak tamak pada harta dunia.

Al-Ustadz Ruknul Islam, yang lebih populer dengan sebutan Al Adib mengalunkan gubahan syairnya:

Tawadhu’ adalah salah satu tanda atau sifat orang yang bertakwa. Dengan bersifat tawadhu’, orang yang takwa akan semakin tinggi maratabanya. Yang aneh adalah ujubnya orang yang tidak tahu keadaan dirinya apakah ia termasuk orang yang beruntung atau orang yang celaka. Atau bagaimana akhir umurnya, atau apa tempat kembalinya pada hari kiamat kelak, ke neraka atau ke surga. Sifat sombong itu merupakan sifat khusus Tuhan kita, maka hindari dan takutlah bersifat demikian.

Abu hanifah berkata, “Besarkan surban, dan lebarkan lengan baju kalian.” Beliau bekata demikian agar ilmu dan orang yang berilmu tidak diremehkan.

Para pelajar seharusnya membaca kitab wasiat karangan Abu Hanifah yang dipesembahkan kepada Yusuf Khalid Assimty, ketika ia kembali kepada keluarganya. Kitab tersebut juga sangat perlu dibaca oleh para pengajar atau guru, dan para pemberi nasihat, begitu kata Syaikh Imam Ali bin Abi Bakar Rahimahullah.

 

Dikutip dari:

Az-zarnuji. (2009). Terjemah Ta’alim Muta’allim. Surabaya: Mutiara ilmu.

Hakikat Ilmu, Hukum Mencari Ilmu, dan Keutamaannya

Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan.”

Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau muamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, “Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama Islam, Shalat misalnya. Read more