Singapura, 18 September 2016

Perjalanan dari Jakarta ke London kurang lebih ditempuh dalam waktu 15 jam. Namun demikian, pesawat yang kemarin aku naiki harus transit lebih dulu di Singapura selama kurang lebih dua jam. Ketika itu memang Garuda Indonesia dari Jakarta ke London belum memiliki direct flight ke London. Yang ada hanya direct flight dari London ke Jakarta, itu pun hanya ada pada hari-hari tertentu. Mulai Oktober 2017 kemarin, barulah maskapai kebanggaan Indonesia itu memulai direct flight-nya dari Jakarta menuju London. Aku menyambut baik terobosan itu.

Begitu mendarat, para penumpang diberikan voucher uang sebesar SGD 30 untuk belanja apapun di dalam bandara internasional Changi. Setelah mempertimbangkan ini itu, akhirnya aku membelanjakan voucher itu untuk membeli buku di salah satu store di bandara. Seperti biasa, semua harga di dalam bandara pasti akan jauh lebih mahal daripada harga di toko di luar bandara. Syukurlah, harga buku yang aku incar itu harganya pas SGD 30. Sepertinya memang yang punya toko tahu kalau kebanyakan penumpang hanya punya SGD 30. Hehe…

IMG_20160918_101333
Idham dan Aku berfoto di dalam bandara internasional Changi

Momen transit di Singapura kala itu merupakan momen pertamaku mengunjungi Singapura, meskipun hanya beberapa jam saja. Melihat bandara Changi yang megah itu aku sempat tak habis pikir bagaimana bisa (meminjam istilahnya Cak Nun) “negara kecamatan” itu bisa dengan cepat lebih maju daripada Indonesia yang kaya raya ini. Bahkan Indonesia dengan rendah hati “memberikan” kekayaannya ke mereka.

“Baiklah, mungkin karena itu negara menyekolahkanku,” pikirku.

Di Singapura aku bertemu beberapa kawan baru dari Indonesia yang juga sama-sama menuju London untuk berkuliah di kampus masing-masing. Mereka sengaja lebih dulu terbang ke Singapura dan menunggu pesawat yang aku naiki semalaman untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan ke London. Yang aku tahu, mereka sempat berjalan-jalan di sekitar bandara sambil menunggu pesawatku tiba dari Jakarta.

Beberapa diantara mereka sudah aku kenal sebelumnya, meski belum pernah bertemu secara langsung. Beberapa lainnya lagi baru pertama berkenalan di momen itu. Salah satu yang sudah aku kenal adalah Kak Shofi yang juga satu departemen denganku di UCL. Bedanya, aku mengambil jurusan MA Education (Psychology), Kak Shofi ambil jurusan MSc Psychology of Education. Yang kita pelajari sama saja, hanya saja karena Kak Shofi mempunyai background S1 Psikologi, beliau boleh mengambil jurusan MSc yang ujungnya nanti, selain mendapatkan ijazah, beliau juga berhak mendapatkan sertifikat sebagai psikolog pendidikan dari British Psychological Society (BPS). Dengan sertifikat itu, beliau boleh bekerja sebagai psikolog pendidikan di UK, namun tidak di Indonesia. Sedangkan saya yang S1-nya bukan psikologi, melainkan pendidikan (Bimbingan dan Konseling), hanya boleh mengambil jurusan MA Education (Psychology) dan tak mendapatkan sertifikat psikolog pendidikan dari BPS. Aku sendiri tidak begitu mempermasalahkan dualisme ini karena sepertinya aku tidak akan menjadi psikolog pendidikan. Tapi lagi-lagi, yang namanya masa depan siapa yang tahu. Hehe…

Akhirnya, pesawat Garuda Indonesia pun kembali membawa kami menyeberangi awan luas menuju London beserta mimpi-mimpi yang sebentar lagi akan kami wujudkan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s