IMG_20170327_133953 (1)
Kampus saya; University College London

Hari ini saya ingin berbagi rasa dan mungkin sedikit cerita mengenai fase kehidupan yang saya alami saat ini, khususnya berpuasa di bulan Ramadhan di negeri yang jaraknya lebih dari 7000 miles dari Indonesia ini. Ini murni dari pespektif subjektif saya ya, sebagai seorang mahasiswa yang tiap hari kerjaannya hanya tinggal menulis essay (semacam makalah) dan dissertation (kalau di Indonesia tesis S2). Semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Aamiinn…

Sebagaimana yang mungkin teman-teman tahu, waktu berpuasa di United Kingdom (UK) tahun ini sekitar 18 sampai 19 jam, tergantung daerah dan metode penentuan waktu salat yang dianut. Jika melihat daerah lain di dunia, mungkin UK belum seberapa jika dibandingkan Finlandia yang waktu puasanya hampir sehari penuh, 23 jam. Tetapi jika dibandingkan dengan Indonesia yang mungkin hanya sekitar 13 sampai 14 jam, puasa di UK menjadi hal yang mungkin dianggap lama bagi sebagian orang Indonesia.

Setiap hari shubuh dimulai dari sekitar pukul 3 pagi, dan semakin hari semakin maju, sekarang saja sudah pukul 2:45 pagi. Sebaliknya, waktu iftar (maghrib) dimulai sekitar pukul 9 malam, dan semakin hari justru semakin mundur, sekarang sudah pukul 9:17 malam. Hal ini disebabkan karena pada tahun ini, bulan Ramadhan di UK jatuh di musim panas (summer) yang mana waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya.

Berbicara soal summer, saya pribadi sempat kaget juga, bagaimana bisa pukul 8 malam langit masih terlihat terang benderang, dan di sisi lain, pukul 5 pagi matahari sudah menampakkan kegagahannya? Tapi lagi-lagi, itu semua memang sudah kuasa Allah sebagai manifestasi dari bentuk dari kasih dan sayang-Nya kepada makhluk di dunia.

Kembali ke soal puasa, saya melihat banyak teman-teman saya di UK ketika sebelum puasa bercerita dengan saudara dan kawan-kawannya melalui media sosial bahwa puasa kali ini 18 jam lamanya. Tak berbeda jauh dengan saya, saya pun seringkali ditanyai teman-teman dan sanak saudara mengenai durasi puasa di UK, seolah hal ini memang layak untuk dibahas. Namun dalam artikel ini saya tidak ingin menggerutu. Saya justru ingin mencoba mengetengahkan sisi positif dari kewajiban saya berpuasa selama 18 jam itu.

Tidak perlu berpikir soal makanan

Poin ini menurut saya merupakan poin positif karena memang saya tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan makanan. Banyak hal yang mungkin melatarbelakangi mengapa justru saya senang berlama-lama tidak memikirkan makanan, salah satunya karena kebiasaan saya yang cenderung makan ketika lapar.

“Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang,” begitu pitutur guru saya yang katanya diambil dari hadits Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kaitannya dengan hadist ini, saya menghormati teman-teman yang berpandangan bahwa hadits-nya “makanlah sebelum lapar”. Saya terus terang belum meneliti lebih lanjut mengenai hadist ini, tapi biarlah saya berpegang pada apa yang dikatakan guru saya itu.

Guru saya juga berpesan “Lapar itu baik, yang tidak baik itu kelaparan”. Selain itu, masih banyak hal lain yang menjadi alasan mengapa saya lebih senang berlama-lama tanpa banyak makanan, seperti bait dalam kitab Ta’alim Muta’allim yang mengatakan bahwa “Wahai para penuntut ilmu hiasilah dirimu dengan sifat wara’ (menjauhi barang syubhat), jauhilah tidur, KURANGILAH MAKAN, dan tekunlah belajar.” Mungkin ini terdengar bertentangan dengan ilmu kesehatan manapun, tapi saya justru mempercayainya. Saya juga belakangan baru tahu bahwa ketika puasa, sel-sel tubuh kita melakukan proses regenerasi (atau apa begitu) yang menjadikan tubuh kita lebih fit lagi.

Dengan tidak perlu repot-repot “Wah nanti makan sama apa ya?” atau “Wah gimana ya cara bikin sop buntut buat buka puasa ya?” atau apapun yang berkaitan dengan makanan, saya justru bisa lebih memanfaatkan waktu tersebut untuk hal-hal yang lebih produktif, membaca jurnal misalnya, atau menonton video edukatif di YouTube. Ya kalau lagi bosan, tidak jarang streaming film juga sih. J

Well, terlepas dari segala macam benefit mengenai puasa, jangan lupa bahwa puasa kita murni “Lillahita’ala” loh ya, bukan “agar badan sehat” atau “agar dipuji orang lain” atau bahkan “agar dipuji calon pasangan” Hehe…

Lebih bisa memanfaatkan waktu malam dengan baik

Jika dihitung, waktu malam di UK yang dimulai dari waktu maghrib dan berakhir di waktu shubuh ada sekitar enam jam. Nah, karena saya seorang mahasiswa yang sudah tidak punya kewajiban ke kampus tiap hari, maka waktu tidur saya berubah. Dari yang tadinya di malam hari sekarang menjadi setelah terbit matahari sampai menjelang waktu dhuhur. Itu artinya, sepanjang malam saya melek dan tidak ngantuk sama sekali.

Itulah kenapa kesempatan untuk memanfaatkan waktu malam terbuka lebar. ‘Memanfaatkan’ dalam konteks ini tentu beribadah kepada Allah ya, bisa dengan membaca quran, salat sunah, dan lain-lainnya. Tentu saya tidak perlu menjelaskan betapa istimewanya waktu malam, terlebih di bulan Ramadhan; pintu ampunan dan keberkahan dari Allah terbuka begitu lebar.

Saya malah sering berpikir bahwa kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qodr bagi orang-orang di UK terbuka lebar. Jika mengikuti tanda-tanda Lailatul Qodr yang mana jatuh pada sepertiga malam yang terakhir, maka itu berarti dimulai dari pukul 1 pagi hingga shubuh (pukul 3 pagi). Artinya, waktu untuk berkonsentrasi penuh untuk beribadah lebih singkat dong. Coba kalau di Indonesia, waktunya lama dan godaan untuk ngantuknya lebih banyak. Hehe…

Tapi, yang perlu digarisbawahi adalah semua itu baru perhitungan matematis manusia. Tentu perhitungan Allah, kapan Allah ingin kasih Lailatul Qodr, dan kepada siapa Allah memberikannya adalah murni rahasia dan hak prerogatif-Nya. Manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk mendapat ridho-nya. Bukan begitu?

Puasa Kualitatif, bukan Puasa Kuantitatif

Poin ini justru menurut saya paling penting dan melandasi poin-poin sebelumnya, bagaimana kita bisa berpuasa dengan menekankan pada esensi puasa itu sendiri. Di hari pertama puasa, di pengajian dan buka puasa bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), pembicara juga berbicara mengenai hal ini yang beliau beri judul “Puasa beyond Fiqh”. Intinya sama, bagaimana justru puasa kita bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga tapi mengerti dan mendapatkan apa yang menjadi tujuan diwajibkannya puasa Ramadhan.

Beliau berbicara banyak mengenai bagaimana menjadi orang yang bertakwa. Saya tidak akan membahas detail mengenai pengajian itu, akan tetapi poin-nya jelas; apakah kita mau puasa kita hanya menggugurkan kewajiban dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga? Tentu tidak. Maka kemudian kita dituntut untuk senantiasa menjaga mulut kita, pikiran kita, pandangan kita, pendengaran kita, semuanya.

Mungkin secara kasat mata ujian ini jauh lebih mudah bagi saya karena praktis puasa Ramadhan kali ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop ketimbang keluar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang, terlebih di UK yang mana cara berpakaian orang-orang di musim panas sedikit berbeda dari kebanyakan orang Indonesia. Tapi apakah saya bisa dengan PD-nya meng-oversimplify bahwa saya bisa melaluinya dengan mudah? Justru apa yang saya lakukan tiap hari bisa saja lebih buruk daripada orang yang harus berinteraksi dengan orang lain di waktu berpuasa di bulan Ramadhan.

Ada banyak hal yang mungkin selama ini luput dari pandangan materiil kita tapi justru itulah yang menjadi inti dari semuanya, semisal hati yang merasa paling baik/paling benar dibandingkan orang lain, memikirkan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain, atau diam-diam kita ingin hanya diri kita yang masuk surga dan membiarkan yang lain masuk neraka. Rasanya bukan seperti itu inti dari berpuasa.

Lalu puasa kualitatif itu seperti apa?

Nah, soal ini, tanyakan ke yang lebih mengerti dan lebih paham ya. Saya masih banyak belum tahunya dan masih belajar untuk terus menuju ke sana. Mari sama-sama belajar dan tidak saling menghakimi satu sama lain. Semoga puasa teman-teman semua berkah ya. Aamiinn…

London, 12 Ramadhan 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s