Pada waktu kecil dulu, aku seringkali “dimarahi” Ibu karena tak mengembalikan mainan ke tempatnya. Aku lebih senang mengeluarkan mainan dari kardusnya dan tak merapikannya kembali ke tempat asalnya. Parahnya, kebiasaan burukku itu juga terjadi ketika aku selesai makan, menonton TV, atau aktivitas rumah tangga lainnya. Teguran Ibuku masih sama, “Maasss… Dikemasi malih!” (Mas, dirapikan lagi).

Ketika masuk kuliah dan mulai hidup sendiri di kota Bandung yang jauh dari orang tua, aku mulai merasakan betapa nilai-nilai sederhana yang diajarkan orang tua amatlah berarti. Entah karena merasa bertanggungjawab atas diri sendiri atau karena efek dari merantau, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil semacam “mengembalikan sesuatu pada tempatnya.”

Hal ini sangat terasa ketika aku hidup berdampingan dengan orang lain di satu tempat. Masing-masing membawa dirinya beserta kebiasaannya ketika di rumah. Ada orang yang terbiasa membuang sampah pada tempatnya, namun ada juga yang menyelipkan sampah pada sela-sela pintu. Atau ada orang yang terbiasa mencuci piring setelah makan, ada juga orang yang meletakkan piringnya di tempat cuci piring begitu saja tanpa mencucinya.

Jika dilihat dari kacamata psikologi dimana manusia itu unik, maka ujung dari semua permasalahan adalah memakluminya. Namun jika dilihat dari kacamata Pendidikan Kewarganegaraan yang aku ingat ketika SD dulu dimana kita harus mementingkan kepentingan umum terlebih dahulu sebelum kepentingan pribadi, perkara “mengembalikan sesuatu pada tempatnya” tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika dibiarkan terus-menerus akan ada pihak-pihak yang secara psikologis dirugikan.

Aku selalu percaya, apa yang ditampilkan oleh kita merupakan gambaran dari bagaimana kondisi keluarga kita. Pendidikan bukan melulu hanya di sekolah, tapi pendidikan jauh lebih luas daripada itu semua. Ia merupakan sebuah integrasi dari banyak aspek dalam kehidupan, termasuk keluarga.

Jika merujuk kepada UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan dibagi menjadi tiga, yaitu: pendidikan formal, non-formal, dan informal. Pendidikan formal contoh paling gampangnya adalah sekolah formal yang kita tempuh dari TK/sederajat hingga SMA/sederajat. Pendidikan non-formal contohnya seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an di masjid-masjid atau sekolah minggu di gereja-gereja. Sedangkan pendidikan informal contohnya adalah proses orang tua mendidik anaknya. Bagaimana nilai-nilai ditanamkan kepada masing-masing anggota keluarga melalui berbagai macam cara, bisa melalui lisan maupun dengan memberikan contoh.

Perkara “mengembalikan sesuatu pada tempatnya” juga menurutku ada kaitannya dengan tiga nilai dasar dalam hidup, yaitu: benar, baik, dan indah. Perkara ini menurutku sudah pada tingkatan yang paling tinggi, yaitu indah. Secara naluri aku pikir sebagian besar orang akan menyukai keindahan. Dalam hal ini, apabila segala sesuatu rapi dan sesuai dengan tempatnya, maka akan menciptakan keindahan yang enak dipandang mata.

Pertanyaanku kemudian adalah apakah nilai sederhana ini juga berasosiasi dengan logika berpikir dalam meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya? Misalnya apabila seseorang mendapatkan sebuah pengetahuan ataupun pendapat dari orang lain mengenai satu hal, apakah ia serta merta akan memakai pengetahuan itu dalam bidang lain tanpa terlebih dahulu meneliti kesamaan konteks dan setting-nya sehingga menyebabkan adanya generalisasi buta sebagai bentuk kesalahan berpikir secara ilmiah?

London, 5 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s