img-20170304-wa0009
Foto sesaat sebelum tampil

Halo mbak, apa sudah terpenuhi penarinya?” isi chat-ku ke mbak Mita tanggal 6 Desember 2016.

Chat-ku itu didasari karena beliau (mbak Mita: red) mem-post sesuatu di grup mahasiswa Indonesia di University College London (UCL) yang intinya membutuhkan penari laki-laki untuk masuk ke dalam tim Tari Dayak. Awalnya aku sempat ragu karena merasa kaku jika diminta menari. Namun setelah diyakinkan oleh mbak Mita dan berbekal keyakinan untuk juga ikut serta melestarikan budaya bangsa, akhirnya aku putuskan untuk ambil bagian dari tim itu. Belakangan aku tahu ternyata bukan cuma aku dan mbak Mita yang masuk ke dalam tim tari ini. Ada satu laki-laki yang juga sama-sama kuliah di UCL yang akan melengkapi tim menjadi tiga orang yang terdiri atas 2 laki-laki dan 1 perempuan. Dia bernama Wahyu.

Mbak Mita juga memberitahuku bahwa tim tari ini akan tampil di acara “Indonesian Night” yang dihelat oleh “Indonesian Society Imperial College London (ICL)” pada tanggal 4 Maret 2017. Event ini diadopsi dari novel best seller Indonesia berjudul “Laskar Pelangi”. Oleh karena itu, event itu kemudian diberi judul “Pelangi” sebagai representasi dari cerita drama musical yang disajikan.

Aku tertarik dengan cara mbak Mita membangun chemistry antara kami bertiga. Aku ingat betul pada saat pertama kami bertiga bertemu, kami berdiskusi panjang lebar mengenai alasan kita kuliah di London hingga mimpi-mimpi kita ke depan. Kita bertiga memiliki persamaan yang kentara, sama-sama awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kuliah di UCL. Sebagaimana aku tahu, jika kita mau membangun percakapan yang long-lasting, carilah terlebih dahulu persamaan antara kita dan lawan bicara kita, dan ini mungkin yang dipraktikkan mbak Mita kepadaku dan Wahyu kala itu, meskipun mungkin beliau tidak menyadarinya.

Tarian yang akan kami bawakan bernama Tari Bahuma. Tarian ini bercerita mengenai kehidupan masyarakat suku Dayak yang sebagian besar kegiatannya adalah berladang dan mencari ikan. Tarian ini juga merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan dalam bentuk hasil ladang maupun tangkapan ikan. Belakangan juga aku tahu bahwa Tari Bahuma ini merupakan hasil kreasi dari mbak Mita sendiri yang memang masih keturunan suku Dayak, tepatnya Dayak Kayan.

Aku salut dengan semangat yang ditunjukkan mbak Mita untuk melestarikan budayanya sendiri. Beliau sengaja membawa baju adat Dayak pada saat berangkat kuliah ke London karena beliau ingin satu atau dua kali tampil menari memperkenalkan budaya Dayak kepada warga dunia. Pikirannya hampir sama denganku. Aku sempat punya niatan untuk setidaknya menguasai satu kesenian tradisional Jawa sebelum berangkat ke London. Alasannya simple, kalau di London ada kesempatan, aku bisa menunjukkan kepada dunia mengenai budayaku sendiri. Tapi keinginan itu gagal karena waktu persiapan keberangkatan menuju London sangat mepet sehingga harus menentukan prioritas yang lebih essential.

Kembali ke Tari Bahuma, kami sepakat untuk berlatih seminggu dua kali selama masing-masing dua jam. Dalam perjalanannya, kami sempat berpindah-pindah tempat latihan. Pada waktu-waktu awal, kami berlatih di rumah mbak Mita, kemudian belakangan kami lebih konsisten berlatih di salah satu ruangan di ICL yang disewa Indonesian Society sebagai tempat latihan. Biasanya kami berlatih hari Senin dan Jumat malam, dari pukul 19.00 s.d. 21.00 GMT.

Meskipun overall durasi tarian tidak sampai empat menit, namun demi membuat gerakan kami padu dan natural bukanlah perkara muda. Aku sendiri merasa akulah yang paling sulit untuk mengikuti gerakan yang dicontohkan mbak Mita. Lagi-lagi aku terlihat sangat kaku. Tapi setiap kali aku merasa down, teman-teman selalu memberiku semangat. Mereka juga tidak serta-merta men-judge aku sebagai orang yang tak berkompeten dalam menari. Mereka paham bahwa semuanya memerlukan proses dan ini adalah proses yang harus dijalani dengan ketekunan.

Dalam perjalanannya, kami juga tak melulu hanya latihan dan latihan. Ada kalanya kami sengaja pergi makan bersama untuk sekedar menikmati malam bersama dan berbagi ide mengenai beberapa hal. Lucunya, di salah satu makan malam kami, kami sempat mengutarakan mimpi kami masing-masing. Intinya, diantara kami bertiga, ada yang ingin menjadi walikota, ada yang ingin menjadi gubernur, dan ada yang ingin menjad menteri. Aku tidak akan sebutkan siapa ingin menjadi siapa, silakan tebak-tebak sendiri. Namun intinya yang kami kejar bukanlah jabatannya, melainkan kontribusi untuk membuat semuanya menjadi lebih baik.

Menurutku diskusi semacam itulah yang kemudian menguatkan kami sebagai mahasiswa dan sebagai tim untuk terus maju menghadapi tantangan. Aku percaya bahwa tidak ada orang yang semangatnya selalu terjaga. Ada kalanya ia merasa down dan tidak mempunyai semangat hidup. Salah satu jalan untuk merenungi kembali tujuan utama mengapa kita menjalani semua ini ya dengan diskusi semacam itu. Terlebih kami bertiga juga sama-sama perantau, tentu berdiskusi dengan sesama orang Indonesia akan semakin gayeng dan tak perlu repot-repot menjelaskan background masing-masing.

Selama latihan, kami seringkali ditemani dua orang yang tak lain adalah leader dari acara Indonesian Night, yaitu: Willie dan Anty. Mereka berdua benar-benar anak muda yang penuh semangat. Berbeda dengan kami, mereka sedang menempuh studi Undergraduate di ICL. Aku melihat mereka benar-benar bekerja keras demi kesuksesan acara “Pelangi” ini. Salut!

Finally, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tanggal 4 Maret 2017 kami sudah berkumpul di ICL sejak pukul 13.00 untuk melakukan beberapa persiapan seperti rehearsal, make-up dan getting familiar with the stage. Kami hanya sempat menjajal stage sekali pada saat running through. Meskipun begitu, kami merasa cukup karena tidak ada masalah yang berarti yang kami temui selama proses itu.

Sekitar pukul 22.00 kami tampil. Aku pribadi alhamdulillah tak merasakan grogi yang sangat berarti. Aku menikmati moment demi moment dimana kakiku melangkah maju memasuki panggung di depan ratusan orang. Dan, that’s it. Kami alhamdulillah berhasil melaluinya dengan baik. Applause dari penonton begitu kami turun panggung menjadi akhir yang manis bagi kami. Setidaknya penonton mengapresiasi apa yang sudah kami upayakan selama ini, dan tentunya mereka sadar bahwa di Indonesia ada Tarian dari Suku Dayak dengan karakteristik yang kami bawakan di panggung tadi.

Lega, puas, bahagia, menjadi satu. Benar bahwa mungkin kami masih amateur dibandingkan dengan penari-penari professional tanah air, tapi misi kebudayaan yang kami usung menjadi semangat untuk menghancurkan kekhawatiran yang ada pada diri kami. Aku sangat senang dan bersyukur bisa menjadi bagian dari tim ini.

img_20170304_204550_hdr
Foto sesaat sebelum tampil

Terima kasih untuk mbak Mita yang sudah mengajakku bergabung di tim ini. Aku juga berterima kasih kepada Wahyu yang selalu menjadi partner terbaik dikala kami sama-sama “membully” mbak Mita. Hehe…

Tak lupa, aku juga merasa sangat bangga bisa menjadi bagian dari Indonesian Night “Pelangi” tahun 2017. Congratulations buat semua panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini. Kalian luar biasa. Indonesia patut berbangga bahwa generasi mudanya masih peduli dan bersemangat untuk mengenalkan budaya bangsa kepada dunia luar. Semoga semangat ini tetap terjaga dan menular kepada generasi muda lainnya. Aamiinn…

Kurang lebih video penampilan kami seperti ini

N.B. Anyway, beberapa orang bilang aku kurusan, benarkah? Hehe…

London, 5 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s