9ywteygozb
Foto pada saat peresemian Institut BPJS Ketenagakerjaan 28 Oktober 2015

Kesempatan itu datang

Setelah lulus dari Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), aku berniat melanjutkan pendidikan S2.

“Ya mimpinya sih lanjut ke luar negeri, tapi minimal S2 di dalam negeri dulu lah,” pikirku.

Berbekal niat dan keyakinan, aku berangkat menuju Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur untuk memperdalam kemampuan Bahasa Inggrisku. Aku sadar, waktu itu kemampuan Bahasa Inggrisku sangat-sangat basic, bahkan mungkin low basic (meskipun sekarang juga sepertinya masih begitu :D). Maka aku bertekad untuk memulai belajar Bahasa Inggris dari nol lagi.

Kisahku mengenai bagaimana belajar di Kampung Inggris bisa teman-teman baca di sini.

Ketika dirasa cukup, aku kembali ke Bandung untuk mempersiapkan proses pendaftaran S2 di UPI. Waktu itu belum ada rencana yang pasti mau daftar beasiswa apa dan akan kuliah ke negara mana. Jadi yang ada di dalam pikiranku ya UPI dulu lah. Hehe…

Ketika sudah beberapa hari stay di Bandung, pada suatu hari aku berkunjung ke ruang dosen. Di ruangan itu ada beberapa dosen pembimbing yang sudah kenal cukup dekat denganku. Salah satu dosen pembimbingku tiba-tiba menawariku sebuah lowongan pekerjaan.

“Caesar, mau enggak daftar jadi karyawan BPJS Ketenagakerjaan?”

Aku sempat bertanya, “BPJS Ketenagakerjaan itu apa ya, Bu?” terus terang saja aku tak tahu menahu mengenai institusi yang satu ini.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan adalah sebuah badan pemerintah yang merupakan bentuk transformasi dari PT. Jamsostek (Persero).

“Oh… Jamsostek,” batinku.

Lucunya, aku sempat dengan polosnya menolak tawaran itu.

“Enggak dulu deh, Bu.”

Aku teringat ketika orang tuaku yang tetap mendorongku lanjut kuliah dibanding mendaftar calon Pegawai Negeri Sipil sebagai Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Tapi pada akhirnya keyakinanku tergoyahkan ketika dosen bertanya, “Yakin enggak mau coba dulu?”

Dosen lain di ruangan itu ikut menimpali, “Caesar, take it or leave it!”

Ah, sepertinya beliau tahu kalau anak didiknya ini suka sekali tantangan.

Akhirnya aku meminta waktu sejenak bertanya kepada Ibu. Bagiku, Ibu merupakan pintu terakhir ketika aku menemui kesulitan dalam memutuskan sesuatu. Aku bahkan yakin, segala macam pencapaian dalam hidupku hingga saat ini juga tak lain karena restu dari Ibu. Di agamaku, doa Ibu untuk anaknya selalu didengar Tuhan. Maka aku tak segan-segan untuk berdiskusi dengan Ibuku untuk hal-hal yang akan berpengaruh besar bagi hidupku.

Aku ingat waktu itu aku mengirim pesan singkat ke beliau. Tahun 2014 Ibuku belum familiar dengan Whatsapp. Jadi aku hanya mengandalkan SMS ataupun telepon untuk berkomunikasi dengannya.

Ternyata, respon yang aku terima benar-benar di luar dugaan. Awalnya aku mengira Ibu akan lebih condong untuk tetap melanjutkan kuliah, tapi justru kali ini Ibu mendorongku untuk mencoba kesempatan dari BPJS Ketenagakerjaan ini. Beliau bahkan langsung membalas pesanku melalui telepon.

“Dicoba saja dulu mas. Itu kesempatan langka,” begitu suaranya dari pinggiran kota Cilacap sana.

Aku berubah haluan. Yang awalnya aku biasa-biasa saja menanggapi tawaran itu, kini aku kembali ke dosenku, “Saya coba ya, Bu.”

Aku pulang sambil membawa selembar fotokopi surat dari BPJS Ketenagakerjaan.

Sore harinya, sesuatu yang cukup langka terjadi. Bapakku tiba-tiba menelepon dan memberikan dukungan.

“Dicoba saja, Mas. Bapak Ibu mendoakan dari sini.”

Aku semakin yakin untuk melangkah. Betapa tidak, Bapakku yang biasanya tak banyak bicara, terutama mengenai aspek akademikku, kini tiba-tiba memberikan dukungan, melalui telepon pula.

“Mungkin ini restu dari Allah,” batinku.

Tentang Rekrutmen

Jadi, tawaran yang aku terima waktu itu bukan tawaran menjadi karyawan BPJS Ketenagakerjaan melalui jalur regular. Mungkin ini bisa dikatakan program khusus. Nama programnya “University Best Alumnus (UBA)”, meskipun sebenarnya aku juga tak “best best” amat. 😀

Program ini diberikan kepada 11 Universitas di Indonesia yang belakangan aku tahu bahwa masing-masing universitas itu mewakili wilayah kerja BPJS Ketenagakerjaan di Indonesia yang juga jumlahnya ada 11. Berikut rinciannya:

  1. Sumatera Bagian Utara (Sumbagut)

Diwakili oleh Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH)

  1. Sumatera Barat dan Riau (Sumbariau)

Diwakili oleh Universitas Riau (UNRI)

  1. Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)

Diwakili oleh Universitas Lampung (UNILA)

  1. DKI Jakarta

Diwakili oleh Universitas Indonesia (UI)

  1. Banten

Diwakili oleh Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)

  1. Jawa Barat

Diwakili oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

  1. Jawa Tengah

Diwakili oleh Universitas Sebelas Maret (UNS)

  1. Jawa Timur

Diwakili oleh Universitas Airlangga (UNAIR)

  1. Kalimantan

Diwakili oleh Universitas Tanjungpura (UNTAN)

  1. Sulawesi dan Maluku

Diwakili oleh Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT)

  1. Bali, Nusa, dan Papua

Diwakili oleh Universitas Pattimura

Dari 11 universitas di atas, Pihak management BPJS Ketenagakerjaan telah menentukan jurusan-jurusan apa saja yang diperbolehkan mendaftar, dan masing-masing universitas hanya boleh mengirimkan delegasinya maksimal 10 orang. Untuk UPI sendiri, yang diminta mengirimkan wakilnya adalah Program Studi Bimbingan dan Konseling dan Program Studi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

Uniknya, pada proses rekrutmen tersebut, pihak BPJS Ketenagakerjaan tidak menentukan posisi yang akan kita apply. Yang harus kita lakukan hanyalah mendaftar sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Aku sendiri lupa apa saja syarat pendaftarannya, namun yang aku tahu di antaranya: memiliki IPK di atas 3, lulus tepat waktu (fresh graduate), dan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni (dibuktikan dengan sertifikat TOEFL).

Proses seleksi

Kabar mengenai rekrutmen dari BPJS Ketenagakerjaan seketika menyebar di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa di Program Studi BK. Kalau tidak salah, ada sekitar 10 mahasiswa dari prodiku yang mendaftar dalam proses rekrutmen itu. Singkat cerita, terpilihlah 8 orang yang mewakili UPI; 5 orang dari prodiku dan 3 orang dari prodi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

Pada tahap ini aku mulai merasakan manfaat apa yang sejak lama aku usahakan. Aku pernah mendengar Prof. Yohanes Surya mengemukakan konsep “Semesta Mendukung” (Mestakung). Intinya, jika kita punya impian yang ingin dicapai, dari jauh-jauh hari kita harus sudah mempersiapkan penunjang yang akan membantu kita ketika kesempatan itu datang. Dalam kasusku, aku bersyukur sudah memiliki sertifkat TOEFL sehingga mempermudah dalam proses mempersiapkan persyaratan administrasinya. Belakangan, sertifikat TOEFL itu juga mengantarkanku untuk bisa menjadi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk kuliah ke luar negeri. Nanti kapan-kapan aku cerita ya soal ini, insyaallah. 😀

Setelah melalui tahap seleksi di tingkat universitas, aku mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jakarta untuk proses seleksi selanjutnya. Di tahap ini, kami, para pendaftar harus mau mengambil risiko. Bagaimana tidak, biaya transportasi dan akomodasi untuk pergi ke Jakarta tidak ditanggung BPJS Ketenagakerjaan. Kami harus memutar otak untuk setidaknya bisa survive dan berkelana di ibukota NKRI itu. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu penyebab beberapa orang kemudian memutuskan untuk tidak berangkat ke Jakarta meskipun sudah terpilih untuk mewakili kampusnya masing-masing.

Bagiku, pergi ke Jakarta juga bukan hal yang sederhana. Satu, aku termasuk orang yang sangat ndeso dan kuper. Sebelumnya, aku hanya pernah ke Jakarta sekali, itu pun waktu SMP karena ikut rombongan sekolah budhe-ku yang berwisata Ancol. Pernah sekali ketika kuliah, tapi itu pun hanya numpang lewat saja karena tujuan utamanya ke kota Tangerang Selatan. Literally, itu bukan Jakarta kan? Hehe…

Di sisi lain, aku juga tak punya banyak saudara yang bisa aku tumpangi di Jakarta. Aku beruntung salah satu delegasi dari UPI rumahnya di pinggiran kota Jakarta dan beliau bersedia menampung aku dan teman-teman lainnya.

Berbeda dengan rekrutmen regular yang biasa dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan, proses seleksi yang aku lalui relatif lebih singkat. Jika seleksi regular harus melalui kurang lebih 9 tahap, seleksi yang aku jalani ini mungkin tak lebih dari 6 tahap untuk bisa diterima menjadi karyawan tetap. Di Jakarta itu, aku menjalani empat tahap tes, yaitu: Psikotest, Leaderless Group Discussion (LGD), Interview Psikologis, Interview User, dan Tes Kesehatan. Kesemuanya itu dibagi menjadi tiga hari berturut-turut.

Untuk mempersiapkannya, aku mulai mencari tahu lebih dalam mengenai BPJS Ketenagakerjaan melalui internet, mulai dari proses bisnis yang dijalankan, bagaimana sistem kerja yang dilakukan, hingga besaran gaji yang ditawarkan. Khusus yang terakhir, aku sengaja mencarinya bukan sebagai motivasi semata, tetapi untuk mempersiapkan apabila ini ditanya oleh user nanti. Oh iya, jangan bertanya kepadaku mengenai hal ini karena aku tak akan mau menjawabnya. 😀

Hari itu pun tiba. Aku bersama teman-teman yang menginap di salah satu rumah kawanku berangkat pagi-pagi sekali. Sedikit challenging karena kita harus menembus kemacetan Jakarta yang semua orang sudah tahu seperti apa menyiksanya. Lucunya, karena sadar bahwa ongkos taksi lumayan mahal, kami berlima terpaksa memesan satu taksi. Karena aku laki-laki sendiri dan keempat temanku itu perempuan maka terpaksa aku duduk di depan dan mereka duduk di kursi belakang selama kurang lebih satu setengah jam. Aku sebenarnya juga tak tega, tapi apa mau dikata, aku laki-laki. Yang bisa aku lakukan hanya memajukan kursiku sedikit ke depan untuk memberi ruang lebih luas di bangku bagian belakang.

Kami sedikit salah strategi. Pada pagi hari dimana kami harus menuju tempat seleksi, kami hanya sempat sarapan roti tawar meskipun sebenarnya orang tua temanku sudah memasakkan untuk kami semua. Setelah itu, kami harus bergegas pergi menuju lokasi agar tak terlambat sampai sana. Benar saja, di perjalanan kami sempat dibuat panik dan terus-menerus memanjatkan doa agar tak terlambat sampai lokasi. Aku pribadi tak mengira macetnya Jakarta di pagi hari sebegitu parahnya. Empat tahun di Bandung, rasa-rasanya aku jarang melihat kemacetan separah Jakarta. Namun alhamdulillah kami sampai lokasi setengah jam lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Setidaknya kami masih punya sedikit waktu untuk mempersiapkan semuanya.

Hari pertama kami menjalani tes psikologis, LGD, dan interview psikologis. Efek dari hanya sarapan roti tawar di waktu shubuh mulai terasa ketika memasuki pertengahan. Energi yang dihasilkan dari roti tawar benar-benar terkuras habis untuk berkonsentrasi mengerjakan tes psikologis yang aduhai panjangnya itu. Namun alhamdulillah kami semua mampu menahannya hingga break makan siang tiba.

Setelah break, LGD dan interview dengan psikolog dilakukan hingga menjelang sore hari. Begitu semua proses seleksi di hari pertama selesai, kami diminta untuk melihat papan pengumuman yang memaparkan jadwal beserta lokasi dimana kami harus menjalani tes kesehatan esok hari.

Keesokan harinya, kami menuju lokasi tempat tes kesehatan dilakukan. Aku dan teman-teman dari UPI dialokasikan di salah satu klinik terkenal di Indonesia. Kami mengikuti serangkaian tes kesehatan yang sangat lengkap. Aku lupa apa saja yang dites, tapi yang pasti itu adalah tes kesehatan terlengkap yang aku pernah jalani.

Hari terakhir, kami diminta berkumpul di kantor pusat BPJS Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto No, 79 Jakarta untuk melakukan interview user dengan tim yang telah ditunjuk dari pihak management. Kami di-interview di sebuah ruangan oleh dua orang karyawan BPJS Ketenagakerjaan.

Alhamdulillah kami bisa melalui tahapan seleksi dengan baik. Yang bisa kami lakukan selanjutnya hanyalah tawakal kepada Allah dan berharap hasil yang terbaik.

Aku pribadi sungguh sangat berterima kasih kepada temanku berserta keluarganya yang bersedia menampung aku dan teman-teman lainnya selama proses seleksi. Kami sudah diberi tempat tidur, disediakan makan, disurvey-kan tempat seleksinya, dan pagi harinya kami dicarikan taksi agar bisa mencapai tempat seleksi tepat pada waktunya. Jika tidak ada beliau, aku tidak akan tahu akan menginap dimana selama berada di Jakarta. Sekali lagi, terima kasih.

Sambil menunggu hari pengumuman, aku memilih untuk stay di Cilacap. Harap-harap cemas tentu menghinggapi hari-hariku. Pada fase itu, aku benar-benar merasakan betapa membosankannya menjadi orang yang tak punya kegiatan yang pasti kecuali makan dan tidur. Pada titik ini, kita – yang memiliki aktivitas rutin yang dilakukan baik setiap hari ataupun beberapa hari sekali – patut bersyukur. Betapa banyak orang yang sampai saat ini pun masih belum memiliki pekerjaan yang tetap. Mungkin salah satu dari pembaca tulisan ini juga sudah hampir muak menjadi unemployed. Aku doakan semoga segera mendapatkan pekerjaan yang terbaik sehingga bisa menjadi media untuk mengaktualisasikan diri. Aamiinn…

img-20140704-wa0003
Foto sesaat setelah mengikuti tahapan Interview User di Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan

Hari pengumuman

Hari itu pun tiba. Sejak pagi hari aku sudah menantikan email ataupun sms pemberitahuan mengenai hasil seleksi yang sudah aku lalui. Memang ini bukan pengumuman final, masih ada tahapan selanjutnya seperti Orientasi Persiapan Kerja dan On Job Training, namun setidaknya inilah pintu gerbang utama untuk mewujudkan mimpi menjadi bagian dari BPJS Ketenagakerjaan.

Aku ingat betul kira-kira pukul 10 malam, handphone-ku berdering. Pemberitahuan bahwa pengumuman seleksi sudah di-upload di website dan aku harus segera login ke website rekrutmen untuk mengetahui hasilnya. Deg-degan pasti, antara penasaran dan takut menjadi satu.

Aku login menggunakan laptop di rumah. Aku masukkan username dan password-ku di website itu.

dan…

ANDA DINYATAKAN LULUS DAN BERHAK MENGIKUTI ORIENTASI PERSIAPAN KERJA

“Alhamdulillah… Bu, lulus!” teriakku dari dalam ruangan dekat dapur.

Bapak Ibuku yang waktu itu belum beranjak tidur dan masih menonton TV di ruang keluarga berhamburan menghampiriku. Adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar bingung harus berkespresi seperti apa.

“Alhamdulillah… Sujud syukur, mas. Sujud syukur!” Ibuku merespon sambil matanya berkaca-kaca.

Momen itu merupakan salah satu momen yang paling aku ingat hingga saat ini. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Doa dan usaha yang kami lakukan benar-benar dikabulkan Allah swt.

Dalam sujudku aku berkata lirih dalam hati, “Ya Allah, terima kasih. Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluargaku malam ini. Semoga ini yang juga Engkau ridhoi untukku dan keluargaku. Semoga Engkau senantiasa menjaga dan melindungiku untuk tetap melangkah ke tahapan selanjutnya. Aamiinn…”

Belakangan aku baru tahu bahwa dari lima mahasiswa BK yang dikirim, hanya aku dan satu temanku yang lulus. Perwakilan dari Prodi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan malah tidak ada yang lulus satupun. Sedih rasanya mengetahui fakta ini. Padahal aku sudah membayangkan akan bisa bekerjasama dengan mereka di tempat kerja, namun nyatanya Allah berkehendak lain. Semoga Allah senantiasa melindungi mereka. Aamiinn..

Orientasi Persiapan Kerja (OPK)

Selang beberapa lama dari hari pengumuman itu, aku harus menjalani serangkaian proses seleksi lanjutan. Kali ini namanya Orientasi Persiapan Kerja atau biasa disingkat OPK. Berbeda dengan proses seleksi sebelumnya, kali ini aku diminta untuk datang ke sebuah tempat pelatihan selama kurang lebih 10 hari untuk diberikan pelatihan agar lebih mengenal mengenai proses bisnis BPJS Ketenagakerjaan. Meski tiket dari tempat asal hingga tempat tujuan tidak ditanggung, namun akomodasi selama 10 hari itu sudah disediakan oleh pihak management.

Waktu itu OPK angkatanku diselenggarakan di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) Jakarta Selatan. Aku yang jarang menginap di hotel sungguh girang menginap selama 10 hari di sebuah tempat pelatihan dengan makanan yang selalu tersedia tiga kali dalam sehari. Dasar ndeso! Haha…

Aku dan 24 orang lainnya, plus 4 orang pro-hire mengikuti kegiatan pelatihan itu dengan antusias. Hidup satu atap selama 10 hari membuat kami semakin dekat dan tercipta hubungan layaknya keluarga. Jumlah peserta yang tidak sampai 30 orang membuat kami lebih mudah mengenal satu sama lain, meskipun pada awalnya kami tetap kesusahan mengingat nama satu sama lain. 😀

Hari Penempatan

Tanggal 22 Mei 2014 kira-kira pukul 10 pagi, aku diminta untuk membuka kembali website rekrutmen. Sedikit tegang karena inilah hari dimana aku akan tahu tempat kerjaku selama masa On Job Training (OJT). Aku bahkan harus siap jika memang management menghendakiku untuk mulai bekerja sebagai Calon Karyawan di Kantor Cabang Sorong misalnya, karena aku sudah tanda tangan surat pernyataan siap ditempatkan dimanapun di seluruh Indonesia. Ya, memang begitu aturannya.

Sebelum membuka website, aku bertanya kepada Ibu, “Bu, siap menerima semua keputusannya ya?”

“Iya lah pasti,” jawab Ibuku sambil menunjukkan raut muka yang sudah tak sabar.

Di layar laptop tertulis:

Anda dinyatakan lulus dan berhak mengikuti masa percobaan sebagai Calon Karyawan BPJS Ketenagakerjaan, dengan penempatan pada:

Job Title : Penata Madya Penyelenggaraan Pengembangan SDM

Unit Kerja : Biro Pengelolaan & Pengembangan Kompetensi – Gedung Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan

Ibuku yang sedari tadi berada di sampingku begitu bersyukur tapi juga setengah tak menduga.

“Alhamdulillah, Nak! Kantor Pusat ya? Jakarta? Ya Allah anak ibu mau tinggal di Jakarta. Tapi ibu bersyukur setidaknya masih di pulau Jawa.”

Aku bisa memahami perasaan seorang Ibu yang akan ditinggal merantau lagi oleh anak sulungnya. Empat tahun tinggal di Bandung untuk kuliah, kini harus pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah. Tapi ya begitulah suratan takdir. Kadang kita tak pernah menduganya. Namun aku selalu percaya jika kita menghikmahinya, insyaallah semuanya akan menjadi semakin berkah. Aamiin..

Pesanku

Bagi teman-teman pembaca yang sedang mengusahakan sesuatu, baik dalam proses mendaftar sebagai calon karyawan BPJS Ketenagakerjaan ataupun di institusi lain, aku hanya ingin menekankan untuk tidak melupakan orang tua. Selain doa dan usaha yang teman-teman lakukan, mintalah restu dari orang tua terutama ibu. Percayalah bahwa semua itu akan membuat kita lebih tenang dan terkadang hal-hal baik yang tak disangka terjadi begitu saja. Jangan sekali-kali meragukan doa dari Ibu!

Akhirnya, puncak dari kesuksesan umat manusia adalah tercapainya kesesuaian antara keingingan kita dan kehendak Tuhannya. Aku doakan semoga teman-teman semua senantiasa sukses dalam meraih mimpi-mimpi mulianya itu. Aamiinn…

London, 2 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s