Mengapa kau gaduh sekali sedangkan bumi juga tetap saja berputar pada kecepatan yang relatif konstan? Mengapa kau ini selalu tergopoh-gopoh padahal yang kau kejar itu juga tetap saja di tempatnya? Kau tak menikmati moment demi moment dalam hidupmu.

Lihat saja pikiranmu sekarang. Sementara kau membaca tulisan ini, beberapa detik lagi kau sudah membayangkan sedang berada di tempat lain melakukan aktivitas yang sudah kau rancang sebelumnya namun tak kunjung kau lakukan. Kau diburu-buru waktu yang padahal waktu sendiri juga biasa-biasa saja dalam bergerak.

Pernahkah kau berhenti sejenak dan merasakan kulit kakimu bagian bawah sedang bersentuhan dengan alas kaki yang kau kenakan saat ini? Atau berhenti sejenak sekedar untuk meresapi nafas dan detak jantung yang ternyata tak pernah berhenti itu? Atau jangan-jangan kau juga tak ingat ada orang di sebelahmu yang kalau kau tak diingatkan kau juga tak akan peduli dengannya?

Aku kemarin menonton kembali film “The Social Network” yang menceritakan kisah Mark Zuckerberg, salah satu miliarder muda di dunia saat ini berkat kegigihannya dalam mengembangkan situs jejaring sosial bernama “Facebook”. Di jaman sekarang, sepertinya mustahil orang-orang perkotaan tak tahu dengan situs jejaring sosial yang satu itu. Banyak orang juga kemudian menjadikan si Mark ini sebagai salah satu gambaran anak muda yang sukses di abad ini. Tapi benarkah ia sukses?

Aku tak akan mengulas mengenai kehidupan pribadi si Mark. Dari film yang aku tonton kemarin itu, aku berpikir, “Jika perjalanan Mark dalam membangun perusahaan raksasa bernama ‘Facebook’ itu merupakan gambaran sukses di zaman sekarang, apakah semua orang yang ingin sukses harus mencontoh apa yang dilakukan si Mark dalam film itu?” Masih bingung? Begini konkretnya.

Aku melihat Mark ini setiap hari kerjaannya selalu coding, coding, dan coding. Wajahnya selalu didera kegelisahan dan sepertinya sulit untuk sekedar tertawa menikmati suasana. Tidur pun sekenanya saja, satu jam, dua jam. Sisanya, ya coding dan coding lagi.

Nah, merujuk ke pertanyaan sebelumnya, “Apakah semua orang harus seperti itu, mengurusi pekerjaannya sepanjang waktu, tidur tak menentu, dan hampir tak punya waktu untuk menikmati momen bersama keluarga?” Khusus yang terakhir ini, aku merujuk pada fase kehidupan Mark ketika masih berjuang mengembangkan “Facebook” ya, bukan saat sudah ‘sukses’ seperti sekarang ini.

“Ah, Sar. Kau ini naif sekali. Itu kan juga kembali kepada niatan masing-masing orang. Ya biarkan saja kalau ada orang yang mau kaya Mark,” suara itu menyelingi.

Sekali lagi, aku tidak sedang menyalahkan atau nyinyir dengan kehidupan si Mark. Aku hanya bertanya, “Apakah semua orang harus seperti Mark?”

“Ya sebenarnya kegaduhan yang kau maksud itu juga kan datangnya baru-baru ini saja, Sar,” suara itu kembali datang.

“Lihat saja di linimasa social media-mu sekarang, orang-orang sibuk mengurusi apa yang sebenarnya mereka tak tahu. Ada banyak sekali aspek kehidupan yang bersarang di pikirannya. Politik lah, agama lah, pencitraan lah, dan masih buanyak lagi yang lainnya. Belum lagi sekarang ada kewajiban dalam diri mereka untuk menjadi orang pertama yang membagikan informasi kepada khalayak jika informasi itu dirasa penting. Mereka berasumsi bahwa semua orang belum pernah tau ada informasi semacam itu. Lucunya lagi, fenomena ini sekarang menjadi tagline akun yang ingin mengejar popularitas. Mereka menggunakan slogan ‘Like, Comment, and Share’. Parahnya, banyak juga yang menuruti slogan itu. Dunia ini tambah lucu ya, Sar! Hahaha…”

“Kau ini gaduh sekali, Suara!” kataku dalam hati.

Bersambung… (mungkin)

London, 26 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s