Tiba-tiba kalut itu menjelma menjadi sepi yang tak terperi, kehampaan dalam ruang kosong tanpa ujung. Ia merasuk melalui ubun-ubun kepala, melewati kerongkongan yang kering, hingga berakhir di telapak kaki yang tak pernah berhenti berpijak. Fakta bahwa sebagian besar tubuh manusia hanyalah ruang seolah menjadi tempat istimewa bagi sebercik kesedihan.

Orang-orang masih lalu lalang melewati jalanan yang sibuk. Bus-bus dalam kota tetap pada jalur khususnya, berhenti di setiap bus stop dan berpindah teratur tanpa terburu-buru. Coach-coach antarkota juga sesekali muncul menghalau pandangan yang tak pernah tertutup cahaya.

Aku terpental jauh hingga ke pojok ruang dilema. Aku masih terdiam seolah menjadi patung yang begitu naif memandang dunia. Sesekali aku berujar dalam kata, “Untuk apa kau hidup?” Tapi sejurus kemudian aku melupakannya, seolah ia menjadi angin lalu yang tak berbekas dalam pilu.

Rasa-rasanya aku belum sepenuhnya menikmati setiap scene dalam episode hidupku di kota ini. Big Ben masih tetap ramai dikunjungi setiap harinya. Trafalgar Square juga masih menyodorkan street performance yang tak pernah berhenti menghibur pengunjungnya. Begitu juga Tower Bridge yang sesekali terbelah menjadi dua untuk mempersilahkan kapal lewat di bawahnya.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu masih saja muncul. Pernahkah engkau berjalan di suatu waktu yang tak pernah tahu kapan akan berakhir, atau merindukan sesuatu yang sejatinya kau tak tahu apa yang kau rindukan itu? Mungkin seperti itu kala tanya menyeruak masuk ke dalam sanubari.

Aku tak pernah menyesali semua yang ada dalam hidupku. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan hanya karena di London salju turun begitu singkat winter kemarin. Aku malah selalu mensyukurinya, meski sebentar lagi Big Ben akan ditutup scaffolding selama beberapa bulan ke depan.

Tapi, apakah kau menemukan korelasi antara scaffolding dan salju singkat di bulan Desember lalu? Jika tidak, kira-kira seperti itu gambaran kebisuan yang ada dalam benak pikiranku.

“Hahaha…” ia menertawakanku.

Ia melihatku seperti benang-benang kusut yang sulit terurai. Ketika kau tarik ujung sini, maka ikatannya akan semakin kuat dan bertambah ruwet. Begitu juga dengan ujung yang sebelah sana. Ia adalah pikiranku sendiri yang lelah memikirkanku berkelana dalam kepalsuan. Yang sejati belum jua aku temukan, namun tetap saja aku asyik bermain dalam kebimbangan.

Kau pun bosan melihat semua ini, sebagaimana setiap hari kau harus menaiki bus dan underground line yang sama, di waktu yang sama, dengan keadaan sekitar yang tetap saja sama. Berjalan sekitar sepuluh menit, menunggu bus datang, duduk di dalamnya, berjalan lagi menuju stasiun, menaiki line menuju tempat yang sama sambil melewati lambung kota London bersama orang-orang yang tak pernah berbicara satu sama lain, dan, yap, kau sampai di tujuanmu.

Aku bukan sedang tak mensyukuri nikmat. Aku bersyukur dengan semua itu. Aku hanya mencoba menemani kebisuan pikiran yang terkadang tak mau menunjukkan kesejatiannya. Ia lebih senang bersembunyi di dalam sistem yang sejatinya menguji seberapa idealiskah aku.

“Ups, tak usah lah kau membenturkan antara idealisme dan realisme”, kata seseorang padaku suatu ketika, “Mereka adalah dua hal yang tak saling bertentangan. Coba kau renungkan lagi.” Aku kembali ditinggalkan bersama puluhan tanya yang harus aku cari sendiri jawabnya.

Tuhan kemudian mengingatkanku dengan ayat pertama-Nya yang diturunkan pada Kanjeng Nabi, “Iqro!” Aku senantiasa membaca alam. Aku senantiasa membaca ayat-Nya. Aku juga senantiasa membaca kasih sayang-Nya.

Lalu kemudian aku sampai pada hipotesis bahwa semuanya ini juga merupakan bagian dari skenario besar yang Tuhan ciptakan untukku. Siapakah aku berani-berani mengatur-Nya? Bukankah aku hanyalah wayang yang dimainkan dalam panggung kesementaraan? Bahkan sejatinya aku ini juga tak ada. Yang selama ini aku lihat hanyalah sebagian kecil dari kasih sayang-Nya lantaran “Nur Muhammad”, sang ciptaan Tuhan yang paling pertama.

Bersambung… (mungkin)

London, 25 Februari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s