Aku masih mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menganggu. Langit masih tetap mendung meski udara tak sedingin winter di bulan Januari. Sesekali matahari menampakkan dirinya. Ia hadir menyapa awan dan langit yang bertumpuk melengkapi atmosfer kota London yang tak pernah tidur.

Jalanan sesekali basah karena hujan di malam hari. Aku masih sama seperti dulu, pengagum hujan dan suasana setelahnya. Aku masih menyukai petrichor, aroma tanah yang menyerbak setelah hujan panjang turun. Aku masih menjadi manusia hujan.

Sore masih menjadi misteri. Orang-orang masih berlarian mengejar sesuatu yang sejatinya hanya sementara. Berdandan necis, bersepatu mahal, menenteng tas mengkilat, dan membaca koran di sudut-sudut gerbong kereta bawah tanah. Mereka berdiskusi dengan dirinya sendiri. Sesekali mereka melihat sekitar mengawasi jika ada ancaman datang menghampiri.

Wajah warga “Ibukota bisnis Eropa” ini menyiratkan tanya yang mendalam. Mereka menjaga untuk tak sembarangan berbincang dengan orang asing. Sebisa mungkin diam jika berada di tempat umum. Tak perlu khawatir, negara telah mengatur semuanya. Mereka hanya dituntut untuk menjadi warga negara yang baik. Itu saja.

Bar-bar di pinggir jalan akan ramai dipenuhi white collar selepas pulang kantor. Masing-masing dari mereka memegang segelas bir besar yang aku tak pernah tahu rasanya. Sesekali aku penasaran dan bertanya kepada mereka yang sering menikmatinya. Namun usahaku sia-sia. Indra perasa tak bisa dipuaskan hanya dengan kata-kata. Indra perasa hanya bisa dijelaskan melalui rasa yang dikecapnya.

Warung-warung kopi tumbuh merajalela di setiap sudut kota. Budaya meminum kopi yang tinggi menjadi salah satu faktornya. Di kampus-kampus, di kantor-kantor, di pinggir-pinggir jalan, sudah lazim orang membawa segelas Starbucks, Costa, Pret A Manger, atau Caffe Nero. Berbeda dengan kalangan kelas menengah ke atas di Jakarta yang menikmati kopi sebagai lifestyle semata, warga di sini mungkin lebih menganggap kopi sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Bersambung… (mungkin)

London, 24 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s