15941265_10207973878772578_5373606634564606392_n

Rasa-rasanya baru kemarin aku berkunjung ke Lampung untuk menghadiri RAKERNAS dimana aku resmi dilantik menjadi bagian dari Kepengurusan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Nasional periode 2016-2017, namun ternyata bulan ini sudah akan berlangsung MUNAS III yang itu berarti bahwa masa kepengurusanku akan segera berakhir.

Jika mengingat kembali prosesku berkenalan dengan KMNU terbilang lucu. Orang-orang akan mengenalku sebagai bagian dari KMNU UPI karena aku pernah berkuliah di sana, namun sebenarnya aku tak pernah jadi pengurus resmi KMNU UPI. Aku hanya tim “hore-hore”, yang jika ada acara aku berusaha menghadirinya. Dari kebiasaan itu kemudian aku mulai mengenal KMNU dan bagaimana sepak terjangnya. Sekali lagi, aku hanya tim “hore” yang mengharap berkah melalui perkumpulan dengan orang-orang saleh.

Pada saat aku menjadi pengurus KMNU Nasional tahun lalu pun sebenarnya statusku bukan lagi mahasiswa. Namun salah seorang senior meyakinku dengan berkata, “Gak apa-apa sar. Mahasiswa itu bisa berarti mahasiswa yang masih aktif maupun yang sudah jadi mantan mahasiswa.” Tawanya yang menyergap seolah mengatakan bahwa statusku sebagai karyawan tak menjadi masalah besar dan tak melanggar AD/ART organisasi.

Akhirnya, berbekal niat berkumpul bersama orang saleh dan sebuah kutipan dari KH. Hasyim Asy’ari, “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya,” aku memberanikan diri untuk menjadi bagian di dalamnya.

Aku bersyukur bisa mengenal banyak sekali kawan-kawan yang sebagian besar santri itu. Namun satu hal yang aku kagumi dari mereka adalah, tiap minggu, ada saja prestasi-prestasi yang bermunculan dari masing-masing individu maupun sebagai sebuah komunitas KMNU. Dari mulai juara lomba debat, mahasiswa berprestasi, hingga MTQ. Sekali lagi, ini meneguhkan bahwa santri pun bisa berprestasi dan bisa bersaing di kancah global.

Aku merasa semakin menjadi butiran debu di tengah-tengah orang-orang saleh itu. Dan anehnya, mereka tetap saja mau menerima kehadiranku yang seringkali lalai menunaikan tugas sebagai pengurus maupun sebagai warga NU.

Untuk teman-teman yang masih berkenan dan mau membaca tulisan ini hingga kalimat ini, percayalah, jika ingin melihat seperti apa akhlak dan amalan para mahasiswa yang tergabung dalam KMNU, jangan sekali-kali menjadikanku sebagai tolak ukur. Lihatlah pengurus atau anggota lain yang benar-benar “santri yang mahasiswa” dan “mahasiswa yang santri” itu. Meski KMNU belum diakui sebagai banom resmi di dalam PBNU, namun mereka tetap saja berbuat baik. Mereka tetap saja menjaga akhlaknya. Mereka tetap saja mencintai Indonesia. Aku banyak belajar dari mereka.

Untuk teman-teman pengurus KMNU, baik KMNU Perguruan Tinggi maupun KMNU Pusat, aku hanya bisa mengucapkan selamat dan sukses untuk MUNAS KMNU III yang akan diadakan di Semarang pada tanggal 20-22 Januari 2017 nanti. Mohon maaf sebesar-besarnya aku tak bisa hadir dan belum bisa memberikan kontribusi nyata bagi KMNU. Terima kasih sudah berkenan menerimaku. Semoga Allah senantiasa berkenan mengumpulkanku bersama orang-orang saleh sepertimu agar setidaknya aku “kecipratan” harum wanginya akhlak dan “unggah-ungguhmu.” Aamiinn…

London, 7 Januari 2017

Advertisements

One thought on “Menakar Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s