Kalau kemudian aku mencari teladan kebijaksanaan, maka aku akan datang kepadamu.

Kalau kemudian aku mencari sosok pekerja keras tanpa pernah mengeluh, maka aku akan datang kepadamu.

Kalau kemudian aku mencari pahlawan sejati bagi keluarga, maka pasti aku akan datang kepadamu.

Bapak, aku masih ingat kala itu.

Ketika belum juga sempat melepas lelah setelah mengajar, engkau harus sudah bergegas membawa tumpukan kertas yang beratnya berkilo-kilo itu untuk dijual ke para pembuat tempe di sekitaran rumah. Bahkan aku seringkali turut serta bersamamu. Aku duduk di bangku depan sepeda motor bebekmu itu. Aku bahagia sekali, Pak.

Aku juga masih ingat kala itu.

Ketika setiap malam engkau bersama Ibu membungkusi es lilin untuk esok paginya dijual di koperasi sekolah tempat Bapak dan Ibu mengajar, serta sekolah tempat aku belajar. Aku bahkan masih bisa mencium aroma karet yang dengan lihainya engkau ikat di ujung plastik itu. Ibu menuangkan adonan es ke dalamnya lalu engkau mengikatnya dengan sangat kuat. Sesekali jika lelah, engkau hanya berganti posisi duduk untuk meregangkan otot-otot di kakimu. Engkau tak akan berhenti sebelum es cair di panci besar itu terkonversi semua menjadi puluhan plastik es lilin.

Aku juga masih ingat kala itu.

Ketika engkau setiap sore keluar masuk dari satu pasar ke pasar lain. Engkau dengan lihainya mengepak obat-obatan ke dalam kardus besar lalu mendistribusikannya ke warung-warung kelontong se-antero Cilacap. Setiap malam engkau pasti tak bisa diganggu ketika sedang bersama dengan nota-nota dan kalkulator pasarmu. Tak heran, banyak kaos, piring, kalender, tas yang aku pakai bertuliskan satu produk tertentu. Entah mengapa, aku tak pernah malu memakainya, Pak. Bahkan aku sempat belajar berbisnis dengan menjualnya ke beberapa teman.

Aku juga masih ingat kala itu.

Ketika engkau sempat menjadi distributor martabak dan cilok. Jajanan yang ketika aku istirahat sewaktu SD selalu aku beli. Aku juga sering ikut denganmu mengunjungi beberapa penjual martabak yang bekerjasama denganmu. Aku seringkali meminta beberapa martabak yang engkau jual itu, tapi dengan sabar engkau dan Ibu bilang, “Besok ya nak, ini untuk dijual.” Aku masih ingat momen dimana akhirnya engkau memperbolehkan aku mencicipi martabak yang engkau jual itu. Aku sungguh sungguh bahagia.

Bapak,

Aku tak pernah menyesal dengan semua cerita hidup yang aku punyai bersamamu. Aku bahkan sangat bersyukur bisa menyaksikan langsung bagaimana engkau bersama Ibu membangun keluarga setapak demi setapak.

Apakah aku bisa sepertimu?

Hidupmu tak banyak neko-neko.

Sederhana dan tak berlebih-lebihan.

Maafkan aku yang seringkali tak mengerti apa yang sebenarnya engkau inginkan.

Maafkan aku yang belum sepenuhnya berbakti dan masih merengek ini dan itu.

Aku seringkali membuatmu payah,

Mengganggu waktu tidurmu ketika aku pulang,

Memintamu mengirim ini dan itu.

Maafkan aku.

Hari ini, berdasarkan perhitungan masehi, 53 tahun yang lalu engkau dilahirkan.

Tak akan ada aku jika tak ada engkau.

Sungguh,

Akulah saksi bahwa engkau mengajariku dengan memberi contoh yang baik.

Akulah saksi bahwa engkau telah (dan akan selalu) menjalankan amanah sebagai kepala keluarga dengan sangat baik.

Doa-doa terbaik selalu aku panjatkan untukmu, Pak.

Setidaknya doa yang diajarkan Kanjeng Nabi aku baca tiga kali setiap aku selesai salat.

Maafkan aku,

Di hari ini, di tahun ini layaknya beberapa tahun ke belakang, aku tak bisa bersamamu. Bahkan inilah tempat rantauku paling jauh dalam sejarah. Doakan aku yang sedang berusaha agar bisa menjadi anak yang patut engkau banggakan dan anak yang saleh yang doa-doanya untukmu selalu didengar Allah Sang Maha Baik.

Semoga Allah memanjangkan umur kita ya, Pak.

Aku tak sabar ingin mencium tangan calon penghuni surga yang dengan sabar dan telaten membesarkanku hingga seperempat abad. Aku juga ingin bercerita kepadamu betapa luasnya bumi ini. Semoga aku bisa mengajakmu menyaksikannya sendiri nanti. Aamiinn…

Terima kasih atas tirakat-tirakatmu.

Terima kasih atas doa-doamu.

Aku merasakannya, Pak.

Terima kasih telah menjadi sumber inspirasi hidupku.

Aku sangat bangga padamu.

Dari Aku,

Anakmu.

Advertisements

2 thoughts on “Untuk Bapak

  1. Bagus sekali mas Arih, penyemangat di dini hari ^_^ …
    Semoga studi nya lancar, diberi usia panjang sehingga dapat mengajak keluarga melihat luasnya jagat bumi seperti yang mas Arih bilang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s