Pagi ini saya teringat sebuah kisah dari Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib (cucu Kanjeng Nabi Muhammad saw). Beliau (Sayyidina Hasan) pernah dicaci maki oleh orang yang tidak suka padanya. Ia dicaci maki habis-habisan di depan putranya, tapi beliau hanya diam saja tidak membalas.

Sang putra kemudian bertanya, “Kenapa Ayah tidak membalas caciannya? Bukankah ayah tidak seperti itu?”

Sayyidina Hasan menjawab, “Ayahku, Ali bin Abi Thalib, Ibuku, Fatimah Az-Zahra, dan Kakekku, Muhammad saw, mereka semua tidak pernah mengajariku bagaimana cara mencaci-maki. Jadi aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membalas.”

Kisah ini menurut saya penting dan menjadi salah satu contoh bahwa, secara tidak sadar, kita seringkali meniru apa yang orang di sekitar kita lakukan. Kita cenderung mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan berdasarkan apa yang kita lihat dari orang lain, “Ah, dia juga melakukan hal yang sama” atau “Dia juga begitu kok, kenapa aku enggak?” Sejatinya tak boleh terus-menerus begitu. Bukankah yang dimaksud “baligh” adalah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah?

Bagi mereka yang sudah memiliki kapasitas kontrol diri yang kuat, semestinya bisa lebih menempatkan diri dan sekaligus juga mawas diri agar tak salah dalam berperilaku. Sekelilingnya boleh saja bertindak semaunya, tetapi ia sendiri harus mempunyai jiwa ksatria yang mampu mengolah itu semua menjadi kebijaksanaan hidup untuk disikapi secara lebih dewasa.

Namun pada titik tertentu, seseorang yang menjaga jarak dengan orang lain yang memiliki perangai buruk harus banyak-banyak bersyukur. Setidaknya ia tidak perlu repot-repot memfilter mana-mana saja yang perlu ditiru, dan mana-mana saja yang tidak patut dicontoh. Konsekuensinya memang ia menjadi terasing dan sendirian. Namun menurut saya hal itu malah lebih baik baginya daripada harus terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Tulisan singkat ini saya akhiri dengan mengutip Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pada esai berjudul “Puasa Kaum ‘Ghuraba” yang terhimpun dalam buku “Tuhan Pun Berpuasa”.

“Menjaga lisan agar berbicara yang perlu saja memerlukan jiwa kepahlawanan yang mumpuni. Engkau harus siap diasingkan di tengah keramaian. Namun kata Rasulullah, berbahagialah orang yang terasing, karena ia yang memiliki pengambilan jarak yang memungkinkan ia lebih jernih dan lebih sejati dalam menilai sesuatu.”

Semoga bermanfaat!

Jakarta, 2 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s