Kemarin, selepas pulang kantor, aku berkunjung ke salah satu gedung di Jl. H. R. Rasuna Said Jakarta. Aku memang menyengajakan diri melakukan sedikit survey lokasi untuk keperluan hari Sabtu esok, tes IELTS! Begitu pentingnya momen itu dan karena itu adalah tes pertamaku, aku tak mau waktuku terbuang hanya karena tak tahu dimana dan seperti apa lingkungan tempat tesnya.

Begitu aku selesai dengan urusanku, aku bergegas pulang. Aku mengambil motor yang terparkir di tempat parkir lalu keluar mengikuti penunjuk jalan yang ada di sekitaran gedung.

Seperti biasa, sebelum meninggalkan gedung, aku bayar biaya parkir. Tak ada yang cukup spesial kala itu. Aku merogoh sejumlah uang di kantongku lalu membayarkannya kepada petugas parkir.

Pada saat yang sama, satpam yang juga turut berjaga di pintu keluar memintaku menunjukkan STNK kendaraan yang aku naiki. Aku mengambil dompet di kantong belakang celanaku dan mengeluarkan STNK yang dimaksud.

Satpam yang aku ceritakan itu mungkin berumur sekitar 20-an tahun. Sayangnya aku lupa mengingat namanya. Tinggi badannya mungkin sama dengan tinggi badanku. Meski tak banyak bicara, hati nuraniku mengatakan ia orang yang ramah. Aku cukup tenang berada di dekatnya. Wajahnya teduh sama sekali tak menampilkan wajah yang arogan. Mungkin orang-orang seperti inilah yang benar-benar disebut sebagai Muslim. Setahuku, muslim yang sejati adalah ia yang mampu memberikan rasa nyaman dan aman tatkala orang lain berada di dekatnya.

Begitu semuanya selesai, aku menarik gas motorku dan mengucapkan terima kasih sembari memberikan senyuman terbaikku untuknya. Ia membalasnya dengan senyuman yang menunjukkan betapa tulusnya ia melayani.

Beberapa detik berlalu, hatiku kembali berguman, “dia (satpam) orang baik”.

Sejurus kemudian tiba-tiba aku teringat pesan Kyaiku di kampung dulu. Beliau berkata bahwa salah satu keunikan Islam adalah adanya mekanisme “saling mendoakan” atau dalam bahasa Jawa biasa disebut “doa-dinonga”.

“Mengapa unik?”, Kyaiku menjelaskan, “Karena apabila kita berdoa untuk kita sendiri, belum tentu Allah akan mengabulkannya. Tapi apabila orang lain yang mendoakan kita, maka malaikat akan turut mengamini dan karena itulah Allah akan sangat mungkin untuk mengabulkannya.”

Pesannya jelas, bahwa doa yang tulus dari orang lain untuk kita memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk diterima dan diwujudkan Allah.

“Lalu bagaimana agar orang lain mau mendoakan kita?”, lanjut Kyaiku, “Berbuat baiklah kepada semua orang. Apabila orang lain merasakan kebaikanmu, maka ia akan dengan setulus hati mendoakan kebaikan untukmu juga.”

Ini adalah salah satu pesan Kyaiku yang aku ingat hingga detik ini. Berkaca dari pengalamanku dengan satpam tadi, aku lagi-lagi membuktikannya. Tanpa diminta, aku sudah mengakui dan mendoakan kebaikan untuknya. Benar-benar tanpa paksaan. Semuanya terjadi karena memang hatiku merasa tenang dan terkesan dengan keramah-tamahannya.

Mungkin ini hal sepele, tapi aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah mengingatkanku dengan pesan Kyaiku melalui pertemuan dengan seorang satpam. Hidayah itu bisa berasal dari perantara apa saja, termasuk dari pak satpam. Semua orang sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan kita, bukan harta, bukan juga tahta.

Semoga aku bisa senantiasa berbuat baik kepada orang lain karena Allah Ta’ala. Perkara orang itu kemudian mendoakan kebaikan untukku, itu bukan menjadi tujuan yang utama. Itu hanyalah “efek samping” dari apa yang sudah aku perbuat kepadanya. Bukankah yang sejatinya kita tuju hanyalah Allah semata, bukan yang lainnya?

 

Jakarta, 13 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s