Ketika kita berkumpul dengan teman atau mungkin pada saat kita berada di tempat-tempat keramaian, ada saja orang yang bicaranya menyalahkan orang lain. Padahal mungkin sebenarnya yang bermasalah justru dia sendiri. Tapi entah mengapa, menurut mereka, mencari kambing hitam akan permasalahan yang dia alami adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Dalam kehidupan pekerjaan pun begitu. Antar satu bagian dengan bagian lainnya saling menyalahkan dan merasa bagiannya yang paling benar. Anehnya, pada saat kedua bagian itu bertemu, mereka malah terlihat begitu bersahabat dan seperti tak ada masalah sedikit pun. Pada saat pertemuan berakhir, masing-masing anggota kembali ke tabiatnya, menyalah-nyalahkan bagian lain yang beberapa menit yang lalu bertemu dalam sebuah pertemuan.

Sebenarnya semua orang paham bahwa menyalah-nyalahkan orang lain itu tidak benar. Para profesionalpun saya yakin mengerti akan hal ini. Semua buku-buku pengembangan diri berbicara bahwa menyalah-nyalahkan orang lain tidak akan menyelesaikan masalah. Lantas inti permasalahannya dimana? Mengapa kebanyakan dari kita tetap saja asyik menyalah-nyalahkan orang lain?

Dalam perspektif psikologi perkembangan, salah satu ciri orang dikatakan dewasa adalah “tidak mudah menyalahkan orang lain atas setiap keadaan yang menimpa dirinya”. Bahkan, apabila terlalu sering menyalahkan orang lain, bisa saja dikategorikan sebagai personality disorder atau gangguan kepribadian.

Menurut Imadha, (2012: Online), beberapa alasan mengapa seseorang mudah menyalahkan pendapat orang lain antara lain:

1) Tidak memahami pendapat orang lain

Biasanya, mereka tidak memahami pendapat orang lain karena tidak tahu sudut pandang orang yang berpendapat. Mereka juga tidak mengenal apa kompetensi yang berpendapat. Bisa juga karena terlalu tergesa-gesa menangkap pendapat orang lain tanpa dipikirkan lebih mendalam. Juga tidak memahami apa motivasi orang yang berpendapat. Bisa juga karena faktor IQ rendah atau daya tangkap yang memang lemah. Juga, karena tidak mampu memahami alasan orang lain yang tidak dikatakan sehingga pendapat orang lain selalu dianggap salah.

2) Salah persepsi

Persepsi adalah cara pandang dan cara pikir seseorang terhadap suatu objek pembicaraan yang diproses secara langsung di dalam otak seseorang dari sudut pandang yang sudah ditentukan secara apriori. Celakanya adalah, mereka mengambil posisi yang berbeda dengan orang yang punya pendapat sehingga apa yang dipersepsikan selalu salah.

3) Minimnya pengetahuan yang dimiliki

Mereka bisa saja mudah menyalahkan pendapat orang lain karena minimnya pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang dimiliki sehingga mereka sering terjebak pada hal-hal yang mereka sebenarnya tidak punya kompetensi. Tidak didukung landasan pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang relevan sehingga terkesan snob (sok tahu, sok mengerti atau sok pintar).

4) Cara berlogika yang keliru

Cukup banyak orang mudah menyalahkan pendapat orang lain karena kesalahan berlogika. Antara fakta dan proses berpikirnya tidak ada relevansinya. Salah menafsirkan sebuah fakta di dalam proses berpikir. Terjebak pada cara berlogika yang keliru.

5) Faktor subjektivitas

Mereka mudah menyalahkan juga karena faktor subjektivitas. Misalnya, karena tidak suka dengan orang yang punya pendapat. Karena memang punya kepribadian suka ngeyel dan suka memaksakan pendapat. Karena harga diri yang terlalu besar sehingga memiliki keinginan pendapatnya selalu dihargai. Ingin dianggap mengerti padahal tidak mengerti.

Salah satu penyebab terjadinya banyak konflik di bangsa ini sebenarnya karena kita hobi sekali menyalah-nyalahkan orang lain. Seolah kita ini yang paling benar. Seakan-akan kita ini sudah mendapatkan legitimasi dari Tuhan untuk menghakimi orang lain. Di dalam Kitab Nashaihul Ibad Bab III nasihat ke-41, salah satu ciri seseorang dikehendaki baik oleh Allah adalah diperlihatkannya keburukan-keburukan dirinya – sehingga ia tidak sibuk melihat keburukan-keburukan orang lain. Di samping itu, di setiap salat, kita pasti membaca “ihdinashirotolmustaqim” (tunjukkanlah jalan yang lurus/benar/istiqomah). Bukankah itu pertanda bahwa sebenarnya kita juga belum benar benar amat.

Akhirnya, saya hanya ingin mengajak kita untuk sama-sama menilai diri kita masing-masing. Apakah kita sudah berada pada posisi yang selalu benar? Sudah layakkah kita dijadikan role model bagi orang lain? Jika belum, maka saya menawarkan untuk saling berendah hati dalam berhubungan dengan orang lain. Menjaga pikiran agar tetap positif tentu akan mendapatkan banyak manfaat karena apa yang kita pikirkan akan memengaruhi perasaan dan tindakan kita sehari-hari.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati dan pikiran kita.

 

Daftar Pustaka:

Al-Qur’anul karim.

Imadha, I. (2012). Psikologi: Orang yang mudah menyalahkan pendapat orang lain, biasanya adalah orang yang tidak mengerti maksud pendapat orang lain [Online]. Tersedia: http://psikologi2009.wordpress.com/2012/07/16/psikologi-orang-yang-mudah-menyalahkan-pendapat-orang-lain-biasanya-adalah-orang-yang-tidak-mengerti-maksud-pendapat-orang-lain/ [6 Maret 2016].

al-Bantani, N. (2014). Nashaihul Ibad (Terjemahan). Jakarta: Republika.

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa menyalahkan orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s