Ketika SD dulu, tak banyak profesi yang saya ketahui. Jika ditanya apa cita-cita saya, saya selalu menjawab “Pilot..!!” Di lain kesempatan, saya sering juga menjawab “Polisi..!!” Namun nyatanya, saya kini bekerja sebagai seorang karyawan di Learning Office BPJS Ketenagakerjaan. Benar-benar tak ada hubungannya dengan Pilot maupun Polisi, bukan?

Ketertarikan saya terhadap “Kelas Inspirasi” dimulai pada saat saya masih kuliah, sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, beberapa teman terlibat menjadi relawan dokumentator pada kegiatan Kelas Inpirasi Bandung. Saya penasaran apa itu Kelas Inspirasi. Setelah browsing sana browsing sini, tanya sana tanya sini akhirnya saya menemukan jawabnya.

Kelas Inspirasi merupakan sebuah kegiatan dimana para professional dari berbagai profesi meluangkan waktunya selama satu hari untuk berbagi cerita mengenai pekerjaannya kepada siswa Sekolah Dasar. Saya tertarik menjadi salah satu bagiannya, namun pada waktu itu rasanya tak mungkin bila mendaftar menjadi relawan. Relawan dokumentator? Camera tak punya. Relawan pengajar? Saya bahkan belum bekerja. Maka sejak saat itu, saya selalu mengikuti perkembangan Kelas Inspirasi di berbagai daerah sambil berniat di dalam hati, “Nanti kalau saya sudah bekerja, saya akan ikut menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi.”

Kegiatan ini membawa misi yang sangat mulia, menginspirasi siswa Sekolah Dasar untuk meraih cita-citanya. Menarik karena Kelas Inspirasi menghadirkan langsung sosok dari berbagai macam profesi ke dalam ruang-ruang kelas. Efeknya tentu akan lebih bersifat long-term karena para siswa benar-benar menyaksikan sosok yang selama ini hanya diketahui melalui cerita-cerita dari orang lain. Di samping itu, para siswa juga akan terbuka pengetahuannya bahwa ternyata di luar sana banyak sekali profesi menarik yang belum mereka ketahui.

Setelah sekian lama hanya mengikuti perkembangannya melalui media sosial dan website, akhirnya saya mencoba mendaftar menjadi relawan di Kelas Inspirasi Jakarta. Kala itu, untuk pertama kalinya sebagai seorang karyawan di BPJS Ketenagakerjaan saya memberanikan diri mendaftar menjadi relawan pengajar. Tetapi sepertinya Kelas Inspirasi Jakarta belum “mau” menerima saya. Allah menghendaki saya untuk lebih bersabar karena pengalaman kerja yang saya miliki belum cukup matang (di bawah 2 tahun).

Satu tahun berlalu, rasanya sudah tak sabar lagi untuk mendaftar kembali. Saya mencari tahu lebih dalam tentang Kelas Inspirasi, terutama jadwal-jadwal pendaftaran Kelas Inspirasi di berbagai daerah. Sebagai permulaan, saya niatkan untuk ambil bagian di kota-kota yang saya pernah kunjungi, setidaknya agar saya mempunyai gambaran tentang kota-kota itu. Akhirnya, Kota Bandung menjadi tempat labuhanku selanjutnya.

Pendaftaran pun dibuka dan saya mendaftar menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Bandung 4. Memang sudah saya niatkan sebelumnya, jika diterima maka saya akan mengambil cuti selama satu hari dan pergi ke Bandung – kota tempat saya menimba ilmu dulu – untuk menginspirasi siswa-siswi SD di sana.

Salah satu motivasi saya mendaftar menjadi relawan pengajar adalah rasa rindu mengajar yang sudah tak terbendung lagi. Saya sangat senang berbagi ilmu di depan kelas. Mungkin karena background pendidikan saya adalah psikologi pendidikan sehingga perspektif nilai-nilai pendidikan banyak mempengaruhi cara berpikir saya hingga kini. Selain itu, meski pekerjaan saya tidak lagi berkecimpung di dunia pendidikan formal, namun hingga kini saya masih sangat mencintai dunia pendidikan di Indonesia. Maka melalui Kelas Inspirasi Bandung setidaknya saya bisa tetap memberikan kontribusi nyata untuk pendidikan di Indonesia.

Hari pengumuman pun tiba dan – Alhamdulillah – saya diterima menjadi salah satu relawan pengajar di Kelas Inspirasi Bandung 4. Bahagia sekali rasanya akhirnya apa yang saya nanti-nantikan dan saya doakan selama ini dapat terwujud. Tak lama setelah pengumuman, saya langsung memesan tiket kereta dari Jakarta ke Bandung (pulang-pergi) khusus untuk acara Briefing dan Hari Inspirasi. Saya tidak mau permasalahan transportasi menghambat pengalaman pertama saya mengikuti Kelas Inspirasi.

20160214_122609

Sembari menunggu Hari Inspirasi, saya mulai memikirkan bahan ajar yang nantinya akan saya sampaikan pada saat mengajar. Terus terang, meskipun saya terbiasa berbicara di depan banyak orang, baik pada saat kuliah maupun pada saat bekerja, tetap saja pengalaman berbicara/mengajar di depan siswa SD belum pernah saya alami sebelumnya. Pada saat kuliah memang saya sering praktik ke beberapa sekolah di Kota Bandung, tetapi karena konsentrasi yang saya ambil adalah remaja maka praktik-praktik yang saya lakukan juga hanya ke SMP dan SMA. Akhirnya, mau tak mau, saya membuka-buka lagi buku-buku pada saat kuliah, terutama tentang Psikologi Perkembangan. Tujuannya jelas, agar saya paham perkembangan anak SD dan metode pembelajaran apa yang cocok untuk diterapkan.

Hari Briefing pun tiba. Waktu itu hari Minggu, 14 Februari 2016 bertempat di Gedung Sate Bandung. Saya bertemu banyak sekali kawan baru. Di antara mereka banyak yang sepertiku, pertama kali mengikuti Kelas Inspirasi. Tapi di antara mereka juga banyak yang sudah berkali-kali ikut kegiatan Kelas Inspirasi di berbagai daerah. Bahkan ada sebuah joke dimana ketika seseorang ditanya profesinya, maka jawabannya, “Ikut Kelas Inspirasi”. Joke itu menggambarkan bahwa banyak sekali relawan yang kemudian malah ketagihan untuk terus ikut serta dalam Kelas Inspirasi. “Nanti kamu akan tahu mengapa saya ketagihan ikut Kelas Inspirasi”, katanya kala itu.

20160214_082712

Pada saat Briefing, kami diberikan wawasan dan gambaran bagaimana mengajar siswa sekolah dasar oleh para relawan yang sudah berpengalaman. Tips dan trik manajemen kelas juga dibagikan kepada kami para pemula agar nantinya konten yang kami ajarkan tidak monotone dan dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

Kami para relawan kemudian dibagi ke dalam puluhan kelompok sesuai dengan jumlah SD yang akan dikunjungi. Masing-masing kelompok harus bahu-membahu agar proses belajar mengajar pada Hari Inspirasi di sekolah berjalan dengan lancar. Saya sendiri masuk ke dalam kelompok 55 di SD Negeri Rancaloa Bandung. Di dalam kelompok saya terdapat 1 fasilitator panitia dan 26 relawan yang terdiri atas: 20 pengajar, 5 fotografer, dan 1 videografer. Pada saat Briefing, Alhamdulillah perwakilan dari pihak sekolah turut hadir sehingga kesempatan itu kami manfaatkan untuk menggali lebih dalam mengenai sekolah yang akan kami kunjungi pada Hari Inspirasi nanti.

Singkat cerita, terpilihlah seorang ketua dan terbentuklah sebuah grup WhatsApp untuk memudahkan koordinasi antar anggota. Sayangnya tak semua anggota hadir pada Briefing kala itu. Oleh karenanya, anggota yang tak hadir harus kami konfirmasi kesediannya satu-per-satu berbekal nomor kontak yang tertera pada saat pendaftaran.

Melalui grup WhatsApp, kami membahas berbagai macam persiapan menjelang Hari Inspirasi. Ternyata banyak sekali yang harus kami kerjakan, antara lain: survey lokasi SD, pembagian jadwal mengajar, pemesanan konsumsi, pembuatan prakarya, dan lain sebagainya. Tantangannya adalah tidak semua anggota berdomisili di Bandung. Sebagian ada yang di Depok dan Jakarta, termasuk saya. Oleh karena itu, komunikasi dan koordinasi di antara kelompok harus selalu berjalan dengan baik. Saya sangat bersyukur mendapatkan teman satu kelompok yang sangat supportive dan mau bekerjasama. Mereka juga sangat welcome dan nyaman untuk diajak berkomunikasi. Lucunya, meski sebagian anggota kelompok belum pernah saling bertemu sebelumnya tetapi kami sudah membicarakan banyak hal dalam rangka menunjang kelancaran kegiatan Kelas Inspirasi ini. Benar-benar kesamaan tekad antar anggota kelompok sangat memperlancar sebuah perencanaan.

IMG-20160221-WA0003-1

Setelah berlelah-lelah survey lokasi sekolah, membuat prakarya, memesan konsumsi, dan tentunya memikirkan bahan ajar, akhirnya Hari Inspirasi pun tiba. Hari Rabu, 24 Februari 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi kami. Selain menjadi hari yang sudah kami tunggu-tunggu sebelumnya, hari itu juga merupakan hari pertama kami saling bertemu dan bertatap satu dengan lainnya secara langsung. Sayangnya, anggota kelompok kami yang sedianya berjumlah 26, pada saat hari inspirasi hanya tinggal 19 orang, yang terdiri atas: 14 pengajar dan 5 fotografer. Padahal kami harus mengajar di 16 kelas dari pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Beberapa alasan melatarbelakangi anggota kelompok yang tak bisa hadir, misalnya: ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan dan juga karena tak mendapatkan cuti dari atasan. Namun Alhamdulillah tantangan tersebut bisa kami lewati. Solusinya, fasilitator panitia dan salah seorang fotografer terpaksa ikut mengajar untuk melengkapi kekurangan pengajar. Alhamdulillah mereka berkenan.

Pagi-pagi sekali kami sudah berada di sekolah. Tepat pukul 07.00 WIB kami mengawali kegiatan dengan mengumpulkan seluruh siswa di lapangan. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dengan terlebih dahulu diberikan pengantar oleh pihak sekolah. Atmosfer bahagia langsung terasa pada saat melihat senyum tulus para siswa. Ketakutan-ketakutan kami seolah sirna begitu saja. Kami menyatu dengan para siswa dan merasa kembali menjadi anak-anak yang begitu ceria bertemu kawan-kawannya di pagi hari. Kami bernyanyi bersama dan saling memberikan semangat untuk menghangatkan suasana. Tak lupa kami semua berdoa bersama agar apa yang kami lakukan pada hari itu berjalan dengan lancar.

untitled-9535

Tiba giliran kami menuju kelas masing-masing. Sedianya masing-masing dari kami mengajar 6 kelas. Namun karena satu dan lain hal yang bersifat teknis, akhirnya kelas pertama kami skip dan tersisa 5 kelas lainnya. Saya sendiri mendapat giliran mengajar di kelas 6 (dua kelas), kelas 1 (satu kelas), dan kelas 3 (dua kelas). Masing-masing dari kami diberi waktu selama 30 menit, setelah itu kami harus segera masuk ke kelas berikutnya.

Setelah memikirkan beberapa pilihan bahan ajar, akhirnya saya memutuskan untuk mengajar tentang jaminan sosial. Memperkenalkan jaminan sosial kepada siswa Sekolah Dasar bukanlah perkara mudah. Tantangannya adalah perkembangan kognitif siswa sekolah dasar masih sangat konkrit, sedangkan jaminan sosial merupakan konsep yang sangat abstrak, terutama bagi para siswa. Oleh karenanya, saya dan juga beberapa teman lainnya berusaha membuat penjelasan kami se-konkrit mungkin agar dapat diterima dengan baik oleh para siswa. Saya sendiri sengaja mencetak kartu BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan sebesar kertas ukuran A4 agar para siswa memiliki gambaran tentang BPJS. Saya juga menganalogikan jaminan sosial sebagaimana tabungan yang berguna di kemudian hari pada saat mereka benar-benar membutuhkannya. Beberapa ice-breaking dan games juga sudah saya siapkan untuk membuat para siswa tetap paying attention.

Masing-masing kelas memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Lucunya, di hampir semua kelas yang saya masuki, pasti ada saja siswa yang menangis karena beberapa alasan. Ada yang bertengkar dengan teman sebangkunya, terjatuh pada saat berlarian kesana kemari, hingga yang menangis tanpa diketahui alasannya. Jika mengingat tingkah mereka, saya selalu tersenyum-senyum sendiri. Di tangan mereka-lah Indonesia Emas akan dipimpin. Oleh karena itu, melihat mereka begitu bahagia, saya merasa sangat senang dan semakin optimis memandang Indonesia di masa depan.

IMG_2310

Satu hal yang menurut saya begitu menarik – dan baru saya ketahui – adalah perkembangan Instagram yang begitu cepat di kalangan para siswa sekolah dasar. Bayangkan saja, ketika sedang asyik mengajar, tiba-tiba salah seorang siswa nyeletuk, “Kak, IG kakak apa?” Dalam hati, “Eh, ini serius mereka nanya gitu? Anak SD loh ini.” Keheranan saya bukan tanpa alasan. Pada saat saya seusia mereka, orang-orang belum banyak yang memiliki telepon genggam. Ketika itu, telepon genggam masih menjadi barang yang sangat mewah. Kalau pun ada, telepon genggamnya belum memiliki fitur camera, apalagi sosial media.

Karena tak saya tanggapi, salah satu dari mereka mencoba mengetik nama saya di Instagram dan “Aha…!!”, mereka menemukannya! Bukan hanya sekedar follow, tapi masing-masing dari mereka pasti meminta, “Kak follback ya!” Benar saja, selepas mengajar, sudah ada 40-an followers baru di Instagram saya dan kesemuanya adalah siswa SD yang baru saja saya ajar. Dalam hati saya berujar, “Okay Caesar, kamu lagi berhadapan dengan Generasi Z yang sudah kenal sosial media sejak mereka lahir!”

Uniknya, keresahan saya juga dialami bukan hanya oleh kelompok saya, tetapi juga oleh kelompok lainnya di SD yang lain. Oleh karena itu, menurut saya pendekatan yang digunakan untuk mendidik siswa SD di era saat ini haruslah berbeda dan lebih menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Jika hal ini tak diimbangi oleh skill para stakeholder-nya, saya khawatir perkembangan para siswa tidak terkontrol dan cenderung mengikuti pergaulan yang mungkin tidak dianjurkan.

Di akhir kegiatan, masing-masing siswa mendapatkan selembar kertas berbentuk bintang yang berisikan nama, kelas, dan cita-cita mereka. Setelah diisi, kertas tersebut ditempelkan di ujung sedotan untuk kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing. Harapannya, melalui tongkat cita-cita tersebut, mereka akan selalu ingat dengan cita-citanya dan senantiasa termotivasi untuk terus belajar serta menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Sebelum pulang, seluruh siswa berkumpul kembali di lapangan untuk berfoto bersama. Satu hal yang tidak saya duga sebelumnya adalah sebagian dari mereka berinisiatif meminta tanda tangan dari setiap pengajar, baik di tongkat cita-citanya maupun di buku pribadinya. Tak lupa mereka juga mengambil camera (bagi yang mempunyai telepon genggam) untuk sekedar wefie bersama para pengajar. Semoga saja itu merupakan indikator bahwa mereka terinspirasi dengan apa yang kami lakukan.

PhotoGrid_1456632639695

Belum cukup sampai di situ, pada hari yang sama setelah mengajar, kami para relawan diminta untuk kembali berkumpul untuk mengikuti refleksi di Gedung Pos Indonesia. Kami, seluruh relawan Kelas Inspirasi Bandung 4, kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan difasilitasi oleh panitia untuk saling share pengalaman dan memberikan saran agar kegiatan ini menjadi lebih baik di kemudian hari. Nampaknya semua relawan begitu terkesan dan berbahagia bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Pada refleksi tersebut, seluruh relawan juga diminta untuk berikrar agar senantiasa menjadi inspirator dimanapun mereka berada, baik melalui kegiatan serupa maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, saya benar-benar merasakan apa yang sebagian besar relawan lain rasakan. Kegiatan ini benar-benar “adiktif” – dalam arti positif – dan mampu menginspirasi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Maka saya pun berdoa semoga di lain kesempatan bisa ikut serta kembali dalam kegiatan serupa, baik di kota Bandung maupun di kota-kota lainnya. Aamiin…

Terima kasih kepada seluruh panitia Kelas Inspirasi Bandung atas kerjakerasnya dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Sungguh, kalian melakukan hal yang sangat mulia dan luar biasa. Indonesia bersyukur memiliki generasi seperti kalian.

Terima kasih juga kepada teman-teman satu kelompok 55 SD Negeri Rancaloa Bandung atas kebersamaan dan kekeluargaannya. Bukan saja untuk para pengajarnya, tetapi juga untuk pada dokumentatornya. Tanpa kalian, kegiatan ini tak akan abadi!

IMG-20160224-WA0004

Salam hormatku yang setinggi-tingginya untuk para guru di seluruh Indonesia, khususnya guru di SD Negeri Rancaloa Bandung. Terima kasih atas sambutan hangatnya. Betapa kesabaran dan ketekunannya berperan begitu besar dalam membentuk karakter para generasi muda bangsa.

Dan untuk para siswa SD Negeri Rancaloa Bandung, terima kasih telah membuat saya begitu bahagia. Alih-alih menginspirasi, justru saya yang terinspirasi oleh ketulusan kalian. Tetaplah belajar dan raih cita-citamu. Hormati orang tua dan gurumu. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

 

Jakarta, 29 Februari 2016

Advertisements

4 thoughts on “Kelas Inspirasi Bandung 4 Kelompok 55 SD Negeri Rancaloa: “Terinspirasi karena Menginspirasi”

  1. Ngajar dan sharing ke anak SD itu memang luar biasa mas. Asik memperhatikan respon dan tingkah mereka ttg apa yg kita berikan.

    Akhirnya teringat kembali kepada guru-guru mereka, betapa mulia pekerjaan mereka. Betapa melelahkan mengatur dan mengajar anak-anak setiap harinya. Guru memang pantas diberi titel “Pahlawan”.

    Sukses mas Caesar, semoga bisa terus berbagi dan menginspirasi..

    Barakallah, wassalam

    1. iya pak. lihat keceriaan mereka itu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. betul sekali, akhirnya kita juga harus menghormati para guru-guru kita. perjuangan mereka luar biasa. aamiinn… sukses juga buat pak Idoe dan 1000 guru-nya ya! Inspiring! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s