Pada malam yang menyimpan sejuta makna, dan juga pada bintang yang melihatnya dari jauh dengan pandangan berbeda. Aku tahu kita sedang berjalan beriringan, di jalan yang tak ada satu orang pun memahaminya kecuali kita dan Tuhan. Kau memegangi perasaanmu, menjaganya agar tak berlarian, menenangkannya agar tak bergejolak, bahkan mungkin membunuhnya agar tak lagi terlihat. Tapi ingatkah bahwa setiap langkah kita akan meninggalkan jejak? Ya meskipun terkadang kita memerlukan alat bantu untuk mendeteksi jejak itu. Tapi wajahmu yang riang itu menyiratkan kisah penuh arti. Tak banyak orang yang tahu, karena kau berusaha menyimpannya erat-erat. Eraattt sekali.

Pada waktu yang terus berputar, dan juga pada nafas yang tak pernah berhenti hingga waktunya nanti. Sungguh aku menyaksikanmu berkembang dengan cita dan cintamu. Sungguh aku melihatmu bercengkerama dengan dunia yang tak lagi bersahabat seperti dulu kala. Ya, aku tak sehebat romeo pujaanmu yang selalu engkau idam-idamkan, atau siapapun tokoh idamanmu di dalam buku-buku yang selalu engkau baca itu. Tapi nyatanya, aku masih melihatmu hingga kini. Mengendap-endap agar tak mengganggumu, merayap-rayap agar kau tak melihatku.

Pada dunia yang selalu bercerita, dan juga pada angin yang berhembus semilir memasuki relung jiwamu. Kita masih di lembar yang sama, di buku yang sama. Hanya saja engkau adalah bagian dari cerita yang berbeda bahasa dengan bahasaku. Inti ceritanya sama, hanya bahasa kita yang berbeda. Ya, Tuhan menggariskan kita seperti apa yang dimaui-Nya. Aku memasrahkan diriku pada-Nya, Dzat yang juga menciptakanmu. Entah kapan halaman kita akan berakhir.

Pada gunung yang menopang negeri di atas awan, dan juga pada air jernih yang mengalir menyejukkan gersang. Maka ingatkah kau tentang kisah hujan yang mengetengahkan kisah cinta? Atau semerbak aroma hujan yang khas itu yang selalu kau rindukan? Pada setiap butirnya, kau memandangi. Damai, indah, penuh berkah. Kita masih menantikan datangnya hujan itu kembali. Menengadahkan kepala, memejamkan mata, membentangkan tangan, merasakan jatunya air dari angkasa raya sana. Lalu engkau berteriak kegirangan, menumpahkan segala keluh kesahmu, mensyukuri semua yang engkau sudah/sedang nikmati. Ya, hujan itu meninggalkan kita.

Pada mutiara yang tersembunyi di tempat gelap, dan juga pada emas yang bersembunyi di dalam bumi. Kita menyimpan jiwa kita, meneguhkan rasa, menjadikannya kuat agar tetap berjalan beriringan di dalam bahasa kita masing-masing. Jika kita adalah sepasang rel yang menjadi tumpuan kereta, maka mari kita lihat, apakah di depan sana kita akan bersatu layaknya jalur rel kereta api yang meninggalkan stasiun? Ataukah kita tetap pada jalur kita masing-masing layaknya double track yang sedang ramai diperbincangkan banyak orang itu?

Padamu, dan juga pada dirimu

Aku menunggu

 

Jakarta, 7 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s