Sewaktu kuliah, dosen saya di kampus selalu meminta saya berhati-hati dalam menggunakan internet sebagai bahan rujukan. Ya, di internet, semua orang bisa menulis apapun yang ia mau, termasuk berita abal-abal ataupun HOAX.

Dalam ilmu pengetahuan pun begitu, bobot ilmu yang dikutip dari sebuah jurnal jauh lebih dipertimbangkan daripada sebuah website ataupun blog karena ya itu tadi, semua orang bisa saja menulis semau dia tanpa kita tahu kadar keilmuannya.

Tapi sepertinya hal semacam ini sudah mulai tak diperhatikan lagi sekarang. Banyak diantara kita yang mudah percaya begitu saja dengan informasi yang ada di internet. Parahnya lagi, banyak diantara kita yang langsung membagikan informasi yang didapatnya tanpa mengecek kembali kebenarannya.

Ini bahaya!
Bayangkan kalau informasi itu salah, lalu kita share, maka orang lainpun akan juga mempercayai informasi yang tidak benar. Akhirnya yang terjadi di lapangan, sesama kita akan saling menghujat dan merasa paling benar karena informasi yang salah.

Terlebih sekarang penyebaran informasi di media sosial sungguh luar biasa. BBM misalnya. Banyak diantara teman saya yang sudah mulai mengeluhkan teman-temannya yang menyebarkan broadcast message (BC) setiap ada informasi yang menurutnya “penting” atau menarik, padahal mungkin itu hanya propaganda pihak-pihak tertentu untuk mengadu domba sesama kita.

Dalam masalah agama pun sekarang begitu. Banyak sekali orang yang “ngaji”-nya hanya di internet. Bayangkan, ngajinya saja di internet, bukannya malah ke majelis ta’lim ataupun mendatangi kyai yang mumpuni di bidangnya.

Sekarang ini banyak orang yang sudah merasa puas dan merasa benar hanya dengan membaca artikel di internet. Kalau ditanya rujukannya apa, biasanya mereka hanya menjawab, “google” atau website-website lain yang penting bernuansa Islam.

Wow…
Ini pendangkalan ilmu.

Saya diajari kalau mau belajar, maka harus ada gurunya karena kalau tidak, gurunya adalah setan.

Maka mari kita lihat, kalau berguru ke internet mungkin kita bisa berdalih guru kita adalah orang yang menulis artikel itu, tapi apa kita bisa jamin orang itu benar-benar paham tentang topik yang ia tulis? Apakah gelar Ustadz yang ia pakai di depan namanya sudah menjamin kedalaman ilmunya?

Sekarang ini kita kan sudah tidak tahu bedanya ustadz, gus, kyai, syekh, ulama, dan wali. Wong sekarang yang menentukan ustadz atau bukan juga media. Malah yang lucu lagi, sekarang yang menentukan seseorang wali atau bukan itu bukan lagi sesama wali, tapi travel perjalanan wisata. Loh kok bisa? Ya kapan-kapan kita bahas masalah ini.

Kembali ke masalah internet sebagai guru agama, kalau kita sudah puas hanya dengan apa yang kita dapatkan di internet, paling-paling kita akan ditertawakan santri-santri di Pondok Pesantren sana.

“Ckckck… Ngaji kok di internet!”

Bayangkan, para santri itu yang tiap hari kerjaannya ngaji kitab ini ngaji kitab itu dan segala macemnya sampai bertahun-tahun, bahkan sampai pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, juga belum merasa puas dengan ilmunya, kok malah banyak di antara kita saat ini yang hanya dengan membaca artikel lima menit sudah merasa paling ngerti agama, padahal bahasa Arab pun sama sekali tak tahu, apalagi nasab keilmuannya.

Orang-orang di pesantren itu menjaga nasab ilmunya. Misalnya saya berguru ke Z, Z berguru ke Y, Y berguru ke X, begitu seterusnya sampai ujungnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Allah swt. Apakah sekarang kita memperhatikan itu? Saya sendiri meragukannya!

Mungkinkah ini sebuah konsekuensi dari generasi “Y” yang serba instan dan tak menghargai proses? Ditambah lagi manusia Indonesia kini yang senang sekali latah akan sesuatu. Maunya ikut-ikutan dan mengedepankan “nuansa”.

“Pokoknya kalau website itu bernuansa Islam, saya percaya.”
“Pokoknya kalau nama penulisnya dari bahasa Arab saya percaya.”
“Pokoknya kalau ada dalilnya saya percaya.”
“Pokoknya kalau bersorban dan jenggotnya panjang saya percaya.”

Hmm…
Mungkin dia lupa kalau dulu Abu Jahal pun pakaiannya begitu. Hanya bedanya, pakaian Kanjeng Nabi itu sangat sederhana sedangkan pakaiannya Abu Jahal sangat bagus dan mewah. Penting juga untuk dibedakan antara Islam dan budaya Arab ya…

Saya tidak bermaksud melarang-larang anda mencari ilmu di internet, tidak! Saya hanya mengajak untuk menyadari pentingnya proses dalam pencarian ilmu. Pentingnya me-recheck setiap informasi yang ada. Pentingnya menyadari kapasitas diri kita, dan yang lebih utama, pentingnya menjaga kesatuan bangsa dan negara.

Terakhir, saya hanya ingin mengingatkan kembali dhawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam kitab Ta’lim Muta’allim (Kitab “wajib” para santri) bahwa ada enam syarat agar para pelajar berhasil dalam menimba ilmu, yaitu: (1) Cerdas, (2) Menyenangi ilmu, (3) Sabar, (4) Mempunyai bekal, (5) Menurut petunjuk guru, dan (6) Lama waktunya.

Maafkan atas kata-kata saya yang melukai perasaan. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua dengan ilmu. Aamiinn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s