Bayangkan anda punya dua orang tetangga. Keduanya sama-sama masih bujangan. Namanya bujangan tentu laki-laki, si A dan si B.

Si A ini hampir tiap hari lewat depan rumah anda dan hampir tiap hari juga anda selalu melihatnya. Mungkin karena kesibukannya atau karena faktor lain, si A ini dengan berbagai alasan tak pernah menyapa anda sama sekali. Lewat ya lewat saja. Pandangannya lurus ke depan, tak pernah menoleh-noleh ke arah rumah anda. Padahal rumah anda juga tak jauh-jauh amat dari jalan, artinya kalau pejalan kaki mengucap “monggo bu” sambil senyum saja pun anda akan mendengar dan melihatnya. Tapi itu tak dilakukan si A ini. Pokoknya si A itu tahu anda tapi tak pernah menyapa anda.

Berbeda dengan si B. Tetangga bujangan yang satu ini sesibuk apapun tetap menyapa anda ketika melintas di depan rumah anda. Minimal senyum selalu ia lemparkan pada anda ketika anda sedang duduk-duduk di teras rumah. Malahan si B ini sering sekali menyempatkan mampir barang sebentar ke rumah anda ketika sedang punya waktu luang. Ya walaupun topik yang dibicarakan juga tak begitu penting tapi paling tidak anda dan si B sudah sama-sama paham bahwa kedekatan hubungan tetap harus dijaga.

Pada suatu waktu, pohon mangga anda yang di depan rumah itu berbuah cukup banyak, banyak sekali malahan untuk ukuran keluarga anda yang hanya empat orang. Buahnya masak benar dan hampir setiap tangkai ada buahnya (orang Jawa bilang “rendhel”). Apalagi kalau kita mau memetiknya tak perlu repot-repot memanjat pohon, cukup berdiri di bawah pohon dan meraih buah mana yang anda inginkan, karena pohonnya memang tak terlalu tinggi.

Ke-molek-an buah mangga anda yang di pinggir jalan itu tentu menarik perhatian hampir setiap pejalan kaki, tak terkecuali si A. Sebagaimana kita tahu, si A ini tak pernah menyapa anda, padahal rumah si A juga tak jauh-jauh amat dari rumah anda.

Nah, entah bagaimana, tiba-tiba pada suatu sore si A ini meminta beberapa buah mangga yang masih segar di pohon depan rumah anda itu. Anda terkejut karena orang yang selama ini tak pernah menyapa tiba-tiba meminta beberapa buah yang anda miliki itu.

Sekali, dua kali, tiga kali, anda beri beberapa buah mangga itu kepada si A walaupun sebenarnya anda tak ikhlas. Semua itu karena kemurahan hati anda dan ketidakenakan perasaan anda sebagai tetangga. Namun yang keempat kalinya, anda mengambil keputusan untuk tak memberi buah mangga kepada si A karena ternyata sikap si A ini tak berubah walaupun anda sudah memberinya beberapa buah mangga.

Berbeda dengan si B. Si B ini malah tak pernah meminta buah mangga itu, tapi anda dengan sendirinya merasa berkewajiban memberi si B beberapa buah mangga. Semua itu karena faktor keakraban anda dengan si B. Keramahan si B pada anda tak pernah bisa dilupakan begitu saja. Ibaratnya, kalaupun si B ini tak meminta buah mangga, anda tetap mau memberinya, apalagi jika si B meminta, mungkin anda akan memberinya lebih dari yang si B minta. Anda ikhlas, anda ridho, anda merestuinya. Malah anda tak canggung bilang ke si B, “Kalau mau, ambil sendiri aja semaumu ya. Siapa tahu saya sedang tidak di rumah. Tak perlu izin lagi, ambil saja sebanyak yang kamu mau”.

Sampai di sini anda pasti sudah bisa menangkap maksud saya. Ya, anda akan lebih welcome kepada orang yang rajin menyapa anda daripada kepada orang yang tak pernah menyapa anda. Konsep yang saya sodorkan sudah dapat dimengerti maknanya kan ya? Nah, konsep itu juga ternyata berlaku bagi Tuhan.

Bayangkan jika anda tak pernah menyapa Tuhan. Anda tak pernah mengingat-Nya walaupun anda melalui rumah Tuhan setiap harinya. Anda tak pernah mau tahu tentang Tuhan walaupun Ia sangat dekat dengan anda. Dalam hal ini, anda sedang menjadi tokoh “si A” dalam cerita di atas. Maka ketika anda meminta, mungkin Tuhan memberi, tapi ridho atau tidak itu yang menjadi pertanyaan kemudian.

Berbeda jika anda dengan setia menyapa Tuhan dengan lembut, menyadari kehadiran-Nya, berbaik hati pada-Nya, rajin mengingat-Nya, dan selalu ber-khusnudzon pada-Nya, maka Tuhan pun tak segan-segan mencukupi hidup anda. Ia senantiasa meridhoi hidup anda. Ia mengangkat derajat anda, bahkan Ia mencintai anda. Ibaratnya anda tak meminta pun anda tetap akan diberi, apalagi kalau anda meminta kepada Sang Maha Memiliki itu.

Maka mari kita lihat ke dalam diri kita.

 

Sudahkah kita sebegitu dekat dengan Tuhan kita?

Apakah kita termasuk orang yang menyapa-Nya setiap hari dengan tulus ikhlas?

Pantaskah jika kita meminta semua permintaan kita dikabulkan sedangkan (mungkin) kita jarang sekali menyapa-Nya?

 

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menyapa Tuhan dengan penuh tulus ikhlas. Aamiinn…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s