Beberapa hari ini saya sedang disadarkan Allah bahwa jika kita terbiasa prihatin, sederhana, dan gak neko-neko, akan membuat kita tahan di segala kondisi, baik ketika dalam kondisi sengsara maupun kondisi yang sangat nyaman.

Berbeda dengan orang yang terbiasa memanjakan hidup, maka ketika dia berada pada posisi sengsara, ia tak tahan dan cenderung menyerah tak melanjutkan.

Contoh sederhananya apabila seseorang yang terbiasa makan-makanan sederhana seperti kangkung, tempe, tahu, atau apapun yang sederhana, maka ketika ia disuruh makan makanan yang lezat-lezat, ia fine-fine saja, karena baginya, makanan sederhana saja ia makan, apalagi makanan mewah.

Lain cerita jika ia sedari dulu memanjakan diri dengan makan makanan yang serba mewah dan mahal-mahal, maka ketika ia disuruh untuk makan makanan yang sederhana dan ala kadarnya, ia cenderung tak merasakan kelezatan apapun. Karena standart lidahnya sudah berbeda, kondisi “normal”-nya sudah lain, gaya hidupnya sudah berubah.

Maka tak heran jika ada orang yang melatih dirinya untuk tirakat dengan hanya makan ubi-ubian misalnya, atau tak memakan nasi putih selama beberapa tahun. Tujuannya adalah untuk melatih dirinya, mengontrol nafsunya, mengendalikan gaya hidupnya, atau men-tawadhu-kan hatinya.

Jika berkaca pada kondisi saat ini, kalau tak mampu tirakat seperti yang saya contohkan, sebenarnya dengan bergaya hidup sederhana dan tak berlebih-lebihan saja juga sudah cukup.

Namun sederhana yang seperti apa?

Indikator sederhana yang dipakai tentu indikator sederhana yang wajar layaknya kebanyakan orang, bukan indikator sederhana pada saat kita sedang bergaya hidup mewah karena indikator sederhana pada saat kita bergaya hidup mewah mungkin termasuk standart “mewah”-nya kebanyakan orang.

Maka yang diperlukan di sini selain kontrol diri, juga kepekaan sosial.

Bagaimana kita memposisikan diri di tengah masyarakat, atau jika dalam konteks hakikat hidup, kita bisa saja bertanya pada diri kita,

“Untuk apa saya hidup?”,

“Mau sampai kapan saya menuruti hasrat manusia yang tak pernah puas?”, atau

“Sudahkah saya menemukan Tuhan dalam gaya hidup saya selama ini?”.

Silahkan dijawab masing-masing di dalam hati.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tak berlebih-lebihan. Aamiinnn…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s