Halo… Gimana puasanya kawan? Lancar? Pasti sudah banyak ibadah yang dilakukan ya? Dari mulai tadarus, salat tarawih, sedekah, dan masih banyak lagi.

Tapi by the way sudah berapa kali hatam Quran di bulan Ramadhan ini? 7 Kali ? waaahhh…. Hebat…!!! Teruskan ya! 🙂

 

Well..

Satu hal yang mungkin jadi pelajaran bagi kita pada waktu kita berpuasa di bulan Ramadhan ini tentunya menahan hawa nafsu. Ya, satu hal yang terkadang kita suka lupa ya? Tapi ini satu hal yang harus kita lakukan. Terserah mau pakai kosakata apa, mau “menahan” mau “mengendalikan”, tapi intinya adalah kita diharuskan untuk mencapai keseimbangan di dalam tubuh kita.

Loh kok keseimbangan?

Iya!

Coba bayangkan kalau kita terus-terusan puasa sehari penuh tanpa makan dan minum, pasti tubuh akan meronta kan ? Begitu juga kalau kita makan terus sehari penuh pasti tubuh kita tak mampu menampungnya. Oleh karena itu, puasa juga berguna untuk mencapai keseimbangan. Siang hari kita puasa, malamnya kita diperbolehkan makan.

Kalau dilihat dari aspek hawa nafsu, tentunya selain tak boleh makan dan minum, kita juga sebaiknya mampu menjaga diri dari pandangan yang maksiat, menjaga diri dari pendengaran yang tak bermanfaat, menjaga emosi, dan lain-lainnya. Beberapa hal ini tak membatalkan puasa, hanya saja mengurangi pahala puasanya. Teman-teman pasti sudah hafal kan dalil tentang banyaknya orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga? Ya, itu karena mereka tak mampu menahan hawa nafsunya.

Jujur, bagi sebagian orang, ini yang sulit ketika puasa. Bagi kawan-kawan yang bekerja di kantor, mungkin kita tanpa sadar membicarakan atasan dengan asyiknya dan lupa kalau kita sedang berpuasa. Ini tentu mengurangi pahala puasa. Atau temen-temen yang masih muda jalan-jalan ke mall dan tanpa sadar melihat banyak sekali perempuan cantik yang membangkitkan syahwatnya, maka pahala puasanya pun berkurang. Ini mungkin salah satu ujian terberat bagi kawula muda yang pertumbuhan hormonnya sedang sangat bergejolak. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

Terlepas dari puasa ataupun tidak, sebenarnya menahan hawa nafsu juga perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari loh. Kadang saya sendiri suka usil kalau ada orang bilang, “Sssttt…. Lagi puasa gak boleh marah” atau “Puasa-puasa jangan ngomongin orang”. Maksudnya tentu baik, yaitu agar orang itu ingat bahwa perbuatannya mampu mengurangi pahala puasa yang dijalaninya, tapi redaksi seperti itu bisa menimbulkan pertanyaan lanjutan seperti, “Oh, berarti kalau gak puasa boleh marah ya?” atau “Oke deh. Nanti kalau udah lebaran kita ngegosip lagi ya bu?”. Nah, kalau sudah begini mau bagaimana? Artinya perlu ada kesadaran pada diri sendiri bahwa perbuatannya itu sebaiknya tidak dilakukan baik ketika puasa maupun ketika tidak puasa. Belum lagi masalah konsumsi makanan.

Seperti yang kita ketahui, pemerintah selalu memasok makanan yang lebih banyak di bulan Ramadhan dibandingkan di luar bulan Ramadhan. Artinya apa? Artinya jumlah konsumsi makanan masyarakat Indonesia menjadi lebih banyak di bulan Ramadhan daripada di luar bulan Ramadhan. Hal ini menjadi sangat kontras dimana kita dianjurkan untuk menahan hawa nafsu termasuk makan tapi nyatanya konsumsinya malah semakin banyak.

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum kalau bagi sebagian orang, momen berbuka puasa dijadikan ajang balas dendam untuk makan semua yang ada. Ya takjilnya, ya makanan pokoknya, ya cemilannya, dan macam-macamnya. Padahal menurut saya, perbedaan semua itu hanya terletak di lidahnya saja. Yang merasakan kan lidah, setelah masuk ke perut ya sesuai dengan kandungan gizi masing-masing makanan.

Nah ini yang mungkin perlu diperhatikan. Bagaimana seseorang itu memanjakan lidahnya dengan berbagai makanan yang enak dan lezat. Saya sedang tidak melarang teman-teman makan makanan yang enak, tapi menurut saya, jika kita makan makanan yang enak terus menerus maka lidah kita akan terbiasa dan saya khawatir suatu hari nanti ketika kita harus makan makanan seadanya, kita tidak berselera lagi untuk memakannya karena lidah kita sudah dibiasakan makanan-makanan yang enak dan lezat.

Nah saya pikir kontrol diri sangat perlu untuk terus diterapkan. Bukan apa-apa, toh efeknya nanti kita sendiri yang akan menanggunnya. Mungkin teman-teman juga sering melihat dan mendengar, banyak orang-orang yang sangat berhati-hati dengan kolesterolnya. Salah satu penyebabnya karena ketika makan sering tidak terkontrol dan sepuasnya sendiri. Padahal ilmu yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah “makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”, atau “isilah perutmu dengan 1/3 makanan, 1/3 minuman, dan 1/3 udara”, atau “makanlah sekedar untuk menegakkan punggung”. Saya tidak hafal redaksi aslinya, tapi yang pasti intinya adalah apa yang sudah saya tulis tadi.

Saya sendiri pun terkadang masih sering sekali lupa akan hal ini. Suka sekali tidak kontrol terhadap apa yang saya makan. Tetapi menurut saya, konsep prihatin yang diajarkan orang-orang tua kita sangat penting dan perlu untuk kita terapkan dan resapi. Setidaknya itu untuk melatih diri kita agar tidak terlalu menyenangi dunia. Saya sering menasihati diri saya sendiri agar jangan neko-neko terhadap berbagai hal, dan saya selalu teringat pesan Gus Mus (A. Mustofa Bisri) untuk tidak berlebihan-lebihan dalam berbagai hal.

Setelah saya resapi, saya mengamini dan merasakan sendiri dampaknya. Alhamdulillah saya ditakdirkan Allah agar tidak neko-neko dalam memilih makanan. Banyak teman saya yang bertanya, “Mau makan apa?” dan saya biasanya akan menjawab, “Semua makanan saya suka”. Dan memang benar, semua makanan saya makan. Adanya apa, itu yang saya makan.

Ini bukan berarti saya sering wisata kuliner, justru malah saya jarang sekali berwisata kuliner. Mungkin saya sempat hidup 4 tahun di Bandung dimana Bandung adalah salah satu kota tujuan untuk berwisata kuliner, tapi tidak tahu kenapa saya kurang begitu memiliki hasrat untuk berwisata kuliner atau mencicipi berbagai makanan yang dijual di Bandung. Dampaknya ketika saya ke Jakarta, saya terlihat seperti orang kampung yang sesungguhnya, dan memang saya tidak pernah memungkiri itu. 4 tahun di Bandung, alhamdulillah lidah saya cukup terpuaskan dengan makanan khas warteg, dan kalau ditanya makanan favorit, biasanya saya akan menjawab “Tumis kangkung dan Tempe Mendoan”.

Saya berpandangan bahwa enak dan tidak enaknya suatu makanan itu terletak pada syukur atau tidak syukurnya kita terhadap makanan itu. Kalau kita mensyukuri makanan yang kita mampu beli, rasanya sungguh sangat enak. Tapi kalau kita makan makanan yang dalam pikiran kita makanan tersebut bukanlah makanan yang kita inginkan, tentu makanannya akan berasa tidak enak.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum Ramadhan ini sebagai ajang untuk melatih diri sendiri agar tak terlalu neko-neko dalam berbagai hal. Syukur kita menentukan kualitas hidup kita.

“Siapa yang bersyukur, maka akan Allah tambah nikmatnya. Tetapi jika tak bersyukur, maka sesungguhnya azab Allah sangatlah pedih”.

 

Wallahua’lam…

 

Jakarta, 14 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s