Hari Jum’at telah tiba. Sebuah hari yang merupakan rajanya hari. Sebuah hari dimana setiap muslim laki-laki diwajibkan untuk sembahyang Jum’at di masjid dan setelah sembahyang Jum’at tak diwajibkan lagi untuk sembahyang dhuhur. Hari Jum’at juga merupakan hari dimana kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak selawat kepada Nabi junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW. Sebuah hari yang merupakan hari istimewa bagi saya pribadi dan mungkin juga bagi sebagian besar umat Islam.

Seperti biasa, pada hari ini, Jum’at 4 April 2014 atau bertepatan dengan tanggal 4 Jumadilakhir 1435 H, saya melaksanakan sembahyang Jum’at berjamaah di masjid dekat indekos. Jarak masjid dari indekos saya hanya sekitar 100 meter. Memang tak sebesar masjid raya, tapi cukup untuk menampung jamaah penduduk sekitar. Saya berangkat dari indekos menjelang adzan dhuhur. Di perjalanan saya masih mendengar takmir masjid sedang bertawasul kepada nabi dan arwah nenek moyangnya, saya pun mengikuti bacaan fatihahnya sembari berjalan dari indekos menuju masjid.

Sesampainya di masjid, takmir masjid masih menyampaikan beberapa pengumuman sebelum adzan dhuhur. Saya, seperti biasa, melaksanakan sembahyang tahiyatul masjid. Pada saat itu, belum banyak orang yang datang, padahal adzan dhuhur sudah hampir dikumandangkan. Shaf-shaf terdepan masih sangat kosong, hanya diisi beberapa orang saja. Posisi saya tidak di bagian shaf depan pada saat saya sembahyang tahiyatul masjid. Setelah selesai saya sembahyang, bedug di serambi masjid ditabuh menandakan adzan dhuhur akan segera dikumandangkan.

Pada waktu itu, saya sempat melihat seorang bocah kecil yang duduk di shaf yang kedua dari pengimaman. Umurnya mungkin sekitar 9 atau 10 tahun. Baju takwanya berwarna orange, serasi dengan kopiah dan celananya karena memang satu set. Ia bersama orang tuanya karena di sampingnya ada seorang bapak-bapak paruh baya sehingga bocah kecil itu tadi tak berani bermain dengan teman-teman lainnya.

Setelah selesai adzan, seperti biasa para jamaah mengambil posisi yang lebih depan dari shaf yang sebelumnya mereka tempati untuk melaksanakan sembahyang qobliyah Jum’at. Beberapa orang mulai memadati shaf terdepan, dan yang membuat saya terheran, si bocah kecil yang saya ceritakan tadi dengan tenangnya berdiri di belakang pengimaman dan melaksanakan sembahyang qobliyah Jum’at. Saya berdiri di baris kedua di belakang bocah kecil itu tadi karena memang di shaf yang pertama sudah penuh. Belakangan saya tahu bahwa bapak-bapak yang duduk di sebelah bocah kecil itu tadi bukan ayah kandungnya karena bapak-bapak yang saya maksud itu sembahyang di samping saya.

Ini tamparan telak bagi saya, bahkan bukan hanya tamparan, tapi pukulan telak. Bagaimana tidak, seorang bocah kecil yang umumnya bermain-main dengan teman-temannya ketika sembahyang Jum’at, ini dengan penuh kesadaran dirinya sendiri berdiri sembahyang sunah tepat di belakang pengimaman. Lha saya yang sudah 22 tahun kok kalah lomba dalam hal kebaikan, yang dalam hal ini posisi shaf terdepan.

Saya sedih karena hal itu, dan juga bersyukur. “Sedih” karena saya secara kualitas keimanan kalah dengan bocah kecil yang dengan tanpa disuruh berdiri dan memilih shaf yang terdepan. Ia tak salah, malah ia yang benar. Tak ada aturannya memang bahwa yang lebih tua yang boleh menempati shaf pertama, karena siapa yang cepat ya ia yang boleh menempati shaf pertama, walaupun di situ ada presiden! Jika presiden datang terlambat pun dan shaf pertama sudah penuh ya tinggal menempati shaf di belakangnya yang masih kosong. Justru ketika memaksakan untuk berdiri di shaf terdepan, itu perlu dipertanyakan karena kita sudah sama-sama tahu bahwa yang menentukan kualitas kita di mata Allah adalah derajat ketakwaan kita, bukan kedudukan dalam pemerintahan.

“Bersyukur” karena Allah masih sayang ke saya. Sayangnya dimana? Ya sayang karena Allah masih peduli dan mau mengingatkan saya secara langsung melalui bocah kecil itu. Mungkin Allah sedang ingin bertanya dengan nada menegur ke saya, “Kemana aja kamu? Kalah sama bocah kecil yang sudah dari tadi duduk di masjid dan sekarang ia berada di shaf terdepan!” Saya tertunduk malu dan menyadari betapa saya belum ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Ini juga sebagai pengingat saya untuk tak usah menyombongkan diri karena saya tak tahu derajat orang lain di mata Allah. Bisa saja orang lain itu lebih tinggi derajatnya daripada saya, atau saya yang derajatnya lebih rendah dari orang lain di mata Allah. Wallahua’lam.

Belum berhenti sampai di situ. Pada saat imam sedang khutbah, ada kotak amal yang diputar estafet melintasi setiap jamaah. Saya masih mengamati bocah kecil itu tadi. Dan, subhanallah…!!!, ia mengeluarkan uang recehannya lalu memasukkannya ke dalam kotak itu. Ini tak biasa! Dalam bayangan saya, itu adalah uang jajannya tapi sengaja ia sisihkan untuk ber-infaq. Saya tak mempersoalkan jumlahnya, tapi bukankah yang menentukan itu adalah keihlasan kita dalam memberi? Tak usahlah kita menghitung jika—misalnya—kita berinfak Rp 1.000 lalu nanti Allah akan menggantinya dengan 700 kali lipat, artinya kita akan dapat Rp 700.000 di kemudian hari. Seorang ulama mengatakan, “Jika demikian itu bukan bersedekah, tapi dagang! Jika memberi ya sudah memberi, tak usah dipikir nanti akan dapat apa. Itu namanya ikhlas”. Baru kemarin saya mendengarnya dan hari ini saya benar-benar ditunjukkan secara praktisnya. Maha Suci Allah yang selalu menunjukkan kebesaran-Nya jika kita mau berpikir.

Khutbah selesai, tiba saatnya untuk sembahyang Jum’at berjamaah. Saya tetap berdiri di shaf yang kedua karena memang shaf pertama sudah penuh. Ingin rasanya berpindah ke depan tapi apa daya keadaan tak memungkinkan. Oh iya, selama khutbah tadi, si bocah kecil itu tampak diam mendengarkan apa yang dikatakan imam di dalam khutbahnya. Hanya sekali ia tersenyum pada teman sebayanya di shaf pertama pojok. Berbeda dengan bocah kecil yang sedang saya ceritakan, bocah kecil yang di pojok itu duduk bersama ayahnya dan saya perhatikan ia sedikit lebih aktif dari bocah kecil di depan saya. Hanya itu saja bocah kecil di depan saya tersenyum menyapa temannya, selebihnya ia tampak khusyuk mendengarkan khutbah. Di luar sana terdengar beberapa bocah kecil yang bersuara menandakan mereka sedang bermain dengan yang lainnya. Lihatlah! Betapa bocah kecil nan sholeh di depan saya ini tak tergoda untuk ikut-ikutan gojekan dengan yang di luar sana. Subhanallah…!!!

Imam takbiratul ikhram, “Allahu akbar…!!!” menandakan sembahyang Jum’at dimulai. Saya masih berdiri menanti sekian detik hingga sekiranya penduduk asli sudah takbiratul ikhram semua. Mengapa ini saya lakukan? Ya karena saya bukan penduduk asli dan tidak masuk ke dalam hitungan 40 orang dalam sembahyang Jum’at. Dan sebagai pendatang, etikanya memang takbirotul ikhram kita setelah 40 penduduk asli sudah takbiratul ikhram semua. Sembari menunggu, saya masih memperhatikan bocah kecil di depan saya. Ia tampak benar-benar khusyuk dalam niatnya. Takbirotul ikhramnya bahkan hingga dua kali. Bukan berarti afdolnya dua kali tapi itu menandakan betapa seriusnya ia menata hati untuk bertemu dengan Tuhannya, Allah Swt.

Sembahyang berjamaah selesai, dan sang imam memimpin untuk membaca al-fatihah 7 kali, al-ikhlas 7 kali, al-falak 7 kali, an-nas 7 kali. Sembari saya mengikuti, saya masih juga memperhatikan bocah kecil itu dan sekali lagi yang membuat saja takjub adalah bocah kecil itu tak langsung beranjak pergi setelah selesai salam. Ia duduk sekitar satu menit baru ia kemudian meninggalkan saya yang masih membaca wirid rutin tiap selesai sembahyang Jum’at. Ingin rasanya saya mencium tangan bocah kecil itu, tapi apa daya ia sudah pergi terlebih dahulu. Seandainya ia masih duduk dan ikut bersalaman bersama dengan jamaah lain, saya berniat untuk mencium tangannya. Bukan apa-apa, berkat dialah saya menyadari betapa tak ada apa-apanya saya dalam hal kesigapan berjamaah. Bagi saya ia mulia dan saya dalam hati mendoakan kelak ia menjadi orang yang sholeh dan berbakti pada kedua orang tuanya. Alangkah senangnya orang tua yang memiliki putra seperti ia.

Allah, lindungilah ia dari mara bahaya, lindungilah keluarganya, lancarkan dan barokahkanlah rizki keluarganya, jadikan ia penerus bangsa yang memegang teguh akidahnya.

Aku berterima kasih karena Engkau telah mengingatkanku. Terima kasih untuk pelajarannya dan tetaplah mengisi hatiku karena dengan kehadiran-Mu aku merasa tenang. Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

 

Bandung, 4 April 2014 – setelah sembahyang Jemuah.

Advertisements

One thought on “Bocah Kecil yang “Menampar” Saya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s