Sewaktu saya kecil, orang tua saya sering memarahi saya. Bukan karena kenakalan saya yang minta ampun, tapi karena saya sering sekali tak menghabiskan makanan yang sudah saya ambil. “Oalah riihh… Harusnya kamu bersyukur bisa makan nasi. Lihat si anu yang untuk makan seperti kamu saja susah!” keluh Bapak dan Ibu saya.

Saat-saat itu berjalan sangat lama. tak cukup hanya sekali orang tua mengomeli saya tentang hal itu. Bahkan hingga bertahun-tahun.

Hingga pada saat saya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk atau orang biasanya menyebut baligh, saya mulai terbiasa menghabiskan makanan apapun yang sudah saya ambil.

Ada perasaan bersalah ketika saya tak menghabiskan makanan itu. Orang-orang di sekitar saya sering berkata, “makanannya itu nangis kalau enggak dihabiskan”. Entah benar atau tidak, yang jelas maksud dari kalimat itu untuk mengajak si pemakan agar menghabiskan semua makanannya.

Saya sering melihat para tetangga ataupun di suatu rumah makan membuang makanan sisa dari si pemakan. Rasanya seperti tak sopan saja. Makanan yang sudah dipersiapkan untuk dimakan, ternyata masih bersisa. Apabila kita pragmatis, tentu kita akan berpikir berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk membeli makanan yang pada akhirnya ternyata hanya dibuang begitu saja.

Bagi orang di kampung yang memiliki ayam peliharaan mungkin tak begitu menjadi soal karena makanan sisa bisa saja dilemparkan ke belakang rumah untuk di makan sang hewan peliharaan walaupun sebenarnya hal itu juga tak etis karena melanggar hak asasi kebinatangan. Mungkin sang ayam akan membatin, “Oalahh…. hanya diberi makanan sisa ternyata”.

Maka tak heran apabila teman-teman saya sering mengomentari saya, “Bersih sekali piringnya”. Bagi saya hal itu seperti sudah menjadi budaya karena di keluarga saya, bapak, ibu, dan saya selalu menghabiskan makanan di piringnya masing-masing. Tinggal adik saya yang masih perlu waktu untuk memahami hakikat dari pentingnya menghabiskan makanan yang telah diambilnya.

“Nah, kalau ngambilnya kebanyakan gimana?” Maka di sinilah pentingnya manajemen pengambilan makanan. Artinya, masa sudah sekian tahun makan, tidak tahu porsi yang kira-kira habis untuk diri sendiri?

Saya teringat pesan seorang kiai yang selalu menggelorakan semangat agar kita tidak berlebihan dalam hal apapun. Apakah seseorang yang sering tak menghabiskan makanan itu terlalu berlebihan dalam mengambil makanannya? Entahlah. Namun yang pasti, tak ada salahnya jika kita mengambil makanan sedikit dahulu daripada sekaligus banyak tetapi tak habis dimakan.

Ini hal sepele. Saya pribadi juga bertanya-tanya mengapa saya menuliskan hal-hal yang remeh temeh seperti ini. Tapi jujur saja saya sedang curiga. Kira-kira para pejabat itu kalau makan suka dihabiskan tidak ya?

Begini maksud saya. Sekarang ini banyak sekali proyek ataupun kebijakan yang tak selesai. Pembangunan sebuah gedung untuk fasilitas umum misalnya. Tiba-tiba berhenti di tengah jalan ataupun selesai tapi tak sempurna. Penyebabnya tentu macam-macam, mulai dari perijinan lah, keuangan lah, sampai kepentingan politik yang melatarbelakanginya.

Saya hanya ingin mengaitkan kemandegan dari beberapa proyek itu dengan kebiasaan para pejabat-pejabat menghabiskan makanannya. Dari hal yang sangat sederhana saja. Mereka menghabiskan makanan pada saat makan tidak? Karena pendidikan yang dibawa dari rumah itu juga akan memengaruhi perilakunya sehari-hari, dalam hal ini pendidikan untuk menghabiskan makanan yang telah diambil. Ada nilai tanggung jawab yang perlu ditaati. Selain itu juga ada nilai-nilai yang mengharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukannya.

Ini tak perlu untuk lalu dijadikan undang-undang dan disahkan oleh DPR yang nantinya akan berbunyi, “Setiap warga negara wajib menghabiskan makanan yang telah diambilnya pada saat makan”. Itu konyol namanya dan lagi nanti hanya akan jadi proyekan para pejabat yang terhormat itu. Wong mengesahkan undang-undang yang ditargetkan selesai pada tahun tertentu juga nyatanya tak selesai. Betapa sibuknya mereka itu. Maka dari itu, cukup ini tetap menjadi nilai di antara warga masyarakat karena toh ini hanya pemikiran saya dan saya yakin beberapa di antara kita ada yang kurang setuju dengan yang saya ungkapkan.

Nah, bagi yang setuju, mungkin nanti ketika kampanye presiden dan wakil presiden, kita bisa menghidangkan makanan ke semua kandidat lalu kita cukup lihat siapa yang menghabiskan makanannya karena sekali lagi, itulah cerminan kepribadian dari masing-masing individu walaupun teori yang saya ungkapkan belum teruji validitasnya!

 

Cilacap, 2 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s