Pertunjukkan itu baru saja digelar. Daftar pemain dibacakan, gendhing Jawa sudah ditabuh sejak tadi. Aneh. Hanya beberapa orang saja yang duduk dan membentuk beberapa kelompok di depan panggung persis. Mungkin nanti akan semakin banyak. Nyatanya, pertunjukkan Parade Kethoprak itu tetap bertahan dengan beberapa penonton yang tak sampai 100 orang.

Panggung Kethoprak terletak di dekat keraton. Dalam jajaran Sekaten, itulah posisi paling belakang jika dilihat dari pintu masuknya di dekat kantor KM 0. Untuk mencapainya, kita mesti melewati berbagai macam wahana hiburan dan pedangang pasar malam yang penuh sesak dengan pelancong. Suara iklan wahana maupun produk yang diperdagangkan mengaung di sana-sini. Ironis.

Kehikmatan Kethoprak sebagai aset budaya bangsa yang digembar-gemborkan untuk dilestarikan hanya menarik beberapa pasang mata pencintanya. Sisanya, asyik menikmati wahana dan berbealanja dengan putra-putrinya. Belum lagi suara bisingnya yang seakan menyaingi kesakralan gendhing Jawa yang ditabuh.

Generasi sekarang, bahkan mungkin beberapa orang dewasa, sudah tak kenal lagi siapa itu Panembahan Senopati, apa pula itu cerita Kasan Kusen, dan beberapa kisah tentang kesaktian walisongo. Mereka akan dengan sigap menjawab pertanyaan tentang kabar Rumana ataupun kisah tentang meninggalnya Haji Sulam.

Sinetron sudah menjadi “deresan” wajib para keluarga selepas maghrib. Anak-anak dan penghuni rumah sampai hafal jalan cerita dan nasib masing-masing pemerannya. Maka penyebab adanya kemerosotan moral generasi muda Indonesia jangan hanya dialamatkan kepada sistem pendidikannya, wong anaknya saja tak diberi kesempatan untuk belajar karena diajari budaya menonton sinetron di rumahnya setelah maghrib. Padahal kata pak Kyai, waktu selepas maghrib itu waktu yang mustajabah untuk berdoa dan belajar.

Dulu di kampung-kampung, ada nilai yang dipatuhi oleh seluruh warganya tanpa perlu ditulis ataupun disahkan oleh DPR RI. Bahwa ketika maghrib tiba, seluruh TV dimatikan dan kegiatan di rumah diisi dengan kegiatan keagamaan mulai dari sembahyang hingga mengaji. Orang-orang akan malu jika tetangga memergoki keluarganya sedang menonton TV pada saat maghrib. Nampaknya nilai itu sampai sekarang masih tetap lestari, hanya bergeser sedikit. Yang dulunya orang akan malu jika ketahuan menyalakan TV saat maghrib karena akan dicap tidak tahu waktu, maka sekarang orang akan malu jika ketahuan nongkrong menonton kethoprak, wayang, ataupun tari tradisional. “Ketinggalan jaman”, katanya. “Enggak gaul”, ucapnya. “Tradisionil”, tandasnya.

Tak heran jika perubahan Indonesia tak akan pernah berhasil tanpa adanya komitmen dari media untuk tak melulu memikirkan rating dan hal-hal yang berbau komersil lainnya. Memang, beberapa acara di TV sudah memadukan kebudayaan dengan acara pokoknya, tapi yang perlu dibedakan adalah apakah kebudayaan benar-benar hadir dalam acara itu atau hanya kesan kebudayaan yang dihadirkan. Jika hanya kesan, maka yang terjadi adalah “yang penting ada bau kebudayaan”. Masalah nilai dan normanya, itu urusan nanti. Yang penting rating tinggi, penonton senang, honor pun jalan.

Sekarang kita sering terjebak dengan budaya kesan. Apalagi budaya, Tuhan saja diatur sedemikian rupa sehingga yang ada hanya kesan yang dimunculkan. Lihat saja siaran adzan di beberapa TV. Jeda antara satu kalimat dengan kalimat yang lain dipersingkat agar tak terlalu lama sehingga hanya beberapa detik saja siaran adzan itu. Setelah itu, balik lagi ke sinetron. Padahal jeda itu penting untuk menyelaraskan hati dan suasana. Belum lagi ketika Ramadhan tiba yang acara hiburannya malah lebih banyak daripada aplikasi dari esensi Ramadhan itu sendiri.

Nah, oleh karena kemajuan bangsa Indonesia yang begitu nyinetron itu, maka mari kita sama-sama mendoakan agar Haji Muhidin kembali kepada jalan yang lurus dan mendapatkan hidayah dari Allah swt. Aamiinn…

Yogyakarta, 31 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s