Lama rasanya saya tak menulis sesuatu di blog ini. Biasanya entah itu coretan penting ataupun tak penting saya tuliskan di blog ini walaupun sebenarnya tak pandai-pandai amat saya menulis. Hehe…

Selama beberapa bulan yang lalu, tepatnya mulai tanggal 23 September hingga 10 Desember 2013, saya memang tak berada di kota perantauan saya (Bandung) ataupun di kota kelahiran (Cilacap). Saya menyeberang ke provinsi paling timur pulau Jawa. Ya, Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Pare. Bagi yang sudah pernah ke sana atau yang pernah memabaca mungkin sudah dapat menebak ada destinasi apa di tempat itu. Bagi yang belum mengetahui, tenang saja. Saya akan berbagi cerita sedikit tentang destinasi itu. Orang-orang biasanya akan memanggil dengan sebutan “Kampung Inggris”.

Awalnya saya tidak begitu tertarik untuk menuliskan pengalaman saya berada di Kampung Inggris, tapi terdorong oleh banyaknya teman yang bertanya pada saya apa itu Kampung Inggris dan bagaimana cara hidup di sana, maka saya putuskan untuk menuliskan pengalaman saya yang hanya 2,5 bulan hidup di sana. Harapan saya, semoga setelah membaca pengalaman saya ini, teman-teman akan memiliki gambaran tentang Kampung Inggris yang terkenal hampir di seluruh Indonesia itu.

Pengalaman ini saya susun berdasarkan berbagai pertanyaan saya pada saat sebelum study tour ke Kampung Inggris. Dari mulai penjelasan tentang apa itu Kampung Inggris hingga lingkungan di sekitar sana. Sumber pengalaman ini murni berasal dari pengetahuan saya tentang Kampung Inggris, sehingga mungkin teman-teman akan menemui kekuranglengkapan informasi yang ada. Oleh karena itu, saya sarankan untuk mencari sumber informasi lain selain dari tulisan saya. Jika sudah merasa cukup informasi tentang Kampung Inggris, segeralah bergegas. Siapkan peralatan tempur, berdoa kepada Tuhan, lalu berangkat ke Kampung Inggris dengan niat menimba ilmu. Insya Allah berkah. Hehe…

What is Kampung Inggris?

Zone of Kampung Inggris

Kampung Inggris adalah sebuah tempat dimana banyak terdapat lembaga pengajaran bahasa Inggris yang terletak di desa Tulungrejo kecamatan Pare kabupaten Kediri. Awalnya saya mengira semua wilayah dari desa Tulungrejo adalah Kampung Inggris, tetapi ternyata pada saat saya berkunjung ke sana, Kampung Inggris merupakan bagian dari desa Tulungrejo. Dapat saya katakan bahwa besar wilayah Kampung Inggris setara dengan sebuah dusun (lebih kecil dari desa) walaupun tidak ada nama dusun “Kampung Inggris” karena Kampung Inggris tak terbatas hanya pada satu dusun. Tidak ada batas pasti sejauh mana Kampung Inggris itu, karena lembaga pengajaran bahasa Inggris umumnya akan saling bedekatan satu sama lain. Selama di situ masih terdapat lembaga pengajaran bahasa Inggris, maka dapat kita katakan bahwa itu masih wilayah Kampung Inggris.

 

History of Kampung Inggris

Saya mulai dengan mengetengahkan sejarah dari Kampung Inggris. Berdasarkan apa yang saya ketahui, dahulu ada seorang pendatang dari Pulau Kalimantan di desa Tulungrejo. Beliau pandai berbahasa Inggris. Hingga pada suatu hari, beberapa orang meminta dirinya untuk mengajari bahasa Inggris. Beliau tak mau menarik bayaran dari para muridnya. Beliau hanya minta untuk disediakan kapur sebagai alat tulis untuk mengajari mereka.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan bahasa Inggris para muridnya sudah mumpuni sehingga beberapa dari mereka memutuskan untuk membuka lembaga pengajaran bahasa Inggris. Kabar tentang kemampuan bahasa Inggris bapak yang mengajari para muridnya ini juga tersebar luas hingga para murid dari luar daerah berdatangan untuk belajar bahasa Inggris di daerah tersebut baik kepada bapak yang sudah saya ceritakan sebelumnya maupun kepada para muridnya yang sudah membuka lembaga pengajaran bahasa Inggris sendiri.

Saat ini lembaga pengajaran bahasa Inggris milik bapak yang dulu mengajari warga sekitar bahasa Inggris masih berdiri dan dapat saya katakan lembaga tersebut adalah lembaga pengajaran bahasa Inggris tertua dan terbesar di Kampung Inggris. Untuk dapat menjadi murid dari lembaga bahasa Inggris tersebut, kita diharuskan mendaftarkan diri jauh-jauh hari sebelum pembelajaran dimulai. Lama studinya enam bulan dan metodenya seperti sekolah formal (terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi seperti: memakai seragam, atribut pakaian, dan lain-lain).

Lalu bagaimana dengan lembaga pengajaran bahasa Inggris selain milik bapak yang sudah diceritakan sebelumnya? Saat ini banyak sekali lembaga pengajaran bahasa Inggris di Kampung Inggris. Masing-masing dari mereka memiliki latar belakang tersendiri tetapi biasanya pendiri atau pengajar di salah satu lembaga pengajaran bahasa Inggris merupakan lulusan dari salah satu lembaga pengajaran bahasa Inggris di Kampung Inggris, baik dari tempat yang sama maupun dari tempat yang berbeda.

English course in Kampung Inggris

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, di Kampung Inggris terdapat banyak sekali tempat kursus bahasa Inggris. Jumlahnya ratusan. Tempatnya tersebar di desa Tulungrejo tapi umumnya bedekatan satu sama lain. Saya sering mengibaratkannya seperti home industry pada sebuah perkampungan yang rata-rata penduduknya adalah pengrajin dari salah satu komoditas.

Masing-masing lembaga memiliki programnya tersendiri, mulai dari speaking hingga grammar. Walaupun begitu, terdapat beberapa lembaga yang sudah terkenal dengan keahlian khususnya, misalnya lembaga A ahli di pengajaran speaking, lembaga B ahli di pengajaran grammar, dan lain sebagainya. Satu hal yang saya sadari pada saat berada di Kampung Inggris ternyata bahasa Inggris memiliki banyak sekali bagian-bagian yang sebaiknya dikuasai seperti speaking, grammar, pronounciation, grammar, vocabulary, listening, reading, dan lain-lain. Tapi tenang saja, semua bagian dari bahasa Inggris yang sudah saya sebutkan sebelumnya bisa dipelajari Kampung Inggris. Tinggal doa dan usahanya saja untuk belajar bahasa Inggris. Hehe..

Semua program di lembaga pengajaran bahasa Inggris (kecuali lembaga kursusan tertentu seperti milik bapak yang sudah saya ceritakan sebelumnya) dimulai pada tanggal 10 dan tanggal 25 setiap bulannya. Jadi kita bisa memilih akan memulai belajar pada tanggal 10 atau tanggal 25. Selesai programnya tergantung tenggang waktu program yang diambil. Ada program satu minggu, dua minggu, satu bulan, hingga beberapa bulan. Namun umumnya, durasi waktu dari setiap program adalah dua minggu atau satu bulan.

Biasanya teman-teman yang datang ke Kampung Inggris tak hanya mengambil satu program di satu lembaga, tetapi mereka mengambil beberapa program (misal speaking dan grammar) di tempat yang sama maupun di tempat yang berbeda.

“Bagaimana dengan jadwalnya? Apakah tidak bentrok?”

Tenang saja. Setiap lembaga memiliki brosur program yang disertai dengan jadwal belajarnya. Teman-teman bisa mengambilnya di lembaganya secara gratis atau bisa melihatnya di alamat website-nya. Biasanya mereka akan meng-update brosur tersebut setiap bulan karena mungkin terdapat beberapa perubahan terkait program yang disediakan. Tetapi brosur untuk di website, saya kurang begitu yakin karena, sepengetahuan saya, tidak semua lembaga pembelajaran bahasa Inggris memiliki website yang up-to-date. Jadi saran saya, sebaiknya teman-teman “berkelana” ke beberapa lembaga lebih dulu untuk mengetahui jadwal dan program yang tersedia.

Nah, dari brosur tersebut kita dapat memperkirakan waktu yang kita miliki dan akan mengambil berapa program dalam sehari. Pembelajaran bahasa Inggris di Kampung Inggris biasanya dimulai dari setelah shubuh (05.30) hingga pukul 09.00 malam. Umumnya, para pelajar mengambil dua atau tiga program setiap periodenya sehingga setiap harinya memiliki lima hingga tujuh kelas belajar karena satu program biasanya memiliki satu, dua, atau tiga kali kelas belajar setiap harinya. Namun saya tidak memungkiri ada juga pelajar yang hanya mengambil satu program selama satu periode. Tinggal disesuaikan dengan waktu yang dimiliki serta ketahanan berpikir masing-masing individu.

Sekedar berbagi, saya pernah bertanya kepada salah satu pengajar saya,

“Sebaiknya berapa kelas maksimal perhari yang diambil?”

Beliau menyarankan agar jangan lebih dari lima kelas karena kita juga perlu untuk me-review pelajaran yang sudah diterima pada setiap kelasnya. Tapi kembali lagi, setiap individu memahami kemampuannya masing-masing. Tinggal disesuaikan saja.

Untuk pendaftarannya, teman-teman bisa mendaftar via online atau datang langsung ke tempat tujuan dan mendaftar di sana. Jika memang sudah mengetahui lembaga yang akan dituju, saran saya sebaiknya telepon dulu tempat kursusnya untuk mengetahui ketersediaan program dan kemungkinan mendapatkan kursi di program tersebut karena terkadang, saking banyaknya peminat pada program tersebut, para pendaftar yang mendaftar mendekati hari dimulainya program tidak mendapatkan kursi. Alhasil harus menunggu periode selanjutnya jika memang ingin tetap mengambil program tersebut. Tetapi jika memang belum mengerti lembaga yang akan dituju, teman-teman bisa bertanya ke teman lainnya yang sudah pernah belajar di Kampung Inggris atau melakukan riset sendiri agar lebih sesuai dengan keinginan. Jika memang program yang diinginkan masih tersedia kursi, batas maksimal pendaftaran biasanya H+2 atau H+3 dari hari pertama masuk kelas karena jika lebih dari itu dikhawatirkan akan tertinggal dari teman-teman yang sudah masuk dari hari pertama.

How to go there?

Setelah penjelasan sekilas tentang Kampung Inggris dan program-programnya, kini kita beralih ke transportasi umum yang digunakan agar dapat sampai ke Kampung Inggris. Terdapat beberapa alat transportasi umum yang biasanya digunakan, yaitu: kereta api, bus, dan pesawat terbang.

Selama saya belajar di Kampung Inggris, saya selalu menggunakan kereta api untuk pulang dan pergi dari Kampung Inggris ke rumah saya sehingga saya akan lebih banyak menguraikan bagaimana cara mencapai Kampung Inggris melalui kereta api. Tapi saya juga akan memaparkan sekilas tentang alat transportasi lainnya berdasarkan cerita dari teman-teman saya yang sudah mencobanya.

By train

Bagi teman-teman yang ingin mencapai Kampung Inggris menggunakan kereta api, bisa turun di stasiun Kediri atau Jombang.

“Loh kok Jombang?”

Ya, karena jarak dari stasiun Jombang ke Pare hampir sama dengan jarak dari stasiun Kediri ke Pare walaupun tetap masih lebih jauh Jombang. Selisihnya sekitar 5 km.

Jika teman-teman sudah turun di stasiun kediri, teman-teman bisa menggunakan jasa angkutan becak yang menunggu di depan stasiun. Becaknya seragam berwarna kuning. Biasanya para tukang becak sudah mengerti dan menawari kepada beberapa orang yang “dicurigai” akan menuju Kampung Inggris.

“Kampung Inggris mas… Kampung Inggris mbak..”

“Apakah hanya menggunakan becak kita sudah bisa sampai Kampung Inggris?”

Tentu tidak. Dibutuhkan waktu kurang lebih setengah hingga satu jam untuk mencapai Kampung Inggris dari stasiun Kediri. Jika teman-teman memilih naik becak, nanti teman-teman akan diturunkan di jalan yang menuju Pare. Di situ teman-teman tinggal menunggu angkot ataupun bus yang menuju Kampung Inggris.

“Bagaimana tarifnya?” Nah ini pertanyaan mainstream. Hehe…

Untuk becak, biasanya mereka mematok harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Untuk angkot, bervariasi. Tergantung sopirnya. Ada yang Rp 15.000 bahkan ada yang hingga Rp. 35.000 (ini berdasarkan penuturan teman saya).

“Kok mahal banget? Ada alternatif lain yang enggak ribet?”

Ada. Banyak tersedia jasa penjemputan di Kampung Inggris yang siap sedia menjemput teman-teman dari stasiun kediri. Biasanya banyak tersedia di website-website tentang Kampung Inggris atau bisa juga googling untuk menyewa jasa penjemputan tersebut. Harganya sekitar Rp 35.000.

“Yang paling murah naik apa?”

Mungkin cara yang saya tempuh untuk mencapai Kampung Inggris merupakan cara yang paling murah. Saya hanya perlu merogoh kocek Rp 6.000 dari stasiun menuju Kampung Inggris.

Cara yang saya tempuh yaitu ketika saya turun dari kereta di stasiun kediri, saya berjalan kurang lebih 500 meter ke arah utara menyisir rel kereta api. Setelah sampai pada perlintasan rel kereta api yang kedua, berhentilah di situ lalu menunggu bus “Puspa Indah” jurusan Malang yang ke arah utara. Bilang saja ingin turun di Kampung Inggris, nanti teman-teman akan di turunkan di depan Kampung Inggrisnya.

Saya tidak merekomendasikan cara yang saya tempuh ini ke semua orang karena saya sadar bahwa berjalan 500 meter di bawah cuaca yang cukup panas dengan beban tas yang tidak sedikit belum tentu mampu dilalui oleh semua orang. Maka saya kembalikan lagi kepada teman-teman karena ini berkaitan dengan persepsi dan kemampuan masing-masing.

“Lalu bagaimana dengan Stasiun Jombang?”

Nah, kalau yang ini saya kurang begitu paham. Teman-teman bisa cari informasinya di google atau menggunakan jasa penjemputan yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

“Bagaimana dengan jadwal keretanya?”

Untuk jadwal kereta, teman-teman bisa berkunjung ke website tiketkai.com / tiket.com / website resmi PT. KAI (khusus kereta api bisnis dan eksekutif) untuk melihat jadwal dan ketersedian kereta ke stasiun Kediri atau Jombang. Setelah menentukan kereta yang akan dipakai, teman-teman bisa membeli tiketnya secara online di website tersebut atau ke stasiun terdekat atau bisa juga ke agen penjualan tiket (seperti alf*mart, ind*maret, dll).

By bus

Untuk bus, biasanya para pelajar akan turun di terminal Kediri. Setelah itu mereka akan menggunakan bus lagi untuk mencapai Kampung Inggris. Bus yang seperti apa dan seperti apa mekanismenya saya kurang begitu paham. Teman-teman bisa mencarinya di google atau bertanya ke teman yang pernah mencobanya.

By plane

Untuk pesawat terbang, biasanya teman-teman yang dari luar pulau Jawa akan turun di bandara Juanda Surabaya. Setelah itu mereka naik travel yang akan mengantarkannya ke Kampung Inggris, hanya saja saya tidak begitu paham mekanismenya. Teman-teman bisa mencarinya di google atau bertanya ke teman yang pernah mencobanya.

What about the cost?

Estimasi biaya sebenarnya tergantung kebutuhan masing-masing individu. Tapi biasanya saya mengatakan, “kalau prihatin, sekitar satu juta rupiah per bulan”. Alokasinya sebagai berikut:

Sewa sepeda               : Rp 50.000

Program                       : Rp 350.000

Boarding house           : Rp 200.000

Makan                         : Rp 400.000

Sekali saya tekankan, jumlah biaya yang dikeluarkan tergantung dari kebutuhan masing-masing individu. Estimasi tersebut hanya gambaran kasar agar teman-teman dapat memperkirakan kebutuhannya masing-masing.

What about the environment?

Sebagian besar penduduk Kediri beretnis Jawa. Oleh karena itu, lingkungan Kampung Inggris merupakan lingkungan dengan budaya Jawa. Lingkungan Kampung Inggris adalah lingkungan pedesaan. Interaksi sosial dengan penduduk sekitar sangat intens. Semua penduduk asli Kampung Inggris sudah mengerti bahwa di kampungnya banyak terdapat pendatang dari seluruh Indonesia sehingga mereka tak segan-segan untuk bebicara dengan bahasa Indonesia.

Mungkin teman-teman pernah mendengar bahwa lingkungan di sekitaran Kampung Inggris selalu menggunakan bahasa Inggris, termasuk ketika berbicara dengan penduduk asli sana. Pada saat saya di Kampung Inggris, hal itu tidak terjadi. Sebagian besar penduduk sekitar berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. mungkin pada beberapa bagian dari Kampung Inggris, terdapat penduduk yang berbicara menggunakan bahasa Inggris, tetapi saya belum menjumpainya. Kalaupun ada, mungkin hanya beberapa saja.

Jadi bagi teman-teman, jangan sungkan-sungkan untuk berinteraksi dengan warga sekitar jika merasa bahasa Inggrisnya belum bagus karena warga sekitar sangat memahami bahwa masing-masing dari kita berasal dari etnis yang berbeda-beda sehingga bahasa persatuan bahasa Indonesia bisa digunakan sebagai alat komunikasi efektif di sana.

Jika bisa berbahasa jawa, silakan gunakan kemampuan tersebut untuk berinteraksi dengan warga sekitar. Tapi pesan saya, hormatilah mereka, termasuk dalam berkomunikasi. Bagaimanapun juga, kita adalah pendatang yang datang ke wilayah orang lain. Jika berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, berkomunikasilah dengan sopan. Jika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa, silahkan menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Jika tak bisa, tinggal menyesuaikan saja.

Selain banyak terdapat lembaga pengajaran bahasa Inggris, di Kampung Inggris juga terdapat banyak lembaga pengajaran subject lainnya, seperti bahasa Jepang, bahasa Arab, matematika, dan lain-lain. Selain itu, di Pare juga cukup banyak terdapat pondok pesantren, sehingga bagi teman-teman yang ingin sekalian mondok atau mesantren di sana, bisa juga di coba karena sepengetahuan saya, dari beberapa buku tentang pesantren yang saya baca, pondok pesantren di Pare juga sering disebut sebagai bagian dari sejarah pesantren nasional. Kegiatan keagamaan di Pare juga masih terjaga seperti kenduri, selawatan, yasinan bersama, dan lain-lain. Maka dari itu, jangan kaget jika di Pare banyak sekali santri yang mondar-mandir kesana kemari. Hehe…

Sudah saya singgung sebelumnya bahwa pelajar di Kampung Inggris berasal hampir dari seluruh indonesia. Maka benturan budaya (dalam arti positif) antara satu orang dan lainnya sangat mungkin terjadi. Kita dapat belajar tentang budaya orang lain juga di Kampung Inggris. Hal itu (menurut saya) semakin menyadarkan bahwa Indonesia kita ini kaya akan budaya dan bahasa.

Jika boleh sedikit curhat, saya sangat salut kepada para pelajar di Kampung Inggris, terutama yang berasal dari luar pulau Jawa. Bagaimana tidak, mereka rela melewati jarak yang tak dekat untuk belajar bahasa Inggris. Maka jangan kaget jika teman-teman akan memiliki banyak mimpi pada saat belajar di Kampung Inggris karena, menurut saya, kita sedang belajar tentang salah satu kunci untuk meraih mimpi-mimpi kita itu, yaitu bahasa Inggris.

Bermacam-macam motif para pelajar belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, mulai untuk memenuhi syarat pekerjaan, hingga berkuliah di luar negeri. Oleh karena kita akan berkumpul dengan orang yang membawa mimpinya masing-masing, maka saya tidak bertanggungjawab jika teman-teman juga akan kembali menampilkan mimpi-mimpinya yang mungkin sempat padam. Hehe…

Untuk makanan, jangan khawatir. Penduduk sana sudah menyadari kebutuhan pokok setiap pelajar, makan! Maka banyak sekali warung-warung makan yang menyediakan berbagai macam makanan untuk para pelajar. Untuk masalah harga, hampir semua pelajar sepakat bahwa makanan di Pare itu murah meriah.

Yang perlu diingat, cita rasa yang disuguhkan tentu akan didominasi dengan cita rasa Jawa Timur. Maka hal ini juga perlu diperhatikan, terutama bagi yang tidak terbiasa dengan cita rasa masakan Jawa atau yang biasanya makan makanan dengan cita rasa daerahnya saja karena banyak teman saya yang memiliki masalah dengan cita rasa makanan di Kampung Inggris, bahkan seorang teman saya hanya memakan mie instan selama beberapa minggu karena lidahnya sama sekali tak cocok dengan cita rasa Jawa Timur. Kalau sudah begini, maka beruntunglah orang yang memiliki fleksibilitas cita rasa. Hehe..

Pada estimasi biaya, saya singgung tentang penyewaan sepeda. Ya, di Kampung Inggris banyak sekali tempat penyewaan sepeda dari berbagai macam model, mulai dari model sepeda tua (onthel) hingga model sepeda terbaru. Seolah hampir setiap pelajar di sana mewajibkan diri untuk menyewa sepeda karena sepeda merupakan alat transportasi utama dan murah meriah untuk bepergian di sekitaran Kampung Inggris. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 100.000, tergantung model dan umur sepeda itu.

Selain menyewa, juga ada pelajar yang membeli sepeda di sana. Biasanya mereka yang akan tinggal cukup lama di Kampung Inggris, akan membeli satu sepeda. Setelah itu, mereka akan menjualnya kembali ketika akan pulang ke tempat asalnya. Hal itu terjadi karena, menurut mereka, ongkos yang dikeluarkan akan lebih murah, atau setidaknya sama dengan menyewa sepeda per bulan.

Untuk tempat tinggal, terdapat dua pilihan jenis tempat tinggal, yaitu: rumah indekos atau camp. Harganya bervariasi, tergantung fasilitas yang tersedia. Umumnya berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp. 400.000. Biasanya satu kamar terdiri atas lebih dari satu orang. Ada juga yang satu kamar untuk satu orang tetapi tentunya lebih mahal dari yang satu kamar untuk beberapa orang.

Kos-kosan atau indekos biasanya dimiliki oleh warga sekitar yang tidak memiliki lembaga pengajaran bahasa Inggris. Tempatnya biasanya menyatu dengan yang punya kos-kosan. Tidak ada program yang berkaitan dengan bahasa Inggris di dalamnya, artinya para pelajar hanya ikut tinggal tetapi tidak ikut belajar di kos-kosan tersebut.

Camp biasanya dimiliki oleh lembaga pengajaran tertentu, tapi ada juga yang dimiliki oleh lembaga yang hanya menyediakan camp saja. Biasanya camp memiliki program-program tertentu yang wajib diikuti penghuninya. Jadwalnya bervariasi. Ada yang pagi, ada yang malam, ada juga yang pagi dan malam. Programnya tentu yang berkaitan dengan bahasa Inggris, mulai dari speaking hingga grammar. Terdapat beberapa camp yang mewajibkan penghuninya berbicara dengan bahasa Inggris. Orang-orang menyebutnya dengan “English Area”. Penghuni camp diharuskan untuk berbicara bahasa Inggris. Tujuannya tentu agar fasih berbahasa Inggris karena kuncinya adalah “practice makes perfect”. Jika tidak berbicara bahasa Inggris di English Area, biasanya masing-masing camp mempunyai mekanisme punishment sendiri-sendiri. Mulai dari push-up hingga membayar denda, bahkan ada yang hingga dikeluarkan dari Camp. Tinggal pilih. 🙂

Warung kelontong banyak terdapat di sekitaran Kampung Inggris. Teman-teman tidak perlu khawatir jika ingin membeli sesuatu. Selain itu, terdapat satu minimarket yang cukup dekat untuk dijangkau jika memang perlu untuk pergi ke sana.

Untuk alat tukar menukar atau automatic teller machine, terdapat satu ATM di dekat Kampung Inggris dari bank Mand*ri. Sebenarnya ada juga ATM BN*, tapi selama saya di Kampung Inggris, ATM tersebut belum dioperasikan. Jika ternyata bank teman-teman bukan yang saya maksud, jangan khawatir. Kurang lebih 1 km dari Kampung Inggris (di dekat alun-alun Pare) banyak ATM dari berbagai bank yang mengakomodir keperluan keuangan teman-teman.

Bagi teman-teman yang tak biasa mencuci baju sendiri, di sekitaran Kampung Inggris banyak tersedia jasa pencucian laundry. Satu kilogram pakaian biasanya dihargai Rp 3000. Sekedar berbagi, satu hal yang baru pertama kali saya jumpai di Pare adalah ketika saya mencuci pakaian seberat 1,5 kilogram, harga yang harus dibayar adalah Rp 4.500 (tidak dibulatkan ke harga 2 kg pakaian). Hal ini tidak saya temukan di kota tempat perantauan saya, Bandung. Jadi bisa lebih hemat. Hehe…

Selain tersedia berbagai tempat untuk belajar, di Kampung Inggris juga banyak tersedia travel liburan ke beberapa tempat di Jawa Timur maupun Bali. Jadi kalau teman-teman sudah merasa jenuh, jangan khawatir. Tinggal ajak teman, lalu pergi ke tempat wisata untuk mengagumi indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Ehehe…

Selain itu, ada juga penyewaan sepeda motor maupun mobil. Hal ini ditujukan bagi para pelajar yang ingin berkeliling ke beberapa tempat di luar kota atau mungkin di dalam kota namun dengan mengendarai kendaraan pribadi. Penyewaan motor berkisar dari Rp 50.000 sampai Rp 80.000 per hari. Untuk mobil, saya lupa karena saya tidak pernah menyewanya. Hehe…

Nah, saya rasa itu sedikit tentang pengalaman saya di Kampung Inggris. Masih banyak kekurangan dan masih banyak cerita yang belum saya ceritakan di sini. Mungkin lain waktu saya bisa berbagi dengan teman-teman. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat dan keep learning! 🙂

Advertisements

16 thoughts on “Sekilas tentang Kampung Inggris

      1. di kampung inggris kan banyak sekali tempat kursusnya, memangnya tempat kursus terlama apa yaa namanya?

  1. Cerita kampung inggrisnya lengkap banged. Memang benar, kampung inggris juga bisa dijangkau naik kereta dari stasiun Jombang. Tinggal nyebrang palang pintu kereta, naik angkutan bis arah pare, nyampe deh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s