Tulisan ini saya buat karena beberapa saat sebelumnya saya sadar sudah empat tahun menimba ilmu di kota ini, Bandung! Banyak kenangan tentunya tentang kota yang satu ini walaupun sampai detik ini pun saya belum merasa hapal Bandung seutuhnya.

“Ah… saya kira wajar saja, wong orang Bandungnya sendiri juga kadang enggak tahu Bandung. Hehe…”

Ingat sekali waktu itu saya masih belum tahu Bandung seperti apa. Budayanya, iklimnya, bahasanya, ah dalam semua hal saya masih awam tentang Bandung.

Dan hari itu pun tiba…

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Bandung untuk menimba ilmu pada waktu malam hari. Waktu itu tempat pertama yang saya kunjungi adalah tempat saudara saya di Sukamiskin. Hawa dingin sekonyong-konyong menyeruak masuk ke dalam tubuh kurus saya. Bus Budiman meninggalkan saya bersama saudara yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan saya. Masih ingat betapa seringnya saudara mengingatkan tempat saya harus turun dari Bus yang membawa saya menuju Bandung.

Pokoke kalau sudah sampai Cibiru siap-siap ya.”

Padahal waktu itu saya belum tahu Cibiru itu makanan apa. Eh, maksudnya tempat seperti apa. Alhamdulillah pak sopir waktu itu sengaja melambatkan laju Bus di sekitaran Sukamiskin hingga saya bisa melihat keberadaan saudara yang sudah menunggu di sisi jalan.

Proses adaptasi berlangsung. Tujuh hari tubuh saya berusaha keras menyesuaikan dengan hawa dingin kota Bandung. Orang Bandung kala itu menganggap Bandung sudah tak lagi dingin, tapi bagi pendatang dari kota pesisir seperti saya Bandung masih tetap dingin. Efek dari penyesuaian tubuh dengan udara dingin kota Bandung salah satunya bibir saya pecah-pecah! Ya, tujuh hari tujuh malam bibir saya pecah-pecah karena kedinginan. Syukurlah proses adaptasi itu berhasil saya lewati dengan elegan. Haha…

Adanya waktu luang beberapa hari saya manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman setelah beberapa minggu memantapkan hati menimba ilmu di kota Bandung. Tuhan memang Mahaadil. Tujuh hari di Bandung bibir saya pecah-pecah, tujuh hari di Cilacap juga bibir saya pecah-pecah karena perubahan suhu dari dingin menjadi panas kembali. Ya, saya harus berusaha menyesuaikan perubahan suhu di dua kota yang ketinggian dari permukaan air laut terpaut jauh.

Itu dari segi perbedaan suhu, belum dari segi perbedaan bahasa, budaya, dan lain-lainnya.

Tapi kayaknya kalau ceritanya besok lagi saja akan makin keren kayak sinetron di TV ya… Hehe…

 

Untuk itu, saya putuskan mengakhiri cerita ini dengan kata “Bersambung….” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s