Siang itu matahari begitu terik. Lalu lintas di sekitar alun-alun tampak ramai lancar. Beberapa orang menggandeng pasangannya, beberapa orang berjalan sendiri, dan macam-macam gaya orang-orang yang berkegiatan di sana.

Sedari tadi pak tua tetap duduk di dekat lampu lalu lintas. Pandangannya teduh. Tak ada potongan muka penjahat sama sekali. Bajunya kucel, beberapa bagian pun bolong hingga kulit dadanya yang keriput terlihat dari luar. Celana kolor panjang menutupi aurat pak tua yang usianya sekitar 65 tahunan.

Hampir setiap hari pak tua mangkal di perempatan jalan. Tak banyak yang ia bawa. Hanya sebuah botol air mineral plastik, pakaian yang dikenakan, serta dirinya saja. Beberapa orang yang sering melintas di tempat itu sudah paham kalau pak tua selalu mangkal selepas dhuhur dan bergegas pulang sebelum ashar. Orang-orang pun sudah mafhum kalau profesi pak tua itu ya pengemis, namun tak banyak yang tahu nama pak tua. Bagi kebanyakan orang, namanya tak penting, yang penting dia ada. Orang-orang memanggilnya “Mbah Qua”. Ya, Mbah Qua karena botol air mineral merk “eQua” yang selalu dibawa tak pernah diganti semenjak pertama kali dia mangkal hingga sekarang.

***

Suatu hari Mbah Qua sedang duduk di bawah pohon beringin untuk berteduh sejenak. Tak lama kemudian datanglah beberapa orang preman yang juga duduk di bawah pohon beringin.

“Mbah, wis mangan urung?”, tanya salah seorang pemuda padanya. (Mbah, sudah makan belum?)

“Dereng mas.” Jawab mbah Qua dengan penuh hormat. (Belum mas)

Bukannya menawari untuk mengajak makan, pemuda itu malah setengah mengejek Mbah Qua.

“Ya mangan mbah. Kae nang warung tulih akeh panganan. Wis ulih duit mbok?” (Ya makan mbah. Itu di warung banyak makanan. Sudah dapat uang kan?)

Pertanyaan itu disambut tawa oleh para premanyang lain. Mbah Qua tersenyum.

Sejurus kemudian pemuda yang lainnya menyapa Mbah Qua. Nampaknya ia sedikit ada niatan untuk benar-benar mengajak Mbah Qua berbincang.

“Wis ulih pira mbah duite?” tanya pemuda itu dengan bahasa yang selayaknya tidak digunakan kepada yang lebih tua darinya. (Sudah dapat berapa mbah uangnya?)

“Nembe angsal gangsalewu niki mas.” Ah.. Lagi-lagi mbah Qua menjawabnya dengan unggah-ungguh bahasa yang seharusnya dipakai pemuda kepadanya. (Baru dapat lima ribu ini mas)

“Biasane duite nggo ngapa mbah?” (Biasanya uangnya untuk apa mbah?)

Mbah Qua kali ini tak menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Walah.. Malah ngguyu. Yawis.. Nyong tek takon liyane. Njenengan duwe bojo mbah?” (Walah.. Malah tertawa. Ya sudah.. Saya bertanya yang lainnya saja. Anda mempunya istri mbah?)

“Gadhah mas.” (Punya mas)

“Pira?” tanya pemuda itu sedikit tersenyum. (Berapa?)

“Alhamdulillah nembe setunggal.” (Alhamdulillah baru satu)

“Hahaha… Berarti arep nambah bojo maning apa rika?” (Berarti mau menambah istri lagi ya?)

Nampaknya gurauan sederhana itu menarik minat preman yang sedari tadi bermain gaplek untuk ikut berbincang bersama Mbah Qua. Perbincangan berlangsung santai dan sesekali disisipi candaan dari Mbah Qua hingga membuat para preman tertawa puas.

Menjelang ashar, Mbah Qua pamit pulang pada para preman yang setia menemaninya.

“Kulo pamit wangsul riyin nggih mas…” (Saya permisi pulang dulu ya mas)

“Denek bali? Ya mengko… Wong isih awan koh.” (Kok pulang? Masih siang kok)

“Nggih niki badhe momong lare.” (Iya ini mau mengasuh anak)

“Oh yawis. Sing ati-ati ya. Tek do’akna semoga ulih bojo maning ya mbah. Hahaha..” (Oh ya sudah. Hati-hati ya. Saya doakan semoga mendapat istri lagi ya mbah)

Mbah Qua tersenyum sambil lalu.

***

Esoknya Mbah Qua tetap mangkal di perempatan alun-alun.

Satu hari…

Dua Hari…

Hingga seminggu ternyata preman yang pernah berbincang dengan Mbah Qua tak terlihat lagi. Mbah Qua tenang saja. Ia hanya berdoa semoga para preman itu dilindungi Allah swt.

Tak dinyana, seminggu setelah perbincangan dengan Mbah Qua, gerombolan preman itu muncul kembali. Jumlah mereka masih tetap lima. Baju mereka juga masih sama. Yang berbeda adalah sekarang tatonya makin menutupi warna kulit mereka.

“Mbaaahhh…!!!!” teriak salah seorang dari mereka.

Mbah Qua menghampiri gerombolan preman dengan wajah bahagia. Di dalam hatinya ia bersyukur para preman itu masih hidup hingga kini.

“Saking pundhi mawon mas-mas niki? Kulo kok jarang ningali nggih..” Mbah Qua memulai perbincangan. (Dari mana saja mas-mas ini? Saya kok jarang melihat ya)

“Iya kiye koh mbah. Winginane bar ndlepus karo rika kae, wengine ana razia polisi. Dhewek dikurung nang penjara mbah. A*uuu banget kae polisine!!!” (Iya ini mbah. Kemarin setelah berbincang dengan mbahnya, malamnya ada razia polisi. Kita dikurung di penjara mbah. ****** banget itu polisinya)

“Ya Allah…. Kok saged ditangkep polisi kenging nopo mas?” heran Mbah Qua. (Kok bisa ditangkap polisi kenapa mas)

“Konangan lagi pesta ciu nang warunge kang Sarno kae. A*u lah pokoke!!!” (Ketahuan sedang pesta ciu—minuman beralkohol yang memabokkan—di warungnya kang Sarno itu. ****** lah pokoknya)

Mbah Qua mendengarkan para preman itu dengan penuh perhatian. Sesekali ia bertanya sekedar menunjukkan empatinya. Tapi tetap saja preman itu memarah-marahi polisi.

“Polisi A*u…!!! Cel*ng…!!! Mb*lek Singa…!!!” (Polisi ******, Babi, Kotoran Singa)

“Nggih sampun mas.. Wong mpun kedadean ken kepripun malih…” Mbah Qua berusaha menenangkan sang preman. (Ya sudah mas… Wong sudah terjadi mau gimana lagi)

“Tapi langkung sae,” tambah Mbah Qua, “Mas-mas niki cobi nggantos kebiasaane mas-mas niku kalih kebiasaan sing langkung manfaat, kan malah sae to mas?” (Tapi lebih baik mas-mas ini coba mengganti kebiasaan masnya itu dengan kebiasaan yang lebih bermanfaat, kan bagus to?)

“Seh… seh… seh… denek malah rika ngatur-ngatur nyong koh mbah? Rika sapa? Wong tuaku udu, dulurku udu, denek malah ngatur-ngatur. Karepe apa?” Pimpinan Preman bertanya setengah membentak. (Kok malah anda ngatur-ngatur saya mbah? Anda siapa? Orang tua ku bukan, saudaraku bukan, kok malah ngatur-ngatur. Maunya apa?)

“Sanes kados niku mas. Niki kan mung saran. Nek mboten purun nggih mboten nopo-nopo mas. Kulo mung kelingan tembang anggitane Sunan Ampel sing judule ‘Lir-ilir’.” Jawab Mbah Qua. (Bukan begitu mas. Ini kan hanya saran. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa mas. Saya hanya teringat lagu karangan Sunan Ampel yang judulnya ‘Lir-Ilir’)

“Kuweh… kuweh… Malah nyambung-nyambungna karo tembang jawa mbireng sih anu kepriwe?” (Tuh… Tuh… Malah menyambung-nyambungkan dengan lagu jawa segala?)

“Lir-ilir niku pesane sae mas. ‘Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane…’” Mbah Qua setengah berdendang. (Lir-Ilir itu pesannya bagus mas.)

“Mumpung mas-mas niki taksih kagungan kesempatan ngge mbagusi awak, ngge ngabekti dhumateng Gusti Allah, ndang tobato. Sing mpun nggih mpun ampun dipikiri malih, sakniki kantun ningali wekdal ingkang badhe kito lakoni.” (Selama mas-mas ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk berbakti pada Allah, segeralah bertobat. Yang sudah ya sudah jangan dipikirkan lagi, sekarang tinggal melihat masa yang akan kita jalani)

“A*u rika mbah…!!! Malah ngungkuli polisi rika a*une !!! Wong tuwaku be ora tau gotak kok malah rika sing nembe ketemu winginane wis ngatur-ngatur!!!” bentak pimpinan preman. (****** anda mbah. Malah melebihi polisi anda ******nya. Orang tua saya juga tidak pernah mengomentari kok malah anda yang baru ketemu kemarin sudah mengatur-ngatur)

“Nggih ngapuntene mas nek kados niku. Kula sing lepat…” Mbah Qua memohon maaf. (Ya maafkan saya kalau begitu mas. Saya yang salah)

“Mbuh lah…!!!” pimpinan preman itu berdiri dan menendang botol air mineral milik mbah Qua yang berisi uang receh pemberian orang. (Tau lah!!!)

“Astagfirullohal’adzim…” kaget Mbah Qua.

Gerombolan preman itu pergi begitu saja meninggalkan Mbah Qua.

Seorang pemuda yang sedang melintas langsung menolong mbah Qua memunguti receh yang berceceran.

“Matur nuwun nggih mas.” (Terima kasih ya mas)

“Nggih mbah sami-sami.” (Iya mbah sama-sama)

“Njenengan sinten? Kok ngagem sarung kalih songkok?” tanya mbah Qua. (Anda siapa? Kok memakai sarung dan songkok)

“Kulo Ngadiman mbah. Santrine mbah Su’aib.” (Saya Ngadiman mbah. Santrinya mbah Su’aib)

“Loh kok teng mriki?” (Kok di sini?)

“Nggih niki saweg diutus mbah Su’aib tumbas pakan sapi mbah.” (Iya ini sedang diperintah mbah Su’aib membeli pakan sapi)

“Oh, nggih mpun. Salam ngge mbah Su’aib nggih mas.” (Oh ya sudah. Salam untuk mbah Su’aib ya mas)

“Insya Allah. Monggo kulo pamit riyin mbah.” (Saya permisi dulu mbah)

“Nggih. Atos-atos mas.” (Iya. Hati-hati mas)

Ngadiman meneruskan berjalan kaki membelakangi mbah Qua. Sejurus kemudian, Ngadiman merasa ada yang aneh. Ia merasa mengenali muka pengemis yang baru saja ditemuinya tetapi ia tidak tahu muka siapa itu.

Ngadiman semakin meninggalkan tempat mbah Qua duduk tetapi tiba-tiba ia ingat bahwa muka pengemis itu sangat mirip dengan mbah Su’aib, Kyai yang menyuruhnya membelikan pakan sapi.

“Ah, enggak mungkin Mbah Su’aib jadi pengemis. Lagian sepuluh menit yang lalu Mbah Su’aib menyuruhku beli pakan sapi. Tapi…. Kenapa muka pengemis itu mirip sekali dengan mbah Su’aib? Cara bicaranya juga sangat mirip. Aku tidak mungkin lupa cara bicara mbah Su’aib.” Pikir Ngadiman.

Namun sayang… Ketika Ngadiman memutuskan menemui pengemis yang tadi ia tolong, ternyata pengemis itu sudah tidak ada di tempat semula. Akhirnya Ngadiman melanjutkan perjalanan untuk membeli pakan sapi.

Sesampainya di Pondok, Ngadiman langsung menuju ndalem mbah Su’aib untuk memberikan pakan sapi pesanannya. Tetapi Ngadiman kurang beruntung karena mbah Su’aib ternyata sedang tertidur di ruang tamunya ditemani Kholil—santri ndalem lainnya—yang dengan setia menunggui dan memberi tahu mbah Su’aib jikalau ada tamu yang datang. Ngadiman tak berani membangunkan guru sekaligus orang tuanya di pondok karena rasa takdzimnya kepada kyai.

Waktu malam tiba. Ngadiman menemui Kholil untuk membahas tanda tanya di dalam pikirannya. Ngadiman menceritakan peristiwa yang baru saja dialami siang tadi di alun-alun.

“Walah, mboten mungkin kang. Mbah Su’aib niku kalih kulo kawit kang Ngadiman tindhak tumbas pakan sapi.” Begitu kesaksian Kholil. (Tidak mungkin kang. Mbah Su’aib itu bersama saya sejak kang Ngadiman pergi membeli pakan sapi)

Tapi Ngadiman yakin sekali kalau pengemis yang ditemuinya di alun-alun itu adalah Mbah Su’aib.

“Ini karomah kyai… Ini Karomah kyai…!!!”

***

Tak membutuhkan waktu lama, cerita Ngadiman tersebar luas di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, bahkan hingga ke masyarakat sekitar. Ibu-ibu kampung yang biasanya bergosip tentang tetangganya, kini berubah menjadi menggosipkan Kyai. Karomah Kyai Su’aib tersebar luas, tak terkecuali para preman yang beberapa waktu lalu menendang botol air mineral milik mbah Qua.

“Sing bener? Aku ora ngandel…!!!” pemimpin preman seakan tak percaya tentang karomah Mbah Su’aib. (Yang benar? Saya tidak percaya)

Untuk menjawab ketidakpercayaannya itu para preman mencari Mbah Qua di sekitar alun-alun. Hampir setiap sudut alun-alun didatangi tetapi hasilnya nihil. Menurut para pedagang yang mangkal di dekat alun-alun, mbah Qua sudah tidak terlihat setelah berita tentang karomah Mbah Su’aib tersebar luas.

“Wani takon meng Kyai Su’aib langsung ora kowe?” ledek salah seorang preman pada pimpinannya. (Berani bertanya kepada Kyai Su’aib langsung tidak anda)

“Wani….!!! Siki mangkat meng nggone kyaine.” (Berani)

Ketika akan masuk ke ndalem Mbah Su’aib, para preman bertemu Ngadiman yang sedang menyapu halaman rumah mbah Su’aib. Setali tiga uang, Ngadiman dengan senang hati mengantar para preman menemui Mbah Su’aib. Selain memang itu tugas santri ndalem, Ngadiman juga ingin mendengar langsung dari Kyai yang ditakdziminya itu tentang rumor karomahnya.

“Ana apa pernaeh pada silaturahmi ngeneh?” sapa Mbah Su’aib di ruang tamu. (Ada apa kok tiba-tiba silaturahmi ke sini?)

“Ngapunten nggangu wekdalipun mbah. Sepindah kulo kepingin silaturahmi dhateng panjenengan. Kaping kalihipun kulo badhe taken masalah sing sakniki rame dipun wartosaken mbah.” (Mohon maaf mengganggu waktunya mbah. Pertama saya ingin silaturahmi kepada anda. Kedua saya mau bertanya permasalahan yang sekarang sedang ramai diberitakan)

Mbah Su’aib hanya tersenyum. Laki-laki tua itu duduk tenang di tempat duduk mengenakan sarung dan kaos polos berwarna putih. Sedangkan di ruang tamu itu hanya ada Mbah Su’aib, Lima orang preman yang duduk setengah menunduk karena segan pada mbah Su’aib, dan Ngadiman yang duduk agak berjauhan dari Mbah Su’aib dan para preman.

“Ana apa? Gari takon bae.” (Ada apa?)

“Sakderengipun, ngapuntene sanget niki mbah menawi kulo mboten sopan taken babagan niki.” Sahut pimpinan preman dengan bahasa yang sangat halus. (sebelumnya, mohon maaf sekali ini mbah jikalau saya tidak sopan bertanya tentang masalah ini)

“Iya ana apa?” tanya mbah Su’aib sedikit mendesak. (Iya ada apa?)

“Nopo leres Mbah Su’aib menika Mbah Qua?” (Apa benar Mbah Su’aib itu adalah Mbah Qua?)

“Pengemis sing biasane mangkal teng alun-alun?” sambung sang preman. (Pengemis yang biasanya mangkal di alun-alun?)

Suasana hening untuk beberapa saat.

“Nek iya nangapa?” tanya Mbah Su’aib tenang. (Kalau iya kenapa?)

“Masya Allah… Ana apa kiye?” Pertanyaan mbah Su’aib yang sedikit keras membangunkan Ngadiman yang sedikit tertidur. (Apa apa ini?)

Ternyata kelima preman itu tiba-tiba mencium tangan mbah Su’aib untuk memohon maaf atas kelancangan yang telah diperbuatnya ketika di alun-alun.

“Njaluk ngapura aja maring aku, tapi maring Gusti Allah.” Sahut Mbah Su’aib. (Meminta maaf jangan ke saya, tapi kepada Gusti Allah)

“Jan-jane,” lanjut mbah Su’aib, “nyong ya wis ngerti kowe meng ngeneh arep apa. Nyong uga wis ngapurani kowe padha sedurunge kowe gawe salah maring aku.” (Sebenarnya saya sudah tahu anda ke sini mau apa. Saya juga sudah memaafkan anda sebelum anda berbuat salah pada saya)

Pertanyaan dalam diri Ngadiman dan sebagian penduduk kampung terjawab sudah. Mbah Su’aib ternyata memiliki karomah berada di dua tempat dalam satu waktu dan weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum sesuatu itu terjadi). Para preman itu memutuskan untuk menjadi santri di pondoknya Mbah Su’aib dan meninggalkan kehidupan gelapnya selama menjadi preman.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” (QS. Yunus: 62-64).

Advertisements

2 thoughts on “MBAH QUA DAN PARA PREMAN

  1. Mas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam saja, yang membawa ajaran Islam saja tidak pernah begitu? Bagaimana mungkin, seorang Kyai yang bahkan baru muncul jauh setelah datangnya Islam bisa begitu, bahkan mampu melihat hal2 gaib? Itu berarti kan melakukannya dengan bantuan Jin…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s