Melihat ke dalam diri tak semudah menyalahkan orang lain. Logika itu dipakai bukan pada kalangan sufi, melainkan pada kita yang belum sampai pada jawaban dari pertanyaan “Untuk apa kita hidup?”. Saya tidak bermaksud mengajari anda, tetapi saya hanya menggambarkan betapa payahnya saya menjawab pertanyaan itu.

Tauhid sejatinya adalah menuju Tuhan yang satu, bukan bersatu dengan Tuhan dalam arti materi duniawi. Kesimpulan itu saya dapatkan dari membaca buku “Sedang Tuhan pun Cemburu” yang berisi esai-esai pak Emha. Hanya sekilas saya membacanya tetapi mata saya langsung tertuju pada esai yang judulnya sama dengan bukunya.

Pada intinya, kita sering “menuhankan” hal-hal yang sama sekali tak bermuara pada Tuhan. Uang, nafsu birahi, rumah mewah, mobil canggih, pengakuan martabat, dan lain sebagainya yang niat dan tujuannya hanya untuk saat ini, sementara, tak bernyawa, fana!

Ah, berat sekali bahasa yang saya pakai. Jika menurut anda itu biasa-biasa saja, maka tidak bagi saya karena saya bukan sufi, saya bukan akademisi, saya bukan panutan. Wong menerima perbedaan pendapat saja masih payah, wong untuk tidak sedikit-sedikit menyalahkan orang lain saja masih kacau, wong untuk menjadi “wong” saja masih galau. Tapi kita mesti berusaha, kita memilih untuk sampai ke sana, kodratnya kita begitu.

Lalu dimana kita saat ini? Apakah kita mengaku tahu banyak tentang banyak hal? Apakah kita menganggap diri kita orang pintar yang tahu kalau kita pintar? Atau apakah kita mengira diri kita tahu semua hal yang masyarakat ketahui dan yang tidak masyarakat ketahui?

Hidup itu memang meneliti, tetapi yang perlu segera untuk dijawab adalah, “Yang penting hidup dulu atau ilmu dulu?” Kalau kita mahasiswa, kaum terpelajar, intelek, paham teori, jangan “sok” mengajari cara berjualan kepada pedagang sayuran yang harus ke pasar jam 2 subuh, jangan “sok” menilai rendah kaum papa yang hidup di bawah atap-atap ruko, dan jangan “sok” menggurui apa itu cinta kepada orang yang rindunya hanya kepada Tuhan.

Maka jangan biarkan Tuhan yang lebih dekat dari urat leher mencemburui kita karena telalu lama pergi tak mau menerawang dalam diri.

 

Bandung, 8 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s