Faktor kebesaran Tebuireng memang tidak bisa dipisahkan dengan ketokohan pengasuhnya, khususnya sosok Mbah Hasyim. Tidak diragukan lagi bahwa ia mempunyai wibawa atau haibah serta pengaruh yang besar sekali di kalangan alim ulama, apalagi statusnya sebagai rais Akbar NU. Bukan saja di kalangan NU ia memiliki pengaruh, tetapi juga di kalangan golongan Islam lainnya. Tatkala Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) berdiri, ia didaulat sebagai pemimpin tertinggi.

Menurut KH. Saifuddin Zuhri, Tebuireng memiliki daya tarik yang kuat sekali. Ada kecenderungan di kalangan para santri dan bahkan kiai-kiai pesantren yang lain untuk merasa “dekat” dengan Tebuireng. Ada sesuatu yang dirasakan hanya di Tebuireng orang bisa menemukannya. Bukan sekedar pribadi Hadratussyekh tetapi terutama karena tokoh besar ini dirasakan tepat sekali untuk menduduki tempat sebagai “Bapak Ulama” Indonesia.

Begitu kuatnya pengaruh tokoh satu ini, hingga suatu ketika di sekitar tahun 1935-an pemerintah kolonial Belanda, melalui Van Der Plas (Pakar Islamologi) hendak menganugerahkan sebuah bintang penghargaan kepada kakek Gus Dur ini. Suatu golongan seperti NU merupakan kelompok kekuatan yang membahayakan kedudukan mereka, suatu ketika bisa menjadi ancaman buat Belanda. Untuk menghancurkan NU begitu saja tentu tidak mungkin. Van Der Plas tahu benar filsafat orang Indonesia terutama Jawa, dicerminkan oleh watak hurufnya ho-no-co-ro-ko. Huruf Jawa kuno itu selalu hidup mandiri. Di-layar tetapi hidup, di-wulu tetapi hidup, di-cakra tetap hidup, bahkan di-taling dan di-tarung tetap juga hidup. Tetapi, kalau di-pangku….mati….! Strategi “merangkul” dan mengendalikan lawan dengan cara halus ini coba diterapkan Van Der Plas.

Hadratussyekh tengah mengajar tatkala Bupati Jombang bersama Van Der Plas mengunjungi Tebuireng, khususnya untuk bertatap muka dengan Hadratussyekh. Setelah pembicaraan basa-basi tentang kabar keselamatan, lalu sampailah kepada tujuan kedatangannya.

“Pemerintah Hindia Belanda ingin menganugerahkan bintang penghargaan kepada Tuan,” kata Van Der Plas menyampaikan maksud kedatangannya.

“Atas dasar apa?” tanya Mbah Hasyim.

“Pemerintah ingin menganugerahkan sebuah bintang penghargaan kepada Tuan atas jasa-jasa Tuan selaku guru agama Islam.”

Kiai Wahid Hasyim yang ikut dalam pertemuan di rumahnya itu mengucurkan keringat dingin atas upaya Van Der Plas “membujuk” ayahnya. Tentu ada maksud politis di balik penghargaan itu.

Mendengar ungkapan pakar Islamologi itu, Mbah Hasyim hanya tersenyum. Dengan halus ia menolak penghargaan itu. Agar tidak mendatangkan fitnah dari kaki tangan kolonial, Mbah Hasyim cukup menjawab dengan rendah hati, “Tentang pekerjaan mengajar, itu memang sudah menjadi kewajiban tiap orang dan tiap ulama, sebab itu tidak layak dianggap berjasa. Terlebih aku takut pada diriku sendiri akan datangnya rasa ujub dan takabur. Aku malu kepada Allah karena aku cuma hamba-Nya yang hina-dina…”

Tak berhasil dengan tipu muslihatnya, akhirnya Van Der Plas berpamitan dengan tangan hampa.

 

Sumber:

Zionis, R. J. (2009). Cermin Bening dari Pesantren: Potret Keteladanan Para Kiai. Surabaya: Khalista.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s