Sebagaimana biasanya, saat Ramadlan tiba, Pondok Tebuireng menyelenggarakan pengajian pasanan hampir sebulan penuh. Kitab utama yang dikaji adalah Shahih Bukhari, kitab hadits terkemuka. Pengajarnya siapa lagi kalau bukan Hadratussyekh, yang dikenal sebagai pakar hadits. Jamaah pengajian kitab ini mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai daerah. Selain masyarakat umum, ada pula alumni yang kembali berguru selama bulan puasa ini.

Nah, di tengah-tengah pengajian berlangsung, sambil menerangkan sebuah hadits, mata Hadratussyekh tertuju pada seorang pria yang asyik mendengarkan ulasannya sambil lesehan bersama santri-santri yang lain. Jantung Hadratussyekh berdegup kencang. Ia kenal betul dengan wajah tua itu. Ya sosok yang menyita perhatiannya itu tiada lain adalah Kiai Khazin dari Siwalan Panjir Sidoarjo, guru yang seringkali ia ceritakan pada santri-santrinya. Dengan tetap mengajar, Mbah Hasyim masih bertanya-tanya dalam hati maksud kedatangan gurunya. Tentulah ada sesuatu yang penting, yang menyebabkan gurunya jauh-jauh dari Sidoarjo datang ke Tebuireng.

Setelah pengajian usai, Hadratussyekh mempersilahkan gurunya mampir ke rumahnya. Di situ, terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar itu. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Kiai Khazin menyatakan tujuan kedatangannya ke Tebuireng. Ternyata kiai sepuh asal Sidoarjo ini ingin belajar secara langsung kepada Hadratussyekh, yang tak lain muridnya.

Jawaban tak terduga itu mengejutkan Mbah Hasyim, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”

Tanpa merasa tersanjung, Kiai Khazin tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hatiku sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi. Bahwa aku akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya mantap. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Mbah Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai salat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya. Sebagai bentuk penghormatan santri kepada kiainya.

Melalui peristiwa Kiai Khazin berguru pada muridnya, selain pengakuan atas tingkat keilmuan Mbah Hasyim, juga menunjukkan sikap rendah hari seorang guru. Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan, itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan kedua kiai itu adalah kerendahhatian dan kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita. Kisah mengesankan itu terjadi pada 1933.

 

Sumber:

Zionis, R. J. (2009). Cermin Bening dari Pesantren: Potret Keteladanan Para Kiai. Surabaya: Khalista.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s