Oleh: Arihdya Caesar Pratikta

(Mahasiswa PPB Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia)

“Selamat datang putra terbaik bangsa di Universitas …………………” setidaknya seperti itulah gambaran spanduk-spanduk yang sebentar lagi terpampang di setiap kampus untuk menyambut mahasiswa baru angkatan 2013. Bagi mahasiswa baru, ini adalah babak baru dalam kehidupannya. Selama ini “sang calon mahasiswa baru” sangat lekat dengan seragam sekolah dari mulai SD sederajat—bahkan playgroup, PAUD hingga TK—, SMP sederajat, hingga SMA sederajat. Maka ketika menjadi mahasiswa baru sebuah perguruan tinggi, segala macam seragam akan segera ditanggalkan, kecuali bagi perguruan tinggi tertentu yang mengharuskan menggunakan seragam. Dandanannya pun sudah lain dari dandanan bocah SMA. Tampak luar menjadi lebih modis namun tetap santun—bagi yang santun.

Bersamaan dengan masuknya mahasiswa baru pula, berbagai macam organisasi kampus mulai gencar ‘memamerkan’ organisasinya masing-masing untuk merekrut mahasiswa baru menjadi anggota organisasinya. Berbagai macam pamflet, selebaran, hingga spanduk terpampang di setiap sudut kampus yang megah itu. Masa-masa itu bagi organisasi kampus menjadi masa open recruitment atau masa pengkaderan, tak terkecuali bagi organisasi yang mengusung nama Islam.

Hampir di setiap titik penempelan pamflet kampus, kita akan melihat berbagai macam ayat al-Qur’an yang dinukil untuk menambah ke-Islam-an organisasi. Betapa ‘Islami’ tembok tempat menempel ayat-ayat al-Qur’an itu, penuh dengan kalam-kalam Ilahi. Mulai dari firman yang membenarkan organisasinya hingga firman yang menunjukkan ‘kegarangan’ Islam terhadap penguasa dunia saat ini.

Lagu wajib organisasi Islam kampus saat ini adalah memusuhi penguasa. Organisasi-organisasi Islam seperti itu menganggap penguasa dunia saat ini ingin menghancurkan umat Islam. Umat Islam harus diberantas dari muka bumi agar tak tersisa sedikit pun. Namun apa benar demikian? Apa benar penguasa dunia ingin menghancurkan umat Islam? Apa benar umat Islam sebahaya itukah hingga perlu dibasmi agar melancarkan praktik konspirasi global penguasa dunia? Atau jangan-jangan kita kurang jeli melihat situasi? Jangan-jangan kita hanya latah dengan giringan para penguasa dunia itu?

Yang ditakuti penguasa dunia itu adalah kebenaran nilai-nilai Islam, bukannya umat Islam. Anda tidak perlu harus percaya dengan apa yang saya utarakan, namun juga tidak perlu repot-repot tidak mau percaya daripada nanti mundur sambil menahan malu karena mengakui apa yang saya utarakan.

Mungkin saat ini yang terlihat oleh kasat mata, penguasa dunia itu memusuhi umat Islam tapi yang terjadi sebenarnya mereka takut dengan kebenaran-kebenaran nilai Islam. Oleh karena itu, para penguasa itu memusuhi umat Islam terus-menerus. Dari proses permusuhan ini akan muncul umat Islam yang diam saja, dan ada juga yang melawan dengan begitu radikal. Kelompok yang terakhir ini yang ingin dipelihara oleh para penguasa agar digurui, diajari, diperbudak sehingga menghancurkan kebenaran Islam dari dalam.

Penguasa dunia itu mungkin dengan mudah membunuh, membantai, menghancurkan pemukiman-pemukiman Islam secara terang-terangan tapi kebenaran Islam yang berada di dalam lubuk hati masing-masing individu tidak dapat dihancurkan oleh senjata apapun. Maka dari itu mereka menciptakan siasat untuk menghancurkan kebenaran nilai Islam dari dalam Islam sendiri.

Jika umat Islam mengalami kelaparan, busung lapar, atau bahkan musnah, itu akan merugikan penguasa karena dengan demikian mereka tidak memiliki partner untuk menjalankan dialektika kekuasaan. Kalau umat Islam sampai kelaparan, maka tak ada lagi budak yang bisa dibohongi, ditempeleng, bahkan dijarah kemanusiaannya.

Umat Islam dipelihara, dididik, digurui, dicekoki berbagai macam cara berpikir, cara pandang, dan cara hidup yang menghancurkan nilai-nilai Islam. Kalau ada orang-orang Islam yang menyampaikan kesejukan Islam, kedamaian Islam, dan menegakkan cinta kasih sosial jangan sampai masuk ke media massa global karena kontra-produktif dengan proses untuk mempermalukan nilai-nilai Islam. Salah satu target yang gampang untuk dicekoki hal-hal yang demikian tentu anak-anak muda Islam atau mahasiswa muslim yang jiwanya masih menggelora dan bersemangat dengan apa yang dilakukan.

Nah, yang dibutuhkan para penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal, sedikit-sedikit ngamuk, dan apa-apa harus segera dilawan. Strateginya tentu menciptakan Islam ektrem di dalam sendi masyarakat, tak terkecuali dunia kampus. Islam Ektrem merupakan golongan Islam yang ideal untuk dijadikan bumerang bagi kebenaran nilai Islam sendiri. Untuk menciptakan Islam yang ekstrem maka diciptakan berbagai macam kecurangan di sana-sini agar mudah terpancing untuk melawan. Orang kalau lama-lama disakiti pasti akan mudah ngamuk dan berontak.

Maka di setiap sendi masyarakat harus diciptakan citra kalau Islam itu suka ngamuk. Islam itu suka menindas. Islam itu tak berperikemanusiaan. Jika sudah begitu, maka media massa, internet, atau media apapun dengan cepat meliput keberingasan umat Islam. Lalu di berita-berita akan diatur sedemikian rupa agar semua orang tahu kalau mayoritas orang Islam adalah kejam.

Maka—sekali lagi—rumus baku Islam di kampus-kampus saat ini ya itu tadi, Islam harus Ekstrem! Maka bagi para mahasiswa baru, silakan dipilih. Anda mau ikut-ikutan menghancurkan kebenaran nilai Islam dari dalam atau menyebarkan kedamaian Islam bagi seluruh makhluk di dunia?

Disadur dari: “Buletin Mocopat Syafa’at” Edisi 54 halaman 16.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s