“Kalau kita tak ingin miskin, ya jangan punya keinginan untuk kaya. Kalau kita tak ingin dicuri orang, ya jangan punya barang yang layak untuk dicuri.” Dua kalimat Emha Ainun Nadjib ini sebenarnya mengingatkan kita akan kesederhanaan. Di jaman yang serba modern ini, orang semakin banyak yang terpukau dengan dunia secara berlebihan. Seolah ingin menunjukkan kalau ia mampu, ia bisa.

Segala barang yang tadinya tak begitu kita perlukan, tiba-tiba kita perlukan, bahkan sangat kita perlukan. Ketika orang lain punya barang yang bagus, kita tak mau ketinggalan untuk mempunyai barang yang semacam itu. Ketika telepon genggam ada yang terbaru, kita seolah sangat bernafsu ingin memilikinya, dan begitu seterusnya.

Jadi hidup kita ini hanya disibukkan untuk memikirkan dunia, dunia, dan dunia yang semakin gila. Kalau kita sudah punya semua, maka timbullah perasaan was-was dalam diri. Takut dicuri orang, takut ditiru orang, takut, takut, dan takut yang lainnya. Saking banyaknya mobil yang kita miliki, maka kita jadi bingung sendiri mau memakai mobil yang mana. Maka bukannya kita segera berangkat dari rumah menuju tempat tujuan, tapi malah sibuk memikirkan mau memakai mobil yang mana.

Menurut Gus Mus, kita ini sudah diajari oleh pak Harto selama 32 tahun agar menjadi kaya, terlebih cara pak Harto mengajari kita memakai caranya Kanjeng Nabi Muhammad saw. yaitu sebelum beliau menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu, beliau sudah melakukannya terlebih dulu. Begitu juga dengan pak Harto, sebelum beliau menyuruh kita untuk kaya, maka beliau yang lebih dulu kaya.

Masih menurut Gus Mus, beliau menganjurkan agar kita mencoba untuk hidup sederhana saja. Tak usah zuhud jika itu terlalu berat untuk kita. Sederhana saja juga sudah cukup untuk melawan gaya hidup yang sangat hedonis dewasa ini. Menurutnya, hadis yang kurang lebih berbunyi “berusahalah untuk duniamu seakan kau akan hidup seribu tahun lagi dan berusahalan untuk akhiratmu seakan kau akan mati esok” saat ini banyak disalahtafsirkan. Hadis ini banyak yang menafsirkan “karena hidup kita masih seribu tahun lagi, maka carilah dunia sebanyak-banyaknya untuk bekal di hari tua nanti” sedangkan menurut Gus Mus, hadis ini seharusnya ditafsirkan “karena hidup kita masih seribu tahun lagi, maka dalam berusaha untuk dunia ya yang santai-santai saja lah, jangan terlalu memaksakan.” Lagi-lagi Gus Mus mengajari kita untuk senantiasa hidup sederhana. Seperlunya saja, jangan terlalu lebay. Maka, marilah kita sama-sama belajar untuk hidup sederhana dimulai dari diri kita sendiri.

 

Cilacap, 5 Januari 2013

Advertisements

8 thoughts on “Sederhana Itu Baik

  1. Sedeharan itu baik, juga benar. Kata Albert Einstein, “the truth is simple.” Kebenaran itu sederhana. Itulah sebabnya, Ka’bah juga sederhana, segi empat warna hitam. Ka’bah adalah lambang kebenaran. Sederhana di tengah gemerlapnya gedung menjulang di Kota Mekah. Suami yang benar, bekerja mencari nafkah, beribadah, dan menemui istri dan anak2. Sederhana. Suami yang tidak benar, mencari nafkah, selingkuh, dan saat ditanya istri, “Aaa. iii iiuuu…” Berbelit-belit tidak sederhana. Yang terakhir aja diconto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s