Seolah tak akan ada habisnya jika kita membahas kedua orang tua. Ayah dan bunda, bapak dan ibu, papah dan mamah, papih dan mamih, ramane dan biyunge, abah dan emak, dan seterusnya dan lain sebagainya. Hampir semua dari kita menyebut orang tua adalah pahlawan hidup kita, pahlawan sejati. Bayangkan saja, orang tua rela mengasuh kita dari sebelum lahir hingga sebesar sekarang ini. Jika dihitung materi, berapa banyak uang yang orang tua habiskan hanya untuk membesarkan kita.

Berbahagialah kita yang masih memiliki kedua orang tua secara utuh. Jika diantara kita orang tuanya sudah lebih dulu pulang, maka jangan terus berhenti untuk mendoakan beliau. Percayalah, orang tua di sana akan merasakan apa doa kita untuknya. Kalau tak percaya, cobalah sendiri untuk ‘berlibur’ ke alam sana lalu menyuruh orang lain untuk mendoakan kita. Setelah itu, ceritakan apa yang engkau alami di alam sana.

Ketiadaan sejatinya adalah sebuah keberadaan. Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar istilah itu. Mau percaya atau tidak, istilah itu ada benarnya juga. Ketika orang tua kita masih ada, kita merasa tenang karena orang tua kita masih bisa memberi wejangan, perhatian, dan cinta kepada kita. Tetapi coba bayangkan ketika orang tua kita sudah pulang lebih dulu, maka kita baru merasakan keberadaan orang tua sungguh sangat berarti. Selama ini kita membiarkan orang tua, selama ini kita – mungkin – kurang berbakti pada orang tua, namun jika orang tua sudah berada di alam yang berbeda dengan kita, perasaan menyesal tak bisa dihindarkan.

Orang tua sebenarnya tak meminta banyak dari kita. Orang tua tak pernah menuntut untuk mengembalikan apa yang sudah orang tua beri untuk kita. Orang tua hanya meminta kita untuk berbakti kepadanya. Setahu saya, semua agama mengajarkan kepada kita agar berbakti kepada kedua orang tua. Dalam Islam pun demikian. Maka jika kita mengaku makhluk beragama, jangan sia-siakan kedua orang tua kita, mumpung masih hidup atau mumpung kita masih bisa mendoakannya.

Baru saja nenek saya bertutur, “kemarin sewaktu mengaji di Pondok (Pondok Pesantren ar-Ridwan Cilacap), pak Kyai ngendika (berkata) agar kita ‘berhati-hati’ kepada anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya karena doa anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya mudah dikabulkan oleh Allah. Allah selalu menuruti apa kata anak itu.”

Mumpung kita masih diberi ingatan oleh Tuhan, maka mari kita mengingat-ingat apa saja yang sudah kita baktikan kepada kedua orang tua kita. Harta benda? Kesetiaan? Cinta? Jika belum ada yang kita beri untuk kedua orang tua kita asalkan halal dan bisa membuat orang tua bahagia, segera lakukan. Mumpung kita masih sempat, mumpung masih sehat, dan mumpung-mumpung yang lainnya lagi.

 

Cilacap, 3 Januari 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s