Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, ia bergegas mengendarai sepeda motor tuanya. Matahari sama sekali belum terlihat di angkasa, hanya awan gelap dan beberapa keindahan langit malam yang tersisa. Udara dingin masih terus membayangi, namun Somad – begitu panggilan akrabnya – terus memacu kendaraan tuanya itu.

Dengan jaket tebal, sarung tangan, masker pelindung hidup dan mulut, dan perlengkapan berkendara lainnya sudah ia kenakan sedari tadi namun tetap saja udara dingin terus merasuk ke dalam tubuh kurusnya. Ia berusaha sepagi mungkin memulai perjalanan mudiknya menjelang lebaran agar tidak macet di perjalanan.

Baginya, mudik adalah perjalanan mulia. Bertemu keluarga di kampung menjadi tujuan utama bagi sebagian besar orang yang melakukan rihlah menuju tempat asal mereka. Mudik juga dapat dianalogikan sebagai sangkan para dumadi kecil bagi seseorang yang merantau ke kota besar untuk mengukir prestasi, sedangkan sangkan paran dumadi yang sebenarnya adalah nanti ketika manusia kembali Tuhannya Yang Maha Suci.

Somad adalah mahasiswa tingkat akhir Sekolah Pascasarjana Universitas Perguruan Indonesia. Walau hidup di kota besar, ia tak pernah merasa minder dengan keadaan dirinya yang berasal dari kampung nan jauh dari kota. Ia justru lebih bangga ketika orang menyebut dirinya sebagai orang kampung daripada orang menyebut dirinya sebagai orang kota. Jiwa perkampungan dan hidup prihatinnya sudah mendarah daging. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan kehidupan perkotaan tempatnya menuntut ilmu yang oleh sebagian orang dijuluki kota Paris Van Indonesia.

Dalam perjalanan mudiknya, Kota tempat peraduannya itu sudah ia tinggalkan untuk menuju kampungnya yang khas dengan tempe mendoannya. Kota yang khas dengan dodolnya sudah menyambut Somad dengan penuh kesejukan. Saking sejuknya, awan pun terlihat mendung gelap hingga membuat hati Somad resah. Ia berharap dalam perjalanannya agar Tuhan jangan dulu menurunkan hujan hingga Somad sampai di rumah kedua orang tuanya.

Cuaca dingin terus menerjang tubuh kurusnya hingga beberapa jam pada waktu dhuha. Sekitar dua jam sebelum waktu dhuhur tiba, Somad baru bertemu dengan sang surya yang menghangatkan tubuhnya. Ia kini tak lagi menggigil karena dinginnya jalanan di waktu subuh dan dhuha.

Somad terus memacu motor tua keluaran tahun 1983 peninggalan kakeknya dengan sesekali berhenti untuk membuka pesan singkat atau menjawab telepon yang masuk ke telepon genggamnya. Macet sebagaimana yang ia resahkan ternyata tidak ia jumpai karena – katanya – hari itu bukanlah puncak arus mudik lebaran sehingga jalanan masih terlihat ramai lancar.

Tiba-tiba Somad teringat bahwa di dompetnya tidak ada uang sama sekali. Ia hanya membawa beberapa surat penting dan sebuah kartu ATM sebagai sumber dalam mencairkan uang. Akhirnya ia putuskan untuk berhenti di ATM terdekat untuk mengambil uang sebagai antisipasi dari segala kemungkinan.

Sudah ada satu orang yang sedang mengambil uang di mesin ATM di pinggir jalan. Somad menunggu dengan setia sembari meluruskan otot-otot tubuhnya yang telah menempuh perjalanan beberapa jam dengan motor Super Cup-nya. Tak lama berselang, keluarlah seorang laki-laki paruh baya sambil memasukkan dompet miliknya ke dalam saku belakang celana panjang hitamnya. Somad tersenyum mencoba menyapa laki-laki itu. Kontan saja laki-laki itu membalas senyuman Somad dengan menyapanya,

“Mari saya duluan de.”

“Mari Pak…” sahut Somad.

Belum sempat Somad masuk ke mesin ATM, ia tersadar bahwa motornya ternyata menghalangi mobil milik laki-laki paruh baya itu sehingga dengan cepat Somad menghampiri motornya untuk dipindahkan ke tempat yang tidak menggangu orang lain.

Suara klakson mobil laki-laki itu mengisyaratkan tanda terima kasih kepada Somad yang telah berbaik hati memberikan jalan bagi mobilnya agar dapat kembali meneruskan perjalanan. Sebuah senyuman kembali mekar di bibir Somad sebagai tanda balasan ucapan terima kasih.

Kartu ATM sudah di tangan, namun ternyata masih ada kartu ATM milik orang lain yang menancap di lubang tempat keluar masuknya kartu. Somad langsung teringat laki-laki paruh baya tadi. Ia ambil kartu itu lalu berusaha mengejar mobil yang – menurut Somad – belum jauh perginya.

Bergegas Somad memacu motor tuanya dengan kencang mengejar mobil tadi. Ia khawatir memikirkan bagaimana jika Somad tidak bertemu dengan laki-laki paruh baya itu, pasti laki-laki itu akan mencari kartu ATMnya yang hilang entah dimana.

Harapan kembali muncul. Somad melihat mobil sedan berwarna hitam persis seperti yang ia lihat di ATM tadi. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar seratus meter namun terhalang oleh beberapa mobil dan motor sehingga ia harus memikirkan benar-benar kapan ia harus menyalip mobil dan motor yang menghalanginya agar ia pun tetap selamat.

Allah berkendak lain. Tepat setelah mobil sedan itu melewati rombongan polisi yang sedang bertugas mengamankan arus mudik, jalanan kemudian ditutup karena sedang diberlakukan sistem buka tutup jalan. Mobil sedan pun pergi tanpa jejak meninggalkan Somad dan motornya yang terhenti karena diberhentikan polisi.

“Semoga Engkau mempertemukanku kembali dengan laki-laki itu ya Allah.” harap Somad dalam hati.

Waktu dhuhur telah tiba. Somad memilih untuk menepikan motornya di sebuah masjid di pinggir jalan. Banyak pemudik yang juga berhenti melaksanakan sholat dhuhur sekaligus beristirahat di tengah-tengah perjalanan mudiknya. Somad bergegas mengambil air wudlu lalu sholat dhuhur dengan khusyuk.

Wirid-wirid yang ia panjatkan telah selesai. Tak lupa ia berdoa agar segera dipertemukan dengan pemilik kartu ATM yang kini dipegang olehnya.

Ia bergegas mengarungi kerasnya perjalanan mudik namun sangat ia nikmati. Belum selesai memakai sepatu, Somad melihat mobil sedan berwarna hitam di samping motornya. Ketika Somad datang, ia tak melihat ada mobil di situ namun sekarang ada. Berarti pemilik kartu ATM itu berada tidak jauh dari lingkungan masjid tempat Somad sembahyang.

Somad menyisir pandangannya ke segala penjuru masjid. Laki-laki paruh baya itu ditemani istrinya sedang beristirahat di serambi masjid. Somad menghampiri mereka dan mengembalikan kartu ATM yang bukan milik Somad itu.

Nampaknya pertemuan itu tidak berhenti sampai laki-laki paruh baya itu mengucapkan terima kasih. Perbincangan panjang lebarpun terjadi antara Somad dan laki-laki paruh baya berserta istrinya. Mereka saling bercerita tentang tujuan perjalanannya hingga hikmah kehidupan. Ternyata rumah laki-laki itu berada di sebuah desa yang selalu Somad lewati ketika mudik. Jadi arah tujuan mudiknya pun hampir sama.

Ada rasa nyaman ketika Somad berbicara dengan laki-laki paruh baya itu. Beliau sama sekali tidak menggurui Somad yang usianya jauh di bawahnya. Kata-katanya penuh dengan hikmah dan nilai-nilai kehidupan sehingga Somad seakan mendapatkan seorang guru dalam perjalanan mudiknya kali ini. Jika boleh menawar, maka Somad ingin terus menerus berbincang dengannya, namun ia juga harus melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya karena ibunya sudah menunggu dengan setia.

Ayahnya telah meninggalkan Somad dan satu adik laki-lakinya ketika Somad berumur enam tahun. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibunya hanya mengandalkan garapan sawah peninggalan kakek neneknya untuk digarap. Syukur, Somad cepat menyadari keadaan keluarganya sehingga ia tidak terlalu banyak menuntut ini itu kepada ibunya yang seorang diri.

Somad berpamitan meninggalkan laki-laki paruh baya itu beserta istrinya di masjid. Somad sempat akan diberi uang sebagai imbalan karena telah membawakan kartu ATM miliknya, namun ia menolak dengan halus karena – menurut Somad – sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk saling tolong menolong.

Sampailah Somad di rumah Ibunya. Rasa syukur ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan keluarganya di rumah. Doanya pun terkabul, Tuhan tidak menurunkan hujan selama di perjalanan. Kini Somad berusaha untuk menikmati suasana Ramadhan yang tinggal beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga. Suasana yang selalu ia rindukan ketika sedang merantau.

Lebaran pun tiba. Acara silaturahmi berlangsung di sana sini yang juga melibatkan Somad, baik sebagai panitia maupun peserta. Suka cita ia rayakan bersama keluarga, teman seperjuangan dan beberapa kerabat di kampung. Penuntasan masalah hak adam menjadi prioritas utama setelah penuntasan masalah dengan Allah selesai di bulan Ramadhan.

**

Beberapa hari setelah lebaran, Somad diundang untuk menghadiri acara silaturahmi santri, alumni dan Ikatan Remaja Masjid pondok pesantren tempatnya belajar dulu ketika masih di kampung. Kapasitasnya ketika itu sebenarnya sebagai panitia, tetapi karena Somad baru pulang ke rumah beberapa hari sebelum lebaran, sehingga ia kurang tahu menahu tentang teknis pelaksanaan acara silaturahmi itu. Ia diundang atas nama Ikatan Remaja Masjid karena dalam susunan kepengurusan, Somad masih menjabat sebagai Sekretaris walaupun sudah lama vacuum.

Banyak santri, alumni, dan remaja masjid yang hadir dalam acara itu. Ada yang membawa serta keluarga kecilnya karena sudah menikah, ada juga yang setia dengan status lajangnya. Bagi yang masih lajang, selain niatnya untuk silaturahmi, juga sebagai ajang untuk mencari calon istri atau suami yang dirasa cocok di hatinya. Begitulah anak muda. Masih suka pecicilan.

Awalnya Somad tidak mau mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya itu. Tapi akhirnya benteng tekadnya pun runtuh. Ia kepincut salah seorang santri perempuan yang masih kelas tiga Madrasah Aliyah.

Wajahnya manis, putih bersih. Senyumnya menyejukkan hati yang gersang. Sikapnya santun, berbicaranya pun sopan. Balutan busana muslim khas pesantren menambah daya tarik dalam dirinya. Gaya khas pesantren bagi sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi Somad, gaya seperti itulah yang selalu memikat hatinya. Seleranya dari dulu tidak berubah walaupun saat ini sedang trend gaya berjilbab dengan berbagai gaya, atau orang-orang kota menyebutnya hijaber.

Strategi pun disusun. Ia mendekati teman dekatnya di kampung yang juga dekat dengan santri pondok putri. Pandi namanya. Ia memberi arahan kepada Pandi untuk melihat santri perempuan yang Somad maksudkan. Dan pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah,

“Siapa namanya?”

“Liah” jawab Pandi.

Pertanyaan seputar Liah langsung terlontar begitu saja dari mulut Somad diiringi rasa ingin tahu yang besar. Sayang, temannya itu ternyata kurang begitu hafal dengan seluk beluk Liah. Namun Pandi ternyata menyimpan nomor ponsel Liah. Segera saja Somad mencatat nomor itu dengan seksama. Harapan itu selalu ada.

**

Hari-hari setelah pertemuan itu, dunia serasa begitu indah bagi Somad. Rasa bahagia selalu menghampiri. Seakan nama Liah selalu menghiasi setiap sudut ruangan pikirannya. Nama yang indah karena dihiasi dengan rasa ingin tahu akan sosok manis nan anggun itu. Terbayang selalu ketika pertama kali Somad melihat Liah. Baju merah dibalut dengan kerudung berwarna merah khas pesantren tampak begitu indah dipandang dengan wajahnya yang putih bersih tidak membosankan.

“Istri idaman” khayal Somad.

Hingga beberapa hari setelah itu, Somad belum juga menjalin komunikasi dengan Liah. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Somad, namun alasan utamanya adalah ia terlalu malu untuk memulai pembicaraan karena takut salah dalam memulai. Belum lagi karena rasa minder yang merasuki pikiran Somad.

Somad merasa dirinya belum pantas jika mencari calon istri seorang santri karena ia hanyalah remaja masjid biasa, dan bukanlah seorang santri. Kitab kuning saja belum mampu Somad kuasai, sedangkan – namanya – santri hampir bisa dipastikan – walaupun sedikit – bisa membacanya. Masih banyak lagi alasan-alasan yang merusak pola pikir Somad. Liah, ternyata engkau mengacaukan pikiran rasional Somad.

Tapi pada suatu hari, Entah dapat keberanian dari mana Somad tiba-tiba mengirim pesan pendek kepada Liah yang hanya mengutarakan salam.

“Assalamu’alaikum…”

Hanya itu yang mampu Somad utarakan karena takut Liah tidak menyukai ada pesan pendek dari orang yang belum dikenal. Somad menunggu balasan dari Liah dengan cemas bercampur malu seperti layaknya orang sedang jatuh cinta.

Baru keesokan harinya, Liah menjawab pesan singkat itu.

“Wa’alaikumsalam…”

Ah, senangnya Somad mendapat balasan dari wanita idamannya.

Semenjak itulah komunikasi antara Somad dan Liah menjadi lebih sering. Walau jarang sekali bertemu, mereka tetap berkomunikasi. Seakan hanya bermodal bertemu ketika silaturahmi saja sudah cukup untuk terus berkomunikasi tanpa bertatap muka. Ingin hati bertemu setiap hari, namun apa daya perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan.

Keadaan seperti ini berlangsung hingga tahun berikutnya. Ramadhan berikutnya, dan lebaran berikutnya. Somad dan Liah sudah sama-sama ingin bertemu. Tanpa bertemu pun kedua insan ini sepertinya sudah saling menyayangi. Mungkin terlihat tidak rasional. Bagaimana mungkin hanya bertemu sekali, tapi langsung bisa saling jatuh cinta. Tapi begitulah cinta, siapapun akan terlena jika mengikutinya.

**

Tahun ini ia kembali ke kampung halamannya sudah tidak lagi menyandang gelar mahasiswa S2. Kini ia menyandang predikat dosen Universitas Perguruan Indonesia. Somad lulus lebih awal dari waktu yang ditentukan dengan mendapatkan predikat cumlaude sehingga pihak universitas meminta dirinya untuk menjadi dosen di almamaternya itu.

Hidup mapan sudah semakin dekat dengan Somad. Tinggal istiqomahnya saja. Namun ada satu lagi target yang belum terlaksana, menikah dengan istri yang sholehah.

Hatinya sudah kuat memilih Liah sebagai istrinya, namun ada satu hal yang lagi-lagi menyebabkan Somad merasa rendah diri. Sebuah kenyataan bahwa ternyata ayah kandung Liah adalah seorang Kyai yang juga memiliki pondok pesantren di desa tempat tinggalnya. Jadi Liah – menurut bahasa santri – adalah seorang Ning (anak perempuan Kyai).

Inilah yang menyebabkan Somad merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan seorang Ning. Dalam pikiran Somad, anak Kyai pantasnya berpasangan dengan anak Kyai juga. Apalagi Somad bukanlah santri tulen. Ia hanya mengerti beberapa hukum agama saja tanpa mendalaminya secara lebih detail.

**

Jauh di kampung sana, Liah sedang berbicara kepada Abah dan Uminya.

“Bah, sudah satu tahun ini, Liah senang dengan seorang laki-laki” ungkap Liah dengan sangat hati-hati.

“Santri atau bukan?” tanya Abahnya.

Seperti dugaan Liah, Abah kurang setuju jika putrinya yang cantik nan sholehah menikah dengan seorang yang bukan dari kalangan santri. Abah menghendaki jika putrinya tidak menikah dengan seorang anak Kyai, minimal ia menikah dengan seorang santri yang bisa mengaji dan membaca kitab kuning agar dapat mengimbangi kemampuan putrinya yang sudah hafal beberapa kitab ilmu alat.

Berulang kali Liah meyakinkan Abahnya bahwa pria idamannya itu adalah pria yang baik. Walaupun ia bukanlah santri tulen, tapi ia tidak pernah berbuat yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Hidupnya juga seperti santri yang lebih memilih hidup prihatin ketika muda.

Awalnya abahnya tetap dengan pendiriannya yang tidak menginginkan putrinya menikah dengan seorang yang bukan dari kalangan santri, tapi setelah Liah memohon kerelaan hati abahnya akhirnya abahnya mengajukan syarat kepada putrinya.

“Abah ingin bertemu dengan laki-laki yang kau maksudkan itu.”

Liah melihat ada seberkas harapan dari abahnya. Ia memutuskan untuk mempertemukan abahnya dengan Somad di pondok tempat Liah menuntut ilmu. Akhirnya tercapailah kesepakatan. Setelah lebaran, abahnya akan menemui Somad di rumah Kyai pengasuh pondok tempat Liah belajar.

**

Ketika Liah ungkapkan hasil perbincangannya dengan abahnya, Somad mengurungkan niatnya karena ia merasa belum siap jika sudah harus berhadapan dengan abahnya yang seorang Kyai. Akhirnya kelembutan hati Liah mampu meluluhkan rasa minder dalam diri Somad. Liah meyakinkan bahwa tidak harus semua orang menjadi santri, karena sholehnya seseorang bukan hanya ia yang menjadi santri. Siapa saja yang menjalankan kehidupannya dengan niat untuk beribadah kepada Allah dan tulus ikhlas, maka bukan tidak mungkin ia digolongkan orang-orang yang sholeh.

Pernyataan Liah itu ternyata berhasil mengusir pikiran-pikiran Somad yang tidak rasional. Dengan berusaha meyakinkan hati, Somad bersedia menemui abahnya setelah lebaran nanti walau dengan pikiran yang tidak karuan.

**

Dalam perjalanan mudiknya, Somad kembali berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Tanpa disangka ia kembali bertemu dengan laki-laki paruh baya yang tahun lalu ia temukan kartu ATMnya, tapi kali ini hanya seorang diri tanpa ditemani sang istri.

Mereka kembali melakukan percakapan dengan begitu nyaman seperti layaknya saudara dekat yang sudah lama tidak bertemu. Apa yang mereka perbincangkan juga mengalir begitu saja namun penuh arti. Pada kesempatan itulah Somad tahu bahwa nama laki-laki itu adalah Sobari. Hampir setiap tahun Pak Sobari selalu mengunjungi kota yang letaknya tidak jauh dari masjid itu untuk menghadiri haul kerabatnya setiap tanggal 27 Ramadhan.

Somad teringat Pak Sobari dulu pernah bercerita bahwa beliau berasal dari desa Karangmaju. Mengingat nama desa itu, Somad teringat dengan Liah yang juga berasal dari desa itu. Ingin sekali Somad bertanya apakah Pak Sobari mengenal Liah atau tidak, tapi niat itu ia urungkan dan bertanya hal lain yang ada hubungannya dengan Liah.

“Apakah bapak tau tentang pondok pesantren Al-Hidayah Karangmaju yang diasuh oleh KH. Ahmad Muttaqin ?”

Pondok pesantren al-Hidayah adalah nama pondok pesantren yang diasuh oleh abahnya Liah.

Pak Sobari menjawab pertanyaan Somad dengan begitu bahagia karena ternyata beliau juga pengajar di pondok itu sehingga sedikit banyak tahu tentang pondok pesantren al-Hidayah. Pak Sobari juga menawarkan kepada Somad untuk sesekali berkunjung ke rumahnya yang tidak jauh dari pondok pesantren itu. Rasa ingin bertanya tentang Liah kepada Pak Sobari semakin besar, tapi sekuat tenaga Somad urungkan karena ia merasa belum pantas bertanya tentang Liah kepada orang yang baru dikenalnya.

Perpisahan pun segera menghampiri. Sebelum melanjutkan perjalanan, pak Sobari berpesan kepada Somad.

“Saya berharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti de. Saya merasa nyaman berbicara denganmu. Semoga kamu sukses ya, dan mendapatkan istri yang sholehah seperti dirimu itu.”

Somad kemudian mengamini doa itu.

Rasa ingin bertanya tentang gadis pujaannya kepada Pak Sobari menguap begitu saja diterpa angin jalanan yang kembali merasuki tubuh Somad. Tapi setidaknya Somad merasa sudah mempunyai kenalan warga desa tempat Liah berasal. Minimal ada yang bisa dijadikan sumber untuk bertanya tentang Liah suatu saat nanti. Begitu khayal Somad.

**

Hari itu pun tiba. Hari dimana Somad dijanjikan akan bertemu dengan abahnya Liah di rumah Romo Kyai pengasuh pondok pesantren tempat Liah belajar ngaji. Liah meminta bantuan kepada Romo Kyai untuk menjadi penengah antara Somad dan abahnya itu. Liah hanya akan mendengarkan dari balik ruang tamu rumah Romo Kyainya.

Somad berjalan sendiri menuju rumah Romo Kyai karena rumah Somad dekat dengan pondok pesantren tempat Liah belajar. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang tamu yang sedang mengobrol dengan Romo Kyai.

Apa mungkin itu rombongan keluarganya Liah? Apa mungkin Liah membawa semua keluarganya hanya untuk bertemu denganku? Jika memang iya, mau jadi apa aku ini yang bukanlah seorang santri?

Itulah Pertanyaan yang menghantui Somad selama ia berjalan menuju rumah Romo Kyai.

“Sudahlah, Bismillah saja.” Somad berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Assalamu’alaikum…” Somad uluk salam sebelum masuk ndalem Romo Kyai.

Romo Kyai ternyata langsung menuju pintu masuk untuk menyambut Somad.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Romo Kyai.

Somad bersalaman dengan Romo Kyai di depan pintu masuk. Segera saja Romo Kyai berbalik arah dan memperkenalkan Somad kepada keluarganya Liah.

“Pak Kyai, niki sing namine Somad.” Seru Romo Kyai.

(Ini yang namanya Somad)

Entah apa yang menjadi rahasia Allah. Ternyata yang dilihat Somad adalah Pak Sobari. Laki-laki paruh baya yang tahun lalu ia temukan kartu ATMnya.

“Loh ? Pak Sobari ?” tanya Somad dengan penuh keheranan.

Lha jebule kowe to mad?” tanya Pak Sobari yang ternyata adalah abahnya Liah.

(Lha ternyata kamu mad?)

Berjuta perasaan menjadi satu dalam diri Somad. Senang, malu, minder, dan banyak lagi. Bersama dengan beribu jawaban, muncul pula berjuta pertanyaan. Ah, Liah. Mengapa engkau penuh misteri? Atau sebenarnya Liah diam saja, tetapi Allah lah yang menyimpan rahasia indah untuk Somad?

Pak Sobari adalah ayah kandung dari Liah. Nama lengkapnya adalah Ahmad Muttaqin Sobari, namun orang-orang biasa mengenalnya dengan Ahmad Muttaqin saja. Berkaitan dengan pengakuan Pak Sobari sebagai staf pengajar di pondok pesantren al-Hidayah, memang kenyataannya demikian hanya saja ia juga merangkap sebagai pengasuh pondok pesantren itu.

Pembicaraan tak jadi kaku seperti yang sudah dibayangkan Somad. Kembali ia asyik mengobrol dengan semua tamu yang ada. Malah sudah seperti tidak ada jarak lagi. Walau begitu, tetap saja rasa takdzim Somad terhadap Romo Kyai dan juga Abahnya Liah tetap dijaga. Ia tak boleh bersikap sekenanya apalagi dihadapan para ulama yang diseganinya.

“Somad, Jadi mau kapan tanggal pernikahannya?” tanya Kyai Ahmad.

Pertanyaan yang seketika itu membuat Somad terkejut. Bagaimana tidak? Ia yang datang dengan berjuta perasaan minder karena bukan berasal dari kalangan santri tiba-tiba diterima sebagai menantu seorang Kyai. Ia yang belum bisa membaca kitab kuning, ternyata dipercaya untuk menjadi imam dari seorang perempuan cantik jelita yang hafal beberapa kitab ilmu alat.

Belakangan Somad tahu bahwa Kyai Ahmad awalnya tidak setuju jika menantunya berasal dari kalangan warga biasa, tapi setelah bertemu dengan Somad tiba-tiba beliau percaya bahwa Somad adalah orang baik. Ini dibuktikan sendiri oleh beliau ketika bertemu dengannya di perjalanan mudik lebaran. Mulai dari menolong untuk mengembalikan kartu ATM hingga sikapnya yang sopan serta ramah.

Somad pun mengiyakan apa yang sudah dikatakan Liah kepadanya beberapa waktu lalu. “Orang sholeh tidak selamanya berasal dari kalangan santri.”

**

Hingga hari yang ditentukan pun tiba. Disaksikan Romo Kyai, Somad menjabat tangan Kyai Ahmad dengan mengucap sebuah kalimat dengan mantap.

“Saya terima nikah dan kawinnya Liah binti Ahmad Muttaqin dengan mas kawin tersebut tunai!”

Cilacap, 6 Syawal 1433 H / 24 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s