Moment Hari Raya Idul Fitri biasanya dijadikan sebagai moment untuk reuni atau silaturahmi dengan teman seperjuangan ketika bersama-sama menuntut ilmu atau mencari sesuap nasi. Mengenang masa-masa indah ketika masih bersama dengan orang lain atau saling bertanya kabar satu dengan yang lain menjadi hal yang ditunggu bagi setiap orang yang menghadiri acara silaturahmi atau reunian.

Silaturahmi semacam itu tidak terbatas hanya pada kalangan pelajar sekolah-sekolah negeri atau para pegawai kantoran, tetapi juga men-tradisi di kalangan para santri sebuah pondok pesantren. Pada tanggal 23 Agustus 2012 pukul 09.00 bertempat di selasar masjid, para santri Pondok Pesantren Ar-Ridwan desa Kalisabuk kecamatan Kesugihan kabupaten Cilacap mengadakan silaturahmi antar santri, alumni, dan mengundang Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) Ar-Ridwan dengan maksud untuk lebih memperkuat tali silaturahmi antar santri ataupun juga antar alumni dan bagi remaja masjid – yang juga merupakan santri – tentu sebagai ajang untuk bertemu kangen satu dengan yang lainnya.

Tepat pukul 09.00 WIB hanya satu dua orang yang sudah hadir di majelis itu. Acara pertama adalah sholawatan bersama dengan grup rebana pondok yang juga berfungsi sebagai acara untuk menunggu peserta yang belum hadir. Peserta yang telah hadir, mengobrol kesana kemari sambil menanyakan kabar yang satu dengan yang lainnya.

Banyak diantara peserta yang ketika hadir sudah membawa suami atau istrinya, ada juga yang sudah menggendong anaknya yang masih kecil, tak lupa juga para bujang ataupun bujangwati yang tetap setia dengan status lajangnya karena beberapa alasan.

Setelah sebagian besar peserta telah hadir, acara dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dimpimpin oleh Gus Aziz. Tahlil berlangsung hikmat dan para hadirin terlihat larut dalam wirid-wirid yang menyejukkan.

Acara secara resmi dimulai oleh pembawa acara ketika tahlil selesai dilakukan dengan acara pertamanya yaitu pembacaan ayat suci Al-Quran dilanjutkan dengan membaca sholawat bersama yang dibawakan oleh Gus Zuhair dengan penuh kesejukan.

Laporan ketua panitia dilakukan oleh ketua Panitia acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, antara lain: sambutan dari perwakilan santri, perwakilan alumni santri, perwakilan Ikatan Remaja Masjid (IRMAS), dan perwakilan Dewan Asatid.

Mas Piyul selaku ketua panitia melaporkan beberapa perincian dana yang telah dihimpun sebelum acara berlangsung dan mengucapkan terima kasih kepada segenap panitia yang telah bekerja sama sehingga acara silaturahmi dapat terlaksana dengan baik.

Mas Hafidz selaku perwakilan santri meminta para hadirin untuk mendoakan para santri agar semangat dalam belajar agama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata beliau – yang mengutip salah satu hadits – , Ilmu belum bisa dikatakan ilmu jika belum diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut istilah bahasa Cilacap dan sekitarnya, ilmu yang seperti itu dikatakan ilmu Boek yang jika diterjemahkan secara bebas dapat diartikan sebagai ilmu kosong, dalam arti hanya luarnya saja namun isinya tidak ada apa-apanya.

Mas Amir selaku perwakilan alumni memohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan para santri dalam bertutur kata ataupun dalam bersikap, baik di dalam pondok maupun di luar lingkungan pondok.

Perwakilan IRMAS mengucapkan terima kasih atas diadakannya acara silaturahmi yang melibatkan santri, alumni dan IRMAS. Dia juga memohon maaf atas nama IRMAS jika memiliki banyak kesalahan selama ini. Tak lupa dia meminta doa kepada hadirin agar para remaja diberi kelancaran dan keberkahan rejekinya, bagi yang sudah berkeluarga dapat menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, sedangkan bagi yang belum berkeluarga agar dapat segera menyusul.

Pak Kyai Dahlawi selaku perwakilan Dewan Asatid banyak bercerita tentang pengalamannya ketika nyantri dulu dengan harapan para santri yang mendengarkan dapat mencontoh apa yang telah dilakukannya karena itu hal yang baik yang patut dicontoh. Beliau juga mengingatkan tentang syarat santri agar berhasil yang dikutip dari kitab wajib – kata beliau – para santri yaitu Ta’lim Muta’allim. Dalam kitab tersebut disebutkan, Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa ada enam syarat santri agar berhasil dalam menuntut ilmunya, antara lain: (1) Cerdas, (2) Senang, (3) Sabar, (4) Mempunyai bekal, (5) Menurut petunjuk guru, (6) lama waktunya.

Cerdas, para santri tentu harus cerdas dalam menuntut ilmu. Cerdas menjadi modal utama agar para santri mampu menyerap ilmu yang diajarkan dari para ustadz ataupun para Kyai.

Senang, para santri seyogianya menyenangi terhadap ilmu yang sedang dituntutnya karena jika seseorang menyenangi suatu pekerjaan, maka ia akan melakukannya dengan ikhlas. Begitu juga dengan menuntut ilmu, baik dalam pondok pesantren maupun dalam lembaga pendidikan lainnya.

Sabar, para santri harus sabar dalam menghadapi cobaan ketika sedang menuntut ilmu. Sabar disini termasuk sabar terhadap ujian selama berada di pondok. Jangan jadi santri yang sebentar-sebentar pulang karena salah satu godaan santri adalah godaan untuk pulang ke kampung halaman. Kyai Dahlawi mencontohkan kalaupun seorang santri mondok tiga tahun berturut-turut juga belum tentu dapat dipercaya masyarakat, apalagi hanya mondok satu tahun tapi setiap minggu pulang ke rumah.

Mempunyai bekal tidak harus berorientasikan materi. bekal bisa berarti bekal tekad, bekal iman, dan lain-lain. Kehidupan santri sangat dekat dengan kehidupan prihatin. Jadi bekal materi saja tidaklah cukup, harus diimbangi dengan tekad yang kuat untuk menuntut ilmu.

Menurut petunjuk guru, maksudnya apa yang ditunjuki oleh guru maka dilakukan. Ini sejalan dengan filosofi kata “guru” dalam tradisi Jawa. Guru – kata orang dulu – merupakan kependekan dari “digugu lan ditiru” yang artinya dipercaya dan dicontoh. Maka jangan heran jika para santri begitu takdzim dengan Kyainya karena memang sosok Kyai merupakan sosok yang selalu ditiru tindhak-tandhuknya sehingga Kyai – yang benar-benar Kyai – tidak hanya berbicara namun memberi contoh yang baik kepada para santrinya.

Lama waktunya, ini berkaitan dengan banyaknya ilmu yang setidaknya harus dipelajari oleh santri. Kyai Dahlawi menceritakan bahwa dulu Almaghfurlah KH. Ridwan belajar ngaji selama 30 tahun lamanya. Maka jika ukurannya adalah beliau, kita jangan bangga jika hanya mengaji selama 3 tahun atau beberapa bulan saja.

Pak Kyai Dahlawi juga mengingatkan tentang istilah Jawa yang berbunyi, “Sing paseh ora pasah, sing ora paseh pasah.” Terjemahan bebasnya kurang lebih, “Yang pintar tidak dipercaya orang, yang tidak pintar malah dipercaya orang.” Maksud dari istilah ini adalah banyak santri yang pintar tetapi tidak dirasakan manfaatnya bagi orang lain. Jadi kepintarannya hanya untuk dirinya sendiri dan merasa dirinya sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi, atau dalam bahasa jawa disebut “keminter”. Namun ada juga santri yang tidak begitu pintar tetapi orang lain merasakan manfaat dari kehadiran dirinya. Ini dikarenakan santri tersebut mengamalkan apa yang sudah dipelajarinya walaupun sedikit sehingga ilmunya benar-benar ilmu yang bermanfaat, bukan sekedar ilmu – meminjam istilah mas Hafidz – boek.

Terkait dengan pasangan hidup, pak Kyai Dahlawi mengingatkan agar para santri jangan terlalu terlena dengan trend anak muda jaman sekarang, yaitu pacaran. Para santri harus mengingat bahwa kewajibannya adalah menuntut ilmu, masalah jodoh nomor sekian.

Tiga hal yang menurut pak Kyai Dahlawi harus dilihat sebelum menentukan jodoh, antara lain: (1) Pintar, (2) Gagah/Cantik, (3) Kaya. Seminimal-minimalnya para santri memilih calon pasangan hidup yang memenuhi salah satu dari ketiga kriteria tersebut. “Syukur-syukur ketiganya ada dalam satu diri.” tambah pak Kyai Dahlawi.

Acara selanjutnya setelah sambutan-sambutan adalah mukadimah dari Gus Aziz. Gus Aziz menekankan pentingnya mencontoh pak Kyai Dahlawi berkaitan dengan semangatnya dalam menuntut ilmu. Beliau juga menyampaikan tentang empat golongan manusia yang ia kutip dari kitab karangan Imam Ghozali yang terkenal yaitu Ihya Ulumuddin.

Manusia itu – katanya – dibagi menjadi empat jenis. (1) Orang pintar yang mengerti bahwa dirinya pintar, (2) Orang pintar yang tidak menyadari bahwa dirinya pintar, (3) Orang bodoh yang mengerti dirinya bodoh, (4) Orang bodo yang tidak menyadari bahwa dirinya bodo.

Golongan manusia yang pertama, yaitu orang pintar yang mengerti bahwa dirinya pintar adalah orang-orang yang seyogianya kita dekati agar kepintarannya juga ikut menular kepada kita. Golongan manusia yang kedua, yaitu orang pintar namun tidak menyadari bahwa dirinya pintar diibaratkan sebagai orang yang tidur, maka harus dibangunkan agar mau mengajarkan kepintarannya kepada orang lain. Golongan manusia yang ketiga, yaitu orang bodoh yang mengerti bahwa dirinya bodoh adalah golongan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari orang yang pintar agar lebih berilmu. Sedangkan golongan manusia yang keempat, yaitu orang bodoh yang tidak menyadari bahwa dirinya bodoh adalah orang-orang yang perlu  kita waspadai.

Setelah menyampaikan keempat golongan manusia tersebut, Gus Aziz mengajak para hadirin untuk mengintrospeksi dirinya sendiri dengan bertanya, “Masuk golongan manakah kita ini?” Jawaban dari masing-masing hadirin agar direnungkan di dalam hati sehingga masing-masing individu berusaha mempertahankan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik.

Gus Aziz berharap agar ilmu yang sudah didapatkan para santri menjadi berkah. Berkah menurut Gus Aziz adalah Ziyadatul Khoir (menambah kebagusan). Jadi jika ilmu atau hartanya berkah, maka ilmu atau hartanya itu dapat menambah kebaikan bagi si empunyanya.

Acara selanjutnya adalah Ishoma karena waktu Sholat Dhuhur telah tiba. Para hadirin melakukan sholat berjamaah di dalam masjid dengan diimami pak Kyai Dahlawi. Makan siang denga menu Mie Ayam menjadi acara selanjutnya setelah sholat berjamaah selesai.

Grup rebana kembali memainkan lagu-lagu sholawatnya untuk mengiringi para hadirin yang sedang menyantap makan siang dan menunggu dilanjutkannya acara silaturahmi yang sudah akan menginjak kepada acara inti yaitu Mau’idzoh Hasanah dari KH. Himamudin Ridwan selaku pengasuh pondok pesantren Ar-Ridwan.

Pukul 13.00 acara inti pun tiba. Seperti adat kebiasaan para santri, ketika Kyai berjalan ke tempat yang sudah disediakan maka grup rebana memainkan sholawat untuk mengiringi Kyai berjalan menuju tempat yang disediakan. Suasana terlihat tenang dan hikmat ketika Bapak – begitu para santri biasa memanggil KH. Himamudin Ridwan – sudah berbicara.

Pertanyaan yang pertama dilontarkan kepada para hadirin sebagai bahan introspeksi adalah, “Apa kira-kira jika sudah tua nanti kamu sekalian akan menjadi orang yang hidupnya nyaman?” Beberapa kali pertanyaan itu diulang-ulang Bapak agar para hadirin dapat merenunginya.

Bapak menuturkan, nyaman tidaknya hidup ketika tua ditentukan ketika masa muda. Jika masa mudanya sering hidup prihatin dan merasakan kesengsaraan hidup, maka ketika tua akan merasakan buah manis yang telah diperjuangkan ketika muda. Namun jika ketika mudanya hanya maunya bersenang-senang tanpa berusaha dan tidak mau hidup prihatin, maka ketika tua nanti jangan heran jika hidupnya akan susah.

Bapak juga mengutip sebuah ayat al-Qur’an yang inti terjemahannya jika disesuaikan dengan konteks di kehidupan sehari-hari maka berarti, “Ketika budaya ‘berlebih-lebihan’ masuk ke kampung-kampung, maka budaya itu akan merusak budaya kampung yang sudah ada. Ayat ini pula yang melandasi para Kyai jaman dulu tidak senang dengan – orang Jawa menyebutnya – landa (Bule) karena orang bule ketika menjajah Indonesia membawa budaya barat yang merusak tatanan kehidupan masyarakat perkampungan.

Saat ini walaupun sudah tidak ada penjajahan di bumi Indonesia, namun budayanya masih tertinggal terutama di kota-kota besar. Bapak memberi contoh ketika anak kampung pergi ke kota atau bahkan mungkin ke luar negeri beberapa bulan saja, ketika pulang sudah menganggap berjanjenan (membaca kitab al-Barzanji bersama-sama) sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal ketika dulu sebelum ke kota besar rajin ke masjid dan rajin berjanjenan.

Budaya barat juga melekat dalam dirinya melalui pakaian yang dikenakan. Kerudung yang dulu menutupi sebagian kepalanya, sekarang sudah ditanggalkannya. Celana jeans dan kaos ketat sudah mengganti pakaian khas santri/santriwati yang dulu dipakainya ketika belum meninggalkan kampung halaman.

Dahulu para ibu selalu mengidam-idamkan agar mendapat menantu yang pintar mengaji, membaca al-barzanji dan menjaga auratnya, namun sekarang hal itu sudah mulai luntur karena masuknya budaya yang tidak mendidik dibawa ke kampung halaman. Akibatnya anak muda jaman sekarang malah menjadi malu ketika harus mengaji, berjanjenan ataupun menjaga auratnya dengan berbagai alasan.

Yang lebih ironis lagi banyak anak muda yang setelah pergi ke kota besar lupa dengan bahasa Ibu atau bahasa daerahnya (Jawa) dan kemudian diganti dengan Loe, Loe, Gue, Gue, dan bahasa ‘gaul’ lainnya.

Dari beberapa contoh di atas, sebenarnya Bapak ingin berpesan kepada para santri dan remaja agar jangan sekali-kali luntur jiwa kesantriannya dimanapun berada, baik itu ketika sedang mencari rejeki, menuntut ilmu atau dalam kegiatan lainnya. Tunjukkanlah jiwa kesantrian yang sudah tertanam dalam masing-masing santri dan juga remaja masjid agar tidak terasuki budaya-budaya yang tidak mendidik serta merusak tatanan budaya Indonesia yang sudah ada.

Dalam hal jodoh, Bapak berpesan agar dalam mencari calon pasangan hidup jangan mencari suami atau istri yang tidak tahu latar belakangnya. Dilihat terlebih dahulu bagaimana latar belakang orangnya, apakah sesuai dengan latar belakang keluarga kita atau tidak. “Usahakan carilah pasangan yang satu merek.” Begitu pesan Bapak.

Selanjutnya Bapak mengutip sebuah hadist Qudsi yang artinya kurang lebih sebagai berikut, “Allah selalu mengikuti apa dugaan hamba-Nya.” Berdasarkan hadist inilah maka Bapak berpesan agar kita senantiasa menduga yang baik-baik, terutama dengan diri kita sendiri. Yakinlah dengan apa yang kita inginkan, jangan ragu-ragu. Bapak memberi contoh ketika ada diantara hadirin yang akan mencari pekerjaan di Jakarta maka tanamkanlah dalam dirinya bahwa dia akan mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Jangan sampai ada kalimat begini dalam hatinya, “Ke Jakarta lah, siapa tahu dapat kerjaan.” Kalimat-kalimat negatif seperti ini yang menyebabkan terhambatnya harapan dari para hamba Allah. Maka sebisa mungkin gunakanlah kalimat-kalimat positif untuk menduga diri kita sehingga Allah akan mengikuti dugaan kita.

Bapak mengutip satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang berbunyi, “Maroahul muslimuna khoiron, ma ‘indallohi khoirun.” (Apa yang dinyatakan baik oleh orang banyak, maka Allah akan memutuskan baik terhadap hal itu). Hadist ini sebenarnya masih berhubungan dengan hadist Qudsi sebelumnya karena mengajarkan kita agar selalu bertingkah laku positif, termasuk ketika berbicara. Bapak memberi contoh ketika seseorang mengadu kepada beberapa orang dengan kalimat, “Mau Lebaran tapi enggak punya uang.” Kalimat tidak punya uang akan terus tertanam di benak orang yang diajak berbicara bahwa si A tidak punya uang menjelang lebaran. Maka ketika semakin banyak orang yang tahu bahwa A tidak punya uang, maka Allah pun akan memutuskan A tidak punya uang ketika menjelang lebaran.

Sebisa mungkin berusahalah agar kita diduga baik oleh orang lain agar Allah juga menduga baik kepada kita. Kata-kata bijak dari Bapak terkait dengan hal ini adalah, “Sebarkanlah hal positif dari diri anda kepada orang lain agar menjadi doa.”

Dalam hal silaturahmi, Bapak menekankan agar saling doa-mendoakan. Undang-undang dalam Islam menyatakan bahwa terkabulnya doa berasal dari bersihnya dosa. Tetapi namanya manusia tidak akan pernah lepas dari dosa, maka salah satu solusinya adalah dengan saling doa-mendoakan atau dalam bahasa Jawa disebut doa-dino’a.

Salah satu hadist yang berkaitan dengan doa-mendoakan adalah “Yustajabu lirrojuli fi akhihi ma la yustajabu lahu linafsi.” Jika dianalogikan, Kamu berdoa untuk dirimu sendiri tidak dipedulikan Allah, tetapi kamu berdoa untuk orang lain langsung dikabulkan Allah. Maka – menurut Bapak – inilah keunikan dan kekuatan Islam dimana umat Islam saling doa-mendoakan untuk kebaikan orang lain sehingga doanya dikabulkan oleh Allah. Pesan Bapak terkait dengan hal ini adalah “Berbuat baiklah kepada orang lain agar orang lain mau mendoakan baik kepadamu.”

Di akhir, Bapak mengutip hadist tentang silaturahmi yang terkenal berbunyi, “Barang siapa yang ingin lancar rejekinya dan panjang umurnya, maka nyambunglah (silaturahmilah) dengan saudaramu.” Saudara di sini bisa berarti saudara kandung ataupun saudara satu iman. Maka adanya acara silaturahmi antar santri, alumni dan remaja masjid pondok pesantren Ar-Ridwan merupakan hal yang baik untuk terus menyambung tali silaturahmi yang sudah terbina sehingga dapat saling doa-mendoakan antara satu dengan yang lainnya.

Tak lupa Bapak meminta maaf lahir dan batin jika Bapak mempunyai salah kepada siapapun saja, terutama kepada para hadirin yang hadir dalam majelis itu.

Setelah salam penutup, Bapak langsung membacakan doa yang diamini oleh para hadirin. Acara siang itu ditutup dengan bersalam-salaman antar satu dengan yang lainnya. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan.

Foto bersama pun dilakukan sebagai dokumentasi kegiatan yang melibatkan santri, alumni dan remaja masjid pondok pesantren Ar-Ridwan desa Kalisabuk kecamatan Kesugihan kabupaten Cilacap.

 

NB: Jika ada salah redaksi atau salah kutip mohon saya diberi tahu yang benarnya agar saya juga lebih memahami apa yang dibenarkan tersebut. Semoga bermanfaat.

 

Cilacap, 5 Syawal 1433 H / 23 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s