Sudah menjadi rutinitas keluarga saya setiap tahun setelah lebaran, selalu diadakan silaturahmi keluarga. Mungkin bagi teman-teman yang membaca tulisan ini juga memiliki tradisi yang sama dengan keluarga saya.

Tradisi silaturahmi keluarga di keluarga saya dikumpulkan menjadi satu waktu dan satu tempat dari satu canggah. Canggah adalah sebutan untuk ayahnya buyut dalam tradisi Jawa. Nama canggah saya adalah H. Abdurrahman. Bagi saya, menyebut H. Abdurrahman tentu canggah tetapi bagi generasi di bawah saya mungkin sudah udeg-udeg atau mungkin gantung siwur (tingkatan lebih tinggi setelah canggah) karena buyut generasi di bawah saya tentu berbeda dengan buyut generasi saya.

Dapat dibayangkan jika semua keluarga dapat hadir dalam majelis itu, niscaya saya akan kembali tersadarkan bahwa keluarga saya sangatlah banyak dan besar. mungkin juga demikian bagi teman-teman pembaca tulisan ini. Canggah saya memiliki lima anak dan dari masing-masing anak tersebut melahirkan beberapa anak lagi hingga sampailah kepada saya. Begitulah keluarga, aset yang tak ternilai harganya.

Dalam silaturahmi keluarga itu selalu diadakan pengajian dari seorang Kyai di sekitaran Kabupaten Cilacap yang biasanya sudah terkenal namanya. Kali ini, silaturahmi itu mengundang bapak KH. Maslahudin, S. Ag. dari Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap. Beliau adalah Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap.

Acara silaturahmi berlangsung hikmat dan lancar. Saya mengambil tempat duduk di belakang masjid yang tidak jauh dari tratagan – tempat berteduh para tamu. Mendengarkan dengan seksama pengajian dari bapak Kyai tentu menjadi tujuan utama saya setelah bertemu saudara untuk saling bermaaf-maafan.

Pak Kyai memulai pengajian dengan suara lirih karena katanya begitulah gaya beliau ketika memulai pengajian. Namun setelah mendekati inti dari pesan yang beliau bawakan, tentu suaranya pun semakin bertambah keras. Mungkin ini dimaksudkan agar para pendengar tidak langsung kaget dengan suara keras ataupun juga ini merupakan strategi beliau agar menjaga stamina suaranya.

Pesan intinya tentu semangat silaturahmi, terutama silaturahmi antar keluarga. Beberapa poin yang menjadi perhatian saya adalah ketika beliau menyampaikan bahwa dosa itu terdiri dari empat macam. Dua dosa berhubungan dengan Allah (Hablumminallah) dan dua dosa lainnnya berhubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas). Rupa keempat dosa tersebut antara lain: Pertama, dosa non-materi kepada Allah. Kedua, dosa materi kepada Allah. Ketiga, dosa non-materi kepada sesama manusia. Keempat, dosa materi kepada sesama manusia.

Dosa non-materi kepada Allah tentu sudah dapat kita pahami dari namanya saja yang membawa kata-kata non-materi. Contoh nyata dari dosa ini adalah seseorang yang tidak sholat, seseorang yang tidak puasa, dan lain-lain yang mana orang itu tidak melaksanakan tuntunan agama yang bersifat ibadah tanpa materi.

Dosa materi kepada Allah ini contohnya adalah seseorang yang tidak membayar zakat, seseorang yang sudah mampu untuk berhaji namun tidak melaksanakan haji, dan lain-lain. Dari dua contoh tersebut dapat dipahami bahwa dosa materi kepada Allah adalah dosa yang dilakukan seseorang dengan tidak melaksanakan ibadah kepada Allah yang memerlukan materi/kebendaan.

Sebelum melangkah ke dua jenis dosa selanjutnya, Pak Kyai menuturkan bahwa dosa kepada Allah lebih mudah diampuni daripada dosa kepada sesama manusia. Hal ini dapat dipahami karena Allah itu Maha Pemaaf dan manusia dapat dengan mudah meminta maaf langsung kepada Allah tanpa orang lain mengetahuinya. Tentu hal ini berbeda dengan dosa kepada sesama manusia dimana agar dosa itu dapat diampuni, seseorang mau tidak mau harus mendatangi orang yang tidak berkenan dengan sikap kita agar kita memohon maaf atas apa yang telah kita lakukan dan meminta kehalalan kepada orang tersebut terkait dengan apa yang sudah kita lakukan.

Mari kita berlanjut kepada dua jenis dosa kepada sesama manusia. Yang ketiga dari keempat jenis dosa adalah dosa non-materi kepada sesama manusia. Dosa ini berhubungan dengan hal-hal yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam hubungan interpersonal manusia terkait dengan sikap, pembicaraan, ataupun yang lainnya. Contoh nyatanya adalah salah satu dari kita pernah membicarakan kejelekan orang lain, atau menghina orang lain, dan lain-lain.

Sedangkan dosa materi kepada sesama manusia jelas berhubungan dengan dosa yang menyangkut materi kebendaan, misalkan seseorang mencuri mangga tetangganya atau masalah hutang piutang yang tidak dibayarkan, dan lain-lain.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penyelesaian dosa kepada sesama manusia adalah mendatangi manusia tersebut untuk meminta kehalalan atas apa yang telah kita perbuat. Jika kita pernah mencuri mangga, ya katakanlah bahwa kita pernah mencuri mangga dan meminta keikhlasan si empunya mangga agar merelakan mangga yang telah kita curi. Begitu juga dengan dosa yang lainnya.

Nah, dosa kepada sesama manusia inilah yang menjadi landasan pentingnya saling bersilaturahmi terlebih dengan datangnya hari raya idul fitri. Setelah satu bulan kita menjalankan ibada puasa di bulan Ramadhan, kita diampuni dosa-dosa kita terhadap Allah, maka ketika hari raya idul fitri giliran kita untuk meminta maaf kepada sesama manusia terhadap dosa-dosa kita yang bersifat hablumminannas.

Menurut pak Kyai, ramadhan dapat diartikan sebagai remedan (Bahasa Jawa) yang artinya perasan. Maksudnya adalah dosa-dosa kita diperas dari tubuh kita sehingga setelah kita berpuasa, kita menjadi manusia yang bersih dari dosa. Tentu hal ini berlaku bagi siapa saja yang menjalankan puasa dengan benar, bukan asal-asalan atau bahkan tidak berpuasa. Pak kyai juga menambahkan bahwa umat Islam di Indonesia yang melaksanakan sholat hanya sekitar 30% saja, sedangkan yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan hanya sekitar 25% saja. Dari penuturan ini nampaknya masih banyak diantara kita yang belum sadar arti pentingnya puasa dan juga sholat. Pantas saja Indonesia masih belum terlepas dari persoalan moral yang semakin memburuk saja. Penilaian yang terakhir ini adalah penilaian pribadi saya, dan bukan perkataan pak Kyai.

Pak Kyai juga menyinggung masalah bakti anak terhadap orang tua. Kata beliau, jika kita tidak berbakti kepada orang tua, maka tunggulah anak cucu kita akan lebih tidak berbakti kepada kita. Hal ini juga sama dengan apa yang sudah diajarkan kepada saya ketika kecil dulu di Madrasah Diniyah, mungkin juga bagi para pembaca yang budiman. Namun yang perlu kita lakukan adalah introspeksi diri kita sendiri. sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua kita ?

Banyaknya anak jaman sekarang yang semakin sulit untuk diatur itu tidak terlepas dari sikap orang tua sebagai suri tauladan terdekat bagi anak. Maka jangan langsung menyalahkan anak ketika anak itu bersikap nakal, karena orang tua juga ikut andil besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, tidak heran jika anaknya suka mabok-mabokan karena orang tuanya pun suka sekali mabok-mabokan. Anaknya sering berlaku kasar, orang tuanya pun sudah mengajari kekasaran sejak dulu.

Peran istri juga menentukan sikap baik anak. Kata Pak Kyai, istri yang menurut dan tidak suka memarahi suaminya akan mencetak anak yang sholeh dan sholehah. Tetapi jika istrinya suka memarahi suaminya, susah diatur, maka anaknya pun menjadi anak yang susah diatur.

Pak kyai juga menambahkan tentang pentingnya bersedekah. Kata beliau – yang mengutip hadits Rasul – , “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah”. Hadits tersebut masih ada kelanjutannya, tetapi saya sendiri sudah terlanjur lupa dengan kelanjutannya. Jika tidak salah mengingat, “Panjangkanlah umurmu dengan berbuat baik.” Tetapi yang ditandaskan oleh pak Kyai adalah pentingnya bersedekah. Kata beliau, jika orang senang bersedekah, insya Allah ia akan jauh dari penyakit. Jika memang ditimpa penyakit pun cukup dibawa ke Puskesmas langsung sembuh.

Ada satu cerita menarik tentang sedekah yang diceritakan oleh pak Kyai. Katanya ada nenek yang bernama Mbah Sireng di lingkungan rumahnya. Nenek itu menderita penyakit yang sudah diobati kemana-mana belum sembuh juga dan menghabiskan uang dua puluh juta. Akhirnya Mbah Sireng putus asa, dan uangnya yang sisa dua juta mau ia alokasikan untuk persiapan mati saja. Pada suatu hari masjid tempat asuhan pak Kyai mau dibangun pagar dan mbah sireng menyodaqohkan uangnya lima ratus ribu rupiah. Oleh pak Kyai hanya diberi amalan fatihah. Alhamdulillah tanpa diduga penyakit yang selama ini menimpa Mbah Sireng sembuh. Ini semua berkat pertolongan Allah melalui sedekah yang telah Mbah Sireng lakukan. “Tau gini saya sedekah dari dulu dengan uang yang lebih banyak agar penyakit saya cepat sembuh.” Pungkas pak Kyai yang menirukan Mbah Sireng setelah penyakitnya sembuh.

Masih banyak pesan-pesan penting dari pak Kyai yang disampaikan dalama majelis itu termasuk cerita bahwa di Arab Saudi juga sama saja dengan di Indonesia. Tidak semua umat Islam menjalankan perintah agama dengan benar. Ada juga orang yang jarang-jarang sholat di Arab sana. Dan masih banyak cerita menarik lainnya namun tidak mampu saya tuliskan semuanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai silaturahmi sebagai hal yang tidak boleh terputus, terutama terhadap keluarga sendiri.

Acara silaturahmi keluarga ditutup doa dari pak Kyai dan dilanjutkan dengan bersalam-salaman kepada setiap orang untuk saling bermaaf-maafan dengan diiringi sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Begitu sedikit cerita tentang silaturahmi keluarga saya. Saya yakin masing-masing dari teman-teman pembaca tulisan ini memiliki cerita yang lebih menarik tentang silaturahmi bersama keluarganya. Saya hanya bermaksud untuk berbagi saja. Jika bermanfaat, Alhamdulillah. Jika mengganggu pandangan anda, saya memohon maaf atas ketidaknyamanan itu. Jika ada kata yang harus dibenarkan, maka saya mengharap pembenaran dari teman-teman pembaca yang budiman. Terima kasih.

Cilacap, 4 Syawal 1433 H / 22 Agustus 2012 M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s