Menjaga lisan bukan hanya sekedar bualan tentang kebaikan akhlak, tetapi juga menjelma menjadi sebuah bentuk puasa bagi lisan untuk menahan agar tak menjadi tumpah ruah. Moment Ramadhan ini sebaiknya bukan hanya digunakan untuk menjaga perut dari berbagai macam makanan dan minuman mulai dari shubuh hingga maghrib, tetapi juga semua badan kita ditahan agar tak berlebihan.

Bahasa yang mudah untuk mengartikan puasa menurut saya adalah menahan diri. Puasa ini meliputi macam-macam. Bukan hanya perut saja, tetapi juga kebiasaan kita, tingkah laku kita, akhlak kita dan apapun yang berhubungan dengan kita. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan posisi di bawah biasanya kita berada. Misalnya kita biasa makan tiga kali sehari. Ketika berpuasa, kita hanya makan dua kali sehari, atau bahkan satu kali sehari. Hal ini mengandung arti bahwa kita sedang belajar untuk menstabilkan diri kita sendiri agar tak selalu berlebihan dalam mengonsumsi makanan. Dengan berpuasa kita menjadi tahu bagaimana rasanya makan hanya dua kali sehari agar kita mampu bersyukur terhadap nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.

Lisan bisa setajam pedang. Ia mampu membunuh bahkan lebih kejam daripada tusukan pedang. Tentu itu ungkapan yang saya ciptakan sendiri dengan sedikit penambahan yang berlebihan. Nabi pun menganjurkan kita agar menjaga lisan. “Lebih baik diam jika tidak mampu berbicara baik.” Begitu kurang lebih  pesan beliau, Sang Penyampai Agama Allah.

Dalam praktik menjaga lisan – sekali lagi saya katakan – membutuhkan perjuangan. Sering saya mengatakan bahwa untuk diam pun membutuhkan perjuangan, apalagi mendengarkan dengan kesungguhan hati. Ungkapan tadi sebenarnya berangkat dari anjuran agar kita selalu menjaga lisan karena saya melihat setiap hari banyak sekali perkataan yang sebenarnya tidak perlu diungkapkan namun menjadi kebiasaan sehari-hari. Gosip, membicarakan kejelekan orang lain, hingga ngerumpi ke sana ke mari menjadi beberapa contohnya.

Walau begitu, ada juga yang ngeyel dengan mengatakan, “Mulut, mulut gue! Apa urusan loe ?” Memang benar apa yang sudah dikatakan, tetapi apakah kita tidak ingat bahwa kebebasan kita juga dibatasi oleh kebebasan orang lain. Silahkan anda berbicara semau anda sendiri. Silahkan anda menggunjing sesuka hati anda sendiri. Tapi jika anda merasa ditinggalkan oleh orang disekitar anda, saya tak bertanggung jawab. “Hidup, hidup saya! Mengapa saya harus bertanggung jawab atasmu?”

Mengeluh juga merupakan salah satu bentuk “kejebolan” menjaga lisan. Setidaknya itu menurut saya. Banyak orang yang mengeluh tentang keadaan dirinya dan merasa dirinya lah yang paling menyedihkan di dunia ini. Tetapi pada kenyataannya masih banyak orang di bawahnya yang sedikit pun tak pernah mengeluh dengan keadaannya, atau bahkan banyak diantara mereka yang lebih mensyukuri apa yang sudah ada. Tidak memungkiri memang ada diantara kita yang hanya berniat bercanda dengan mengungkapkan apa yang menjadi keluh kesahnya. Saya tidak melarang itu, tapi perlu diingat bahwa semua itu ada tempatnya. Tak boleh kita sembarangan bercanda jika kita sedang dituntut untuk memasang “wajah” yang serius.

Akhirnya, saya bukanlah siapa-siapa dalam hidup anda. Saya bukanlah sang penasihat. Saya bukanlah sang kebenaran. Apa yang sudah saya tuliskan, boleh anda tak memercayainya karena memang itulah hak anda. Jangan memercayai saya. Percaya saja Allah dan Rasul-Nya, niscaya engkau akan selamat dunia akhirat. Insya Allah.

Bandung, 29 Juli 2012

Advertisements

4 thoughts on “Puasa Lisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s