Rasanya baru kali pertama saya merasakan awal bulan Ramadhan di kota perantauan. Biasanya ketika sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI sedang berlangsung, saya dan keluarga berkumpul di rumah untuk menantikan keputusan kapan dimulainya awal bulan suci yang penuh berkah ini. Kami berkumpul di depan TV untuk menyaksikan langsung “adu pendapat” dari masing-masing ormas Islam yang hadir. Hingga ketika keputusan telah dibuat, maka akan ditentukan pula apakah malam itu juga dilangsungkan sholat tarawih berjamaah atau esok harinya.

Tak bisa dipungkiri bahwa saya hidup dan dibesarkan dalam iklim Islam tradisional. Lingkungan rumah adalah lingkungan pondok pesantren yang sarat dengan tradisi dan juga budaya. Banyak kesenian budaya yang mewarnai perjalanan Islam di tempat saya. Maka jangan heran jika anda melihat banyak ber-seliweran bapak-bapak atau remaja-remaja yang tetap memakai sarung walau dia sedang menaiki motor.

Tanpa menganggap budaya kampung saya paling unggul, saya merasakan sendiri bagaimana sepinya awal bulan ramadhan atau ketika bulan ramadhan di kota ini. ada sebuah tradisi yang tidak saya temukan ketika bulan ramadhan tiba. Biasanya di kampung saya ketika sore sebelum dilangsungkannya sholat tarawih berjamaah pertama kali di bulan ramadhan, para remaja dan anak-anak kecil berbondong-bondong mendatangi masjid tempat kami biasa berjamaah untuk tidur – membunyikan bedug yang ada di masjid secara terus menerus hingga menjelang maghrib. Mungkin di beberapa perkampungan di Indonesia juga memiliki tradisi serupa dengan kampung saya dan mungkin dengan sebutan atau bahasa yang berbeda.

Di kota ini, saya tak menemukan para remaja tidur di masjid. Bahkan bedug sendiripun sangat jarang saya temukan. Bid’ah ataupun apa, saya tak tahu apa alasannya. Yang jelas pergantian bulan Sya’ban ke bulan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa ada sebuah peringatan yang mengingatkan kepada khalayak bahwa bulan yang penuh berkah telah tiba.

Imsak sebagai pertanda bahwa sebentar lagi waktu berpuasa (shubuh) akan tiba pun berlalu begitu saja. Tak ada seni yang mengiringi. Hanya ada suara sirine – entah darimana – yang berbunyi ketika waktu imsak telah tiba. Padahal di kampung saya, ketika imsak tiba selalu ada salah satu remaja atau santri pondok pesantren yang mengumandangkan syair-syair di masjid melalui pengeras suara pertanda imsak telah tiba dengan lagu yang mendayu-dayu. “Imsak… Imsak… Hadza Imsakkukum………… dst.” Semua orang yang mendengarnya segera menyudahi makan sahurnya dan diganti dengan tubuh yang siap untuk menahan diri dalam puasa sehari penuh. Bagi sebagian orang mungkin sepele, tetapi saya menilai bahwa dengan cara begitulah orang akan menikmati puasanya dengan penuh semangat dan kesyahduan karena Allah.

Jika boleh menduga-duga, sepertinya orang-orang di kota ini sudah lebih terlatih daripada orang-orang di kampung saya tentang batasan kapan ia harus menyudahi makannya dan kapan dia masih boleh makan. Atau alasan lain yang cukup rasional – menurut saya – adalah para ta’mir masjid di kota ini sudah menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki pengingat diri sendiri sehingga mereka – para ta’mir masjid – tak mau mengganggu ranah pribadi seseorang sebagai hamba Allah. Atau alasan klasik yang sebenarnya tak selesai-selesai adalah bid’ah – sesuatu hal yang tak ada pada jaman Nabi. Sehingga lebih baik bedug diganti dengan pengeras suara saja yang menurut sebagian orang tidak bid’ah (sesuatu hal yang tak ada pada jaman Nabi) dan syair-syair pengingat waktu imsak dibiarkan memuai dalam sela-sela sanubari saya – orang kampung.

Saya ingin mengatakan bahwa tidak semua masjid di kota ini tidak seperti yang saya tuliskan di atas. Tetap ada saja masjid yang melestarikan tradisi itu untuk menambah semaraknya bulan Ramadhan walau tidak jarang juga masjid itu tenggelam di balik bayang-bayang gemerlapnya kehidupan perkotaan yang glamor itu.

Ramadhan, engkau begitu sepi dengan seni.

 

Bandung, 24 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s