Menurut Cak Nun, ada tiga tingkat kepentingan yang biasanya dibebankan oleh manusia atas kegiatan puasa. Pertama, kepentingan duniawi. Kedua, kepentingan ukhrawi. Dan ketiga, kepentingan ilahiyah murni.

Kepentingan yang pertama adalah memosisikan puasa sebagai metode, cara, atau persyaratan untuk memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi.

Kepentingan yang kedua yakni kepentingan ukhrawi. Engkau berpuasa tidak demi kejayaan duniawimu, tidak demi kemapanan ekonomimu, tidak demi sepak terjang politikmu, tetapi demi mendapatkan tempat yang mulia di surga, demi mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya.

Kepentingan yang ketiga yakni kepentingan ilahiyah murni. Sedemikian percayanya engkau kepada Allah, sehingga engkau pasrah sepasrah-pasrahnya. Engkau membebaskan diri dari segala cita-cita dan kerinduan kepada dunia maupun surga. Engkau tiba pada suatu tingkat kesadaran bahwa engkau menjumpai dirimu, bahwa duniamu dan akhiratmu tidaklah penting – sebab yang sungguh-sungguh penting hanyalah Allah SWT.

Di tingkat ini termuat makna Al-Ikhlas. Katakan bahwa Allah itu satu… bahwa Allah itu satu-satunya dan sekaligus segala-galanya, yang dihadapan-Nya engkau lebur dan lenyap. Dan itulah yang dimaksud dengan tauhid penyatuan diri dengan-Nya, peleburan, pelarutan, dan peniadaan diri, sehingga yang ada hanya Allah. Engkau, dirimu itu, tidak penting, kejayaanmu tidak penting, apalagi sekedar pangkat dan hartamu di dunia – karena hanya Allah satu-satunya yang penting bagimu.

 

Bahan bacaan:

Nadjib, E. A. (2012). Tuhan Pun “Berpuasa”. Jakarta: Kompas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s