Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sejenak aku luangkan waktu untuk sekedar bercerita apa yang kurasa. tak banyak memang yang bisa aku bagi, hanya beberapa retorika tak bertuan yang kucoba untuk aku rangkai menjadi sebuah hikmah bagiku dan juga engkau serta mereka.

Beberapa hari ini aku sedang merenungi hadist nabi yang pada intinya mengajak kita untuk berhati-hati menahan lisan. jika memang tak bisa kita berbicara baik, maka diamlah.

aku mencoba meresapi makna hadits itu. awalnya berasal dari pengajian yang diadakan setiap hari Sabtu oleh KMNU UPI yang sedang membahas kitab Syubul Iman dimana ada berpuluh-puluh cabang iman. salah satunya yang sudah aku ungkapkan tadi, menjaga lisan.

ketika aku renungi, banyak sekali lisanku yang keluar tanpa nilai yang bermanfaat. teori pun tak dapat dipungkiri banyak dicampuri berbagai macam hawa nafsu serta ego pribadi. banyak mengambil teori yang sesuai dengan kenikmatanku, sedangkan yang sulit tak dipakai.

mungkin ada diantara kita yang merasa masih seperti itu, tak terkecuali aku.

ah, lisan. mengapa engkau sulit untuk kukendalikan.

terkadang tanpa kita sadari apa yang sudah kita ucapkan menyakiti hati orang lain. pada saat itulah kita baru menyadari bahwa berpikir sebelum berbicara itu penting.

namun sebuah tantangan ketika kita berusaha untuk diam di tengah kerumunan kawan dengan tujuan untuk menjaga lisan, tetapi ditanggapi berbeda oleh kawan disekitar kita. tak pelak mereka menyangka kita sedang ditimpa musibah ataupun sedang mengalami sebuah masalah yang besar.

bisa saja kita ungkapkan apa yang sebenarnya menjadi niat kita untuk diam, tapi masalahnya apakah mereka mengerti apa yang menjadi pemikiran kita mengingat setiap individu memang unik. belum lagi bagi para sahabat yang tak ingin orang lain mengetahui kebaikannya diketahui orang lain karena takut jika ia mengejawantahkan apa yang menjadi niatnya malah akan dikira sombong atau pamer.

perlu sebuah kebijaksanaan dalam penempatan situasi agar orang lain memahami apa yang kita pikirkan. tetapi penempatan situasi yang bagaimana itu menjadi sebuah pertanyaan baru karena tidak semua orang bisa menempatkan dirinya langsung sesuai dengan apa yang orang lain kehendaki. perlu proses dan belajar. belum lagi jika sesuatu yang orang lain kehendaki tidak sesuai dengan norma ataupun nilai yang kita anut yang menurut kita itulah nilai yang benar.

belum lagi jika kita kaitkan dengan budaya masing-masing individu dimana mencakup suku, adat-istiadat dan juga keluarga.

akhirnya memang sampailah kita kepada kesimpulan bahwa individu memang unik, tak ada yang sama. begitu juga dengan keyakinan dan juga pemikiran. tak ada yang sama.

bagaimanapun juga, bhineka tunggal ika agar selalu kita junjung demi menjaga kesatuan dan kebersamaan.

bukankah perbedaan adalah rahmat ?

mari saling belajar memahami dan mengerti apa yang menjadi keyakinan dan pendirian orang lain.

“Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah bertutur kata baik atau diam. barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah memuliakan tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Seorang dari kalian tidak disebut beriman, sehingga mencintai saudaranya melebihi citanya pada diri sendiri.” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

wallahul muwafiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Advertisements

2 thoughts on “Perenungan di waktu Dhuha

  1. “akhirnya memang sampailah kita kepada kesimpulan bahwa individu memang unik, tak ada yang sama. begitu juga dengan keyakinan dan juga pemikiran. tak ada yang sama”

    semua tak sama tak pernah sama..

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s