Engkau megeelu-elukanku. Engkau menyanjungku atas apa yang telah aku perbuat. Engkau memuji apa yang terdapat di dalam diriku. Aku berwarna coklat. Persis seperti apa yang ada di dalam tubuhku. Hampir semua orang menyukai apa yang ada di balik tubuhku. Perkenalkan. Akulah “Sang Plastik Es-krim”.

Tempatku selalu dingin dan sejuk. Aku sangat nyaman tinggal di tempatku itu. Berhari-hari sampai berminggu-minggu, aku tinggal di sana. menunggu manusia mengambilku dan memakan es-krim yang aku bungkus.

Aku terbuat dari plastik, oleh karena itu hampir tidak ada orang yang mau memakanku. Mereka hanya memakan es-krim lezat di balik tubuhku. Tapi tidak apa, memang begitulah fungsiku. Membungkus sesuatu yang mendatangkan kenikmatan bagi manusia yang menyukainya.

Aku senang dengan kodratku sebagai sebuah plastik. Aku bisa bermanfaat untuk melindungi es-krim agar tetap segar dan enak. Bentukku juga menarik, sehingga manusia terkadang terkecoh dengan penampilanku, tetapi sebenarnya es-krim yang aku bungkus rasanya sama saja dengan es-krim yang lain. Ah, aku jadi ingin tertawa. Teringat sebuah adagium barat, “Don’t judge a book by its cover.” Tetapi sayangnya banyak manusia yang tetap saja terkecoh dengan penampilan luar.

Aku jadi teringat juga salah satu temanku pernah berkata bahwa di kehidupannya, manusia juga masih menyimpan nilai-nilai itu. Menilai manusia lain hanya dari tampilan luarnya saja. Orang yang memakai jas, orang yang cantik fisiknya, orang yang mempunyai harta banyak, itu semuanya yang dihormati oleh manusia. Tetapi orang yang pakaiannya lusuh, orang yang tinggal di emperan toko, orang yang berdagang di pasar, hanya ditempatkan dalam barisan manusia yang perlu dikasihani, tetapi tidak dihormati.

Aku sendiri belum mengetahui benar mengenai apa yang temanku katakan, karena aku belum melihatnya secara langsung. Tetapi beberapa hari yang lalu, temanku mengatakan bahwa manusia itu selain hanya menilai tampilan luar manusia lain, ia juga suka bertindak semena-mena terhadap lingkungan, baik itu terhadap manusia lain, maupun alam.

Mendengar hal itu, aku merasa heran seakan tak percaya. Yang aku tahu, Tuhan telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, berarti manusia juga berkewajiban menjaga alamnya agar tetap bersih. Tidak mungkin manusia berlaku semena-mena terhadap alam. Kalau memang itu benar, di bagian mana yang salah? Manusianya? Atau Tuhan yang salah? Untuk hipotesisku yang terakhir cepat-cepat aku tepis karena aku tahu Tuhan tak pernah salah. Dialah Yang Maha Benar.

**

Berhari-hari aku terus memikirkan fenomena itu. Ingin rasanya aku melihat dunia luar agar dapat merasakan langsung bagaimana kehidupan manusia yang sebenarnya. Hingga tak lama setelah aku memikirkan hal itu, ternyata ada manusia yang mengambilku dari lemari penyimpanan es-krim di salah satu mini market. Yes, akhirnya aku ada yang mengambil. Itu berarti tugasku sebentar lagi selesai hingga aku dapat menghadap Tuhan lebih cepat.

Manusia itu berjenis kelamin perempuan. Aku tahu tentang jenis kelamin manusia dari temanku yang banyak menceritakan tentang kehidupan manusia.

Ia cantik. Rambutnya panjang terurai. Bibirnya tipis. Kulitnya putih. Matanya indah seakan memancarkan cahaya keteduhan. Ah, betapa cantiknya ciptaan-Mu Tuhan.

Ia membuka tubuhku untuk dapat meraih es-krim yang masih membeku. Ia menikmati es-krim itu dengan tetap mempertahankan keberadaanku sebagai pembungkusnya agar tidak cepat meleleh. Aku senang sekali karena dengan adanya aku, ada makhluk lain yang merasa diuntungkan.

Ia masih menikmati es-krim rasa coklat dengan terus berjalan bersama teman laki-lakinya yang sedari tadi membicarakan berbagai hal tentang hidup manusia. Aku sendiri terus mencoba menerka-nerka apa yang mereka bicarakan, tetapi mungkin karena aku dan manusia berbeda jenis sehingga aku tak sanggup memahami apa yang mereka katakan.

Aku menikmati proses itu. Melihat muda-mudi bercanda tawa dengan diselimuti kasih sayang antar sesamanya, oh indahnya.

“Andai aku bisa menjadi manusia.” pikirku.

Belum selesai aku menikmati keindahan itu, tiba-tiba aku merasa diriku teremas dan terjatuh di tengah jalan.

“Ada apa ini?” tanyaku dalam hati.

Apakah aku benar-benar terjatuh atau perempuan itu yang menjatuhkanku di tengah jalan seperti ini? Ah, mengapa tadi aku harus melamun yang tak pasti?

Aku mencoba pasrah karena tidak banyak yang bisa aku lakukan di tengah jalan seperti ini selain menunggu angin yang akan membawaku terbang atau menunggu kendaraan yang akan melindasku. Tapi aku masih menyimpan pertanyaan, mengapa aku bisa terjatuh? Apa perempuan itu tak berusaha untuk terus memegangku?

**

Aku menunggu dan terus menunggu kepastian. Terombang-ambing aku di tengah jalan itu. Lindasan mobil dan juga motor sedikit membuat tubuhku kembali luas. Aku menjadi bisa melihat keadaan sekitar tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Tak berapa lama, aku melihat temanku yang dulu menemaniku di lemari penyimpanan es-krim. Ia sedang berada di tangan seorang laki-laki paruh baya. Aku hanya dapat melihatnya karena aku tak bisa memanggilnya keras.

Aku lihat ia sangat senang seperti apa yang aku rasakan beberapa waktu lalu. Aku perhatikan terus ia, hingga ia mendekat ke tempatku berada. Ia memang mendekat ke arahku, tetapi kami tak bisa saling bertemu karena jarak di antara kita tak bisa aku raih. Lagi-lagi aku hanya melihat dari balik kediamanku.

Hingga tiba-tiba aku tak menyangka dengan apa yang aku lihat. Temanku yang sedari tadi menikmati kebermanfaatannya untuk manusia tiba-tiba ia diremas sekuat tenaga oleh laki-laki paruh baya itu dan menjatuhkannnya di tengah jalan.

“Oh, tidak! ada apa ini? Mengapa lelaki itu menjatuhkan temanku di tengah jalan sama sepertiku? Apakah itu juga yang dilakukan perempuan itu terhadapku beberapa waktu lalu?” pikirku yang keheranan.

Kami masih belum dapat bertemu karena jarak yang memisahkan sampai pada sore hari ketika jalanan sudah mulai sepi, ada seorang laki-laki yang memungutku di tengah jalan dan menyatukan aku dengan temanku itu. Ah, senangnya.

Laki-laki itu adalah pemilik rumah dekat jalanan tempatku berada. Mungkin karena tidak mau halaman rumahnya terlihat kotor sehingga ia mau memungutku.

Aku saling bertegur sapa dengan temanku itu dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa ia dan aku tidak di buang di tempat semestinya kita berada, yaitu tempat sampah?

“Ya begitulah manusia. Tak pernah memperhatikan lingkungannya. Ia terlalu sering membuang kita sembarangan. Aku yakin kamu juga mempunyai nasib yang sama denganku.” ketusnya.

Aku masih belum mengetahui benar apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh temanku itu.

Masih dalam proses pemikiranku, tiba-tiba kami dilemparkan oleh laki-laki pemilik rumah itu ke selokan hitam depan rumah.

“Apa-apaan ini?” gerutuku.

Kan sudah aku bilang, manusia itu tak pernah memikirkan kita. Mereka membuang kita sembarangan.” temanku menanggapi gerutuanku.

Kini aku sudah mengerti apa yang sedari tadi bahkan sedari dulu teman-temanku katakan kepadaku tentang manusia. Awalnya aku berpikir bahwa manusia itu makhluk yang sangat baik, tetapi ternyata manusia itu bisa juga menjadi sangat buruk. Bahkan melebihi setan! Ah, aku tak habis pikir mengapa manusia bisa menjadi sangat jahat.

“Tuhan, apa yang harus aku perbuat sekarang?” tanyaku untuk Tuhan seketika itu.

**

Aku masih di dalam selokan mengikuti aliran air yang hitam pekat. Tak berapa lama aku berada di sungai yang juga tak kalah pekatnya. Memang tak hitam warnanya, tetapi warnanya cokelat gelap. Namun di dalamnya bukan ikan warna-warni yang aku lihat, melainkan beberapa teman-teman sampahku yang memadati dasar-dasar sungai.

Keadaan di dalam sungai sangat kotor dan saling berdesak-desakan hingga aku merasa putus asa dengan apa yang harus aku perbuat. Apakah aku dan teman-temanku akan membalas para manusia biadab itu? Ataukah aku tetap menghormati mereka? Tetapi jika aku membalas dendam kepada manusia, aku takut Tuhan murka kepadaku. Ah, aku tak tahu harus seperti apa.

Di tengah keadaan tak mengenakkan itu, Tuhan ternyata menjawab pertanyaanku.

“Bekerjasamalah engkau dengan teman-teman sampahmu untuk menyumbat saluran-saluran air di sungai itu. Nanti malam aku turunkan hujan yang airnya akan memenuhi sungai hingga ia meluap-luap membanjiri pemukiman rumah manusia. Engkau akan berada bersama air banjir itu dan bisa melihat bagaimana manusia menampilkan wajah kesedihan akibat ulah yang mereka sebabkan sendiri. Engkau tak perlu takut, karena Aku sudah murka dengan manusia yang berbuat semena-mena itu.”

**

Aku menyusun strategi untuk melaksanakan perintah Tuhan itu. Semua saluran air di sungai itu ditutup oleh teman-teman sampahku, mulai dari plastik, kayu, perabot rumah tangga, sampai dedaunan. Kami berbondong-bondong untuk melaksanakan perintah Tuhan.

Benar saja, malam harinya hujan turun sangat lebat. Ia seakan menerjang bumi dengan sekuat tenaga yang mereka miliki. Seakan mereka ingin mengatakan kepada manusia.

“Lihatlah wahai manusia! Kami (hujan/air) bisa menjadi sangat ganas untuk menyengsarakanmu! Kami ini bukan jebakan! Kami ini bukan kesialan seperti kebanyakan manusia menyebutnya. Tetapi kami adalah anugerah yang seharusnya engkau syukuri! Kami rahmat dari Tuhan kami, dan Tuhanmu juga! Mengapa engkau selama ini tak pernah bersyukur akan kehadiran kami? Maka rasakanlah murka Tuhanmu ini!”

Air mulai memadati tempat-tempat penampungan. Ia berlarian tak terkendali kesana kemari hingga tak perlu menunggu lama banjirpun bisa menguasai pemukiman rumah manusia di tengah malam saat kebanyakan dari mereka tertidur lelap. Aku tak ketinggalan menikmati suasana ini. Banjir membawaku mengelilingi kota, desa, hingga kampung-kampung perkotaan untuk melihat ekspresi keresahan manusia setelah ia merasakan sendiri akibat dari apa yang telah ia perbuat.

Banyak yang menjadi korban dalam banjir itu karena air menghanyutkan manusia yang sedang tertidur pulas hingga ia tertidur untuk selamanya. Bangunan yang kokohpun rusak. Kendaraan, harta, dan segala yang berbau dunia hanyut terbawa banjir. Bergabung menjadi sebuah pemandangan dimana murka Tuhan itu berada.

Aku tak pernah berhenti untuk terus berdzikir kepada Tuhan bahwa Dialah Yang Maha Mengatur segalanya. Kebesarannya meliputi segala sesuatu di alam semesta ini. Dialah Dzat Yang Maha Besar. Dialah Pemilik Alam Semesta ini.

Tuhan, Aku berlindung kepada-Mu agar Engkau selalu membimbingku untuk terus berada di jalan-Mu.

Bandung, 12 Mei 2012

Advertisements

2 thoughts on “Engkaukah itu, Manusia!

  1. mungkin inilah salah satu kondisi kenapa begitubanyaknya sampah berserakan di sekliling kita, bila setiap sampah bisa bicara, maka banyak tempat yg terbebas darinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s