Mahasiswa, suatu predikat yang mentereng dalam retorika kehidupan bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Merekalah yang telah menumbangkan rezim Orde Baru yang terlah berkuasa selama 32 tahun untuk digantikan dengan masa reformasi. Suatu pencapaian luar biasa dalam sejarah kemahasiswaan. Tak heran jika kemudian ada suatu ungkapan, “Mahasiswa takut dengan dosen, dosen takut dengan dekan, dekan takut dengan rektor, rektor takut dengan menteri, menteri takut dengan presiden, dan presiden takut dengan mahasiswa.” Entah benar atau tidak ungkapan itu, namun yang pasti – diakui atau tidak – peran mahasiswa bagi bangsa dan negara Indonesia sangat signifikan, baik pada masa sekarang maupun sebelum kemerdekaan, walaupun hanya sampai di depan pintu gerbang kemerdekaan seperti yang tertera pada pembukaan UUD 1945, “…..mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia….”

 

Berangkat dari hal di atas, maka tidak dapat dipungkiri bahwa masa depan Indonesia juga akan ditentukan oleh kualitas mahasiswanya yang nantinya akan menahkodai bangsa ini. Berbagai macam bidang yang dipelajari oleh mahasiswa, ada bidang pendidikan, politik, ekonomi, bisnis, olahraga, dan lain-lain sesuai dengan minatnya masing-masing. Dalam hal ini, penulis menilai bahwa mahasiswa dalam bidang pendidikan layak jika disebut sebagai mahasiswa yang seharusnya dicontoh. Predikat sebagai mahasiswa pendidikan tentunya bukan suatu hal yang sepele. Pendidikan – seperti kita ketahui – pada prinsipnya adalah memanusiakan manusia dengan cara manusiawi. Kurang lebih seperti itu jika merujuk pada pengertian pendidikan menurut sisi humanistik. Maka mahasiswa pendidikanlah yang seharusnya menjadi leading ataupun suri tauladan dalam hal budi pekerti mahasiswa di bidang lainnya.

 

Pentingnya pendidikan pada suatu bangsa terbukti ketika kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh tentara sekutu ketika perang dunia II. Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Kaisar Jepang waktu itu adalah, “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Paling tidak hal tersebut dapat dijadikan alasan mengapa saat ini Jepang sudah begitu maju pesat terutama dalam hal teknologi. Tentunya hal tersebut tidak lepas dari faktor pendidikannya.

 

Akan menjadi suatu ironi yang menyesakkan ketika mahasiswa pendidikan yang ada saat ini ternyata tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Mahasiswa pendidikan yang seharusnya menjadi contoh bagi mahasiswa yang lain ternyata belum mampu mengemban tugasnya dengan baik. Penulis mengamati fenomena tersebut pada salah satu fakultas yang berisikan tentang ilmu pendidikan di salah satu universitas yang berbasis pendidikan di Indonesia.

 

Ironis ketika melihat mahasiswa pendidikan ternyata tidak dapat membersihkan toilet yang telah dipakainya dengan bersih. Penulis tahu akan hal itu karena memang penulis terjun langsung melihat fenomena tersebut di lapangan. Belum lagi kebiasaan yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, membuang sampah sembarangan di dalam kelas. Mereka (red: mahasiswa pendidikan) begitu mudahnya membuang sisa makanan ataupun kertas yang telah dipakainya ke bawah kursi yang didudukinya. Belum lagi ketika membeli makanan yang basah, tidak jarang lantai di bawah kursinya pun ikut menjadi basah. Bahkan yang lebih ektrim lagi, mahasiswa tidak canggung ketika harus membuang sampahnya ke luar jendela. Padahal mereka sedang melangsungkan perkuliahan di tuangan lantai 3!

 

Suatu pemandangan yang dapat kita temui dalam kelas perkuliahan mahasiswa pendidikan di salah satu universitas berbasis pendidikan di Indonesia. Mungkin bagi mereka yang tidak bisa membersihkan toilet dengan benar, ataupun yang membuang sampah di dalam kelas akan mempunyai pemikiran yang tidak jauh berbeda seperti, “Ah… nanti juga ada OB yang membersihkan. Biarkan saja. Toh mereka juga dibayar sama kita.”

 

Kalau sudah begini, apakah pendidikan itu hanya menjadi semacam teori yang prakteknya di lapangan pun dipertanyakan? Bahkan di tempat menempuh ilmunya pun tidak terlaksana dengan baik. Sungguh generasi muda yang hanya berteori.

 

Cerita tentang uniknya mahasiswa pendidikan di Indonesia belum cukup sampai di situ. Sebuah musholla di dalam fakultas juga ikut menjadi korban. Sandal jepit yang beberapa minggu lalu masih tersedia lengkap di depan pintu musholla, kini ia pun lenyap entah kemana. Padahal sandal tersebut sedianya digunakan untuk menolong para jamaah agar kakinya tidak kotor setelah berwudhu, namun ternyata sekarang sandal itupun sudah mendapat predikat almarhum.

 

Tentu masih banyak kasus yang ingin penulis tuliskan dalam media ini, tetapi sepertinya beberapa kasus di atas sudah cukup mencerminkan gambaran kehidupan mahasiswa, terutama di bidang pendidikan yang notabene berfungsi sebagai sokoguru bangsa. Penulispun tidak tahu lagi apakah orasi Bung Karno beberapa puluh tahun silam masih bisa diwujudkan atau tidak ketika melihat kondisi mahasiswanya seperti ini. Orasi yang dimaksud adalah, “Berilah aku seribu orang tua, maka akan kucabut semeru, dan berilah aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”

 

-6 Maret 2012-

Advertisements

3 thoughts on “Gambaran Mahasiswa Pendidikan Indonesia

  1. keren mas catatannya 🙂

    “mahasiswa itu bukan hanya menjadi generasi penerus, tetapi juga menjadi generasi pelurus”

  2. pendidikan di indonesia itu sulit,
    kita dijejali oleh begitu banyak materi, meskipun di dunia nyata biasanya hanya 10 % saja yang dipergunakan
    sedangkan pendidikan yang berhubungan dengan karakter, dan bagaimana bersikap ini masih saja di abaikan, jangankan mahasiswa, tingkat yang lebih rendah pun seperti itu

    apalah gunanya ilmu bila akhlaq baik bukan labuhannya?

    nice post
    maybe you want to visit http://www.belajarbisnismandiri.blogspot.com
    nice to meet you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s