Mungkin ada sebagian dari kita yang menuliskan mimpi di kertas impiannya, atau selalu memanjatkan doa pada setiap selesai sholat dengan redaksi yang kurang lebih hampir sama. “Ya Allah, Semoga aku bisa lulus dengan predikat caumlaude.”

Sebuah impian yang sangat mulia tentunya. Banyak tujuan yang melatarbelakangi munculnya mimpi itu. Mulai dari untuk membahagiakan orang tua hingga bercita-cita agar mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Macam-macam tujuannya. Namun tentunya – tidak menampik kemungkinan – ada juga yang tidak menargetkan kelulusannya dengan predikat caumlaude. Lagi-lagi itu kembali kepada target setiap individu. Toh itu semua pilihan masing-masing mahasiswa.

Sejak awal masuk kuliah hingga sekarang – semester enam – banyak usaha dan doa yang dipanjatkan untuk mencapai impian itu. Mulai dari begadang, membeli buku, hingga harus rela mengurangi jatah makannya demi membayar biaya print dan juga fotokopi tugas. Semua itu tidak murah, bahkan bagi sebagian orang hal itu tergolong sangat mahal.

Perjuangan juga selalu menghiasi dalam meraih sebuah impian. Ada yang berangkat dari kampungnya dengan niatan yang tulus ingin mencari ilmu dan hanya dengan bekal doa dari orang tua ia sampai di jurusan yang diinginkannya. Ada juga yang sampai di terminal kota, malam-malam dengan kondisi hujan deras dan harus segera pergi dari terminal itu dengan alasan keamanan. Namun apa daya kondisi sudah malam, hingga harus memberanikan diri menaiki angkot sendirian agar sampai di terminal ujung selatan kota Bandung.

“Caumlaude”. Sebuah kata yang sangat didengungkannya setiap waktu, tentunya bagi orang yang memang memimpikan hal itu. Tetapi memang kenyataan tidak selalu hadir sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketika impian itu sudah terikat erat dalam bayang-bayang prestasi masing-masing individu, kemudian terbentur dengan adanya birokrasi yang menyulitkan bagi mahasiswa.

Usaha dan doa sudah dilakukan dengan seoptimal mungkin, tetapi tetap saja nilai beberapa kuliah masih kosong tak terisi. Bukan tidak mengontrak, tetapi – seperti yang sudah diutarakan – lebih karena birokrasi yang cukup merepotkan mahasiswa. Ketua Mahasiswa dan beberapa pihak yang terkait tak henti-hentinya mengusahakan hal ini namun jawaban yang diterima tetap saja belum bisa memuaskan dahaga kejelasan suatu perkara bagi sebagian orang. “Dosennya tidak ada waktu untuk mengajar karena sibuk di jurusannya sendiri.” begitu kurang lebih alasan yang bisa dibilang klasik.

Bagi mahasiswa yang memimpikan agar kelulusannya bisa mencapai predikat caumlaude tentu hal ini sangat menghambat – kalau tidak mau disebut tidak ada harapan lagi – dalam mewujudkan impiannya itu. Bagaimana tidak? Mata kuliah yang sudah dikontraknya bersama dengan teman-teman kelas yang lain tidak pernah ada dosen yang masuk ke kelas. Satu dua kali pertemuan mungkin wajar, tetapi bagaimana kalau kasusnya tidak pernah ada dosen selama enam semester? Bukankah salah satu syarat agar bisa caumlaude adalah tidak ada mata kuliah yang mengulang (jika aturan ini belum dirubah)? Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang sebenarnya sudah mengontrak tetapi kenyataannya hanya menanti dan terus menanti datangnya dosen yang mau mengajar para mahasiswa yang sebagian besar berasal dari luar kota Bandung?

Bukan saja bagi mereka yang memimpikan predikat caumlaude, tetapi bagi mereka yang tidak memikirkan pentingnya nilai juga mengganggu dalam melakukan aktivitasnya di luar kuliah. “Harusnya aku bisa gunakan waktu ini buat jadi trainer di SMA, tapi sudah berangkat kuliah masih tetap saja enggak ada dosen. Kampus macam apa ini?” begitu kira-kira keluhnya.

Enam semester bukanlah waktu yang sebentar. Tiga tahun sudah usaha dan doa itu belum juga menemui jawabannya. Mengadu kesana kemari bukannya tidak pernah dilakukan, tetapi pihak yang menerima aduannya sudah merasa bosan dengan kasus yang menimpa mereka. Mereka juga mengadukan hal ini ke pihak universitas tempatnya belajar, tetapi nampaknya pimpinan universitas belum mendengar – kalau tidak mau dibilang acuh tak acuh – keluh kesah mahasiswanya terkait birokrasi.

Dosen mereka sebagai orang nomor satu di universitas nampaknya belum cukup membantu dalam menyelesaikan kasus ini. Kalau ‘orang dalam’ saja tidak dapat membantu mereka, kepada siapa lagi mereka hendak mengadu? Akankah hal ini akan terus terjadi pada perguruan tinggi yang menargetkan beberapa tahun lagi menjadi “World Class University”?

Beberapa pertanyaan yang nampaknya perlu untuk segera direnungkan. Atau karena biaya SPP mereka murah hingga tak ada lagi yang mau peduli? Ataukah mereka itu mahasiswa yang tidak penting untuk menjadi bagian dari “Leading and Outstanding University”? Ataukah karena mereka tidak se-ilmiah, tidak se-edukatif, dan tidak se-religius yang dikehendaki universitas sebagai motto-nya yang termpampang di setiap fakultas? Lalu harus sampai kapan mereka menunggu kejelasan akan semua ini sedangkan orang tua mereka menghendaki agar segera pulang dengan membawa gelar sarjana?

Sungguh hal yang patut kita renungkan bersama dengan tetap terus berusaha dan berdoa untuk mencapai kejelasan akan hal itu.

Bandung, 19 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s