Masih dalam suasana lebaran, aku dan istriku sedang berada di kota kelahiranku. Tujuannya tentu bersilaturahmi dengan keluarga di kampungku dan juga tetangga sekitar.

Semenjak aku diterima sebagai dosen di luar kota, aku memang hidup di sana hingga aku berkeluarga dan menetap di kota tempatku mengajar. Pulang ke rumah orang tua hanya sesekali saja jika memang ada keperluan.

Lebaran hari ketiga, aku menyempatkan diri untuk mengajak istriku makan bersama di rumah makan favoritku ketika SMA dulu. Rumah makan itu tak banyak berubah, hanya bedanya sekarang di sampingnya terdapat kampus perguruan tinggi swasta yang baru berdiri.

Aku menanti dengan sabar pesananku sembari mengamati para mahasiswa yang sedang menyantap makanan di depannya. Di antara beberapa kelompok mahasiswa yang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, aku melihat ada sekelompok mahasiswi yang kesemuanya mengenakan busana muslim lengkap dengan jilbabnya. Mengamati sekelompok mahasiswi itu aku jadi teringat denga temanku yang sekarang aku pun tak tahu keberadaannya.

Namanya Lia. Dia temanku sejak kecil. Semenjak SD hingga kuliah S1, kami selalu berada dalam satu institusi. Aku tahu betul bagaimana sifatnya. Bahkan siapa saja mantan pacarnya, aku juga tahu.

Semenjak SD hingga SMP, dia dikenal sebagai perempuan yang tomboy. Perilakunya yang cenderung mirip laki-laki dan juga dandanannya yang terkesan sangar semakin menambah ke-tomboy-annya. Namun semenjak SMA, dia sudah mulai merubah penampilannya menjadi lebih ‘perempuan’. Ketika masa SMA, dia menjelma menjadi perempuan yang disegani banyak laki-laki. Bagaimana tidak? Wajahnya yang putih bersih, dan rambutnya yang hitam lurus semakin menambah pesona dirinya. Apalagi ia adalah mayoret utama team drumband SMA. Sederet prestasi juga bertengger mengharumkan namanya. Tak heran jika banyak laki-laki yang ingin menjadi ‘teman dekatnya’.

SMA usai, dan takdir membawanya kuliah di universitas yang sama denganku di luar kota. Kalau dipikir, lucu juga. Sejak SD hingga kuliah kami selalu bersama. Bahkan rumah kami pun satu desa walaupun berbeda dusun. Malah tidak jarang banyak teman-temanku yang bilang kalau aku dan Lia itu jodoh. Tak jarang pula yang menyarankan agar aku menjadi suaminya.

Walaupun kami satu universitas, tetapi jurusan kami berbeda. Aku kuliah di jurusan pendidikan, sedangkan ia lebih memilih di jurusan ekonomi. Semenjak kuliah, aku dan Lia sudah jarang sekali bertemu. Mungkin karena tugas kita masing-masing sebagai mahasiswa yang tidak bisa dibilang sedikit.

Beberapa bulan setelah ospek, aku bertemu dengannya di kantin fakultas ekonomi. Aku hampir tak mengenalinya. Lia yang sewaktu kecil sangat tomboy, ketika remaja ia sangat ayu, dan sekarang ia datang ke hadapanku dengan mengenakan busana muslim dengan jilbab yang sangat serasi dengan bentuk wajahnya.

Aku akui aku sangat senang melihat perubahan yang terjadi padanya. Ketika aku tanya siapa pacarnya sekarang, ia hanya menjawab tidak akan pacaran lagi. Aku semakin yakin bahwa ia sudah banyak berubah.

Di kampus, dia sangat aktif di berbagai organisasi terutama organisasi yang bernuansa Islam. Mungkin itu juga yang menyebabkan aku dan dia sudah jarang sekali bertemu karena aku juga bisa dibilang aktif di organisasi luar kampus, sedangkan Lia lebih aktif di organisasi dalam kampus.

Hingga beberapa bulan sebelum kelulusan kami, aku sempat melihat Lia sedang berdemo di depan kantor gubernur agar para koruptor dihukum mati saja. Tapi aku tidak berani menghampirinya karena waktu itu ia bertindak sebagai orator bagi teman-temannya yang lain. Semenjak itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Lia, baik di kampus ataupun di rumah. Bahkan ketika aku wisuda, aku pun tak melihat Lia di kampus. Aneh. Kemana ia pergi.

Setelah selesai makan siang dengan istriku, aku sempatkan untuk bersilaturahmi ke rumah Lia dengan harapan Lia ada di rumah. Ternyata dugaanku meleset, Lia tidak ada di rumah. Sudah sejak lama aku mencoba menghubungi Lia namun nomornya tidak aktif lagi. Aku bertanya pada ayahnya kemana Lia pergi. Tetapi, ayahnya malah bercerita tentang Lia kepadaku.

Semenjak kuliah, Lia banyak mengalami perubahan yang cukup drastis. Ketika awal masuk kuliah, perubahan itu belum tampak. Namun setelah beberapa bulan kuliah ia mulai mengenakan jilbab sebagai pakaian kesehariannya. Ayahnya tentu sangat senang akan hal ini. Namun setelah beberapa bulan kemudian ketika Lia pulang ke rumah, Ayahnya merasakan hal yang tidak biasa pada anaknya. Di dalam rumah, ia selalu mengenakan pakaian muslimnya lengkap dengan jilbabnya. Lia juga tidak lagi mau bersalaman dengan kedua orang tuanya ketika pulang ke rumah. Walau ayahnya merasakan hal yang tidak biasa, namun ia hanya menganggap itu sebagai proses kepada hal yang lebih baik.

Beberapa bulan setelahnya ketika ia pulang ke rumah, perbedaan itu semakin terasa. Lia membawa busana muslim yang mirip dengan busana yang dikenakannya untuk ia hadiahkan kepada ibunya. Tak pelak ibunya bertanya untuk apa, Lia hanya menjawab bahwa ibunya harus mengenakan busana tersebut. Karena menurut Islam, pakaian perempuan yang diperbolehkan itu yang sesuai dengan yang dikenakan Lia. Mulai dari jilbab yang lebar sampai dengan kaki yang dilapisi dengan kaos kaki.

“Lia, ibu ini sudah tua. Kesehariannya ngurusin padi di sawah. Masa harus pakai baju yang menutupi semua tubuh seperti ini?” Tanya ibunya.

“Ibu, wanita muslimah itu harus menutup auratnya. Wajib itu bu hukumnya!” Jawab Lia dengan sedikit meninggikan intonasi bicaranya.

Ibunya hanya diam menanggapi sikap anaknya itu. Ayahnya masih menganggap hal itu wajar dan lagi-lagi ayahnya hanya menduga bahwa itu adalah proses perkembangan dalam usianya.

Beberapa bulan setelah itu, Lia kembali pulang ke rumah untuk mengisi waktu libur kuliahnya. Kali ini ayahnya sudah yakin ada yang tidak beres dengan anaknya.

“Ayah, Ibu. Tidak usahlah ayah sama ibu membaca Yasin tiap malam Jum’at. Bahkan ber-tawasul untuk kakek dan nenek yang sudah meninggal. Itu tidak ada dalam Islam. Bid’ah itu. Kalau ayah sama ibu masih tetap seperti itu, bisa-bisa ayah sama ibu jadi orang yang kafir!” bentak Lia.

Ayah dan ibunya berusaha menguasai diri. Mereka hanya ber-istighfar melihat kelakuan anaknya yang sudah menyimpang jauh.

Esoknya, Ayahnya mencoba bertanya pada anaknya itu.

“Lia, kamu sebenarnya ikut ajaran apa di kampus sana? Ayah boleh tahu enggak? Mbok ya o ayahmu ini diajari.” tanya Ayahnya dengan hati-hati agar Lia tidak merasa diinterogasi.

Dijelaskanlah apa yang selama kuliah diyakini Lia. Bahwa Lia ikut aliran Islam tertentu. Bahwa Lia adalah manusia terpilih yang diijinkan Allah untuk berjihad di jalan-Nya. Bahwa Lia akan mengkafirkan setiap orang yang tidak sesuai dengan pandangannya dalam beragama.

Semua itu Lia jelaskan secara rinci kepada Ayahnya berserta dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits dan juga pendapat-pendapat para pemimpin alirannya itu.

Ayahnya tahu bahwa itu sudah tidak sesuai dengan apa yang diyakininya selama ini.

“Lia, ayah senang kamu bisa mendalami ilmu agama. Tapi itu sudah kelewatan nak. Masa begitu mudahnya mengkafir-kafirkan orang lain?” tanya Ayahnya dengan sangat hati-hati.

“Ayah yang kelewatan. Makanya jangan hanya dzikir dan sholawatan saja! Yang Lia ikuti ini yang benar. Ayah yang kafir!”

Hingga esok harinya Lia berpamitan kepada ayah dan ibunya untuk berangkat lagi. Namun kali ini agak sedikit berbeda redaksi.

“Ayah, Ibu. Lia mau berangkat berjihad dulu. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk berjihad dan berdakwah.”

Belum sempat Ayah dan Ibunya bertanya mengenai redaksi yang dipakai Lia untuk meminta ijin, Lia sudah pergi meninggalkan Ayah dan Ibunya. Tanpa salam, tanpa mencium tangan.

Semenjak itulah Lia tidak pernah pulang ke rumah lagi. Nomor handphone-nya sudah dicoba dihubungi tapi tidak pernah aktif. Bahkan orang tuanya pernah ke kos-kosannya untuk mengecek langsung, namun hasilnya nihil. Kos-kosannya dahulu sudah ditempati orang lain. menurut penuturan teman kos-kosannya, sebelum Lia pergi meninggalkan kos, Lia menjual semua barang-barang yang dimilikinya. Ketika ditanya untuk apa dijual, Lia hanya menjawab untuk bekal berjihad di jalan Allah.

Sampai sekarang Lia tidak pernah diketahui keberadaannya.

Ayahnya hanya bisa meneteskan air mata di depanku ketika mengenang anak satu-satunya itu. Kini, orang tuanya hanya bisa berdoa agar anaknya tersebut segera mendapat hidayah dengan serta merta tetap dalam lindungan Allah SWT. Aamiinn…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s