Kelompok Primer

Kelompok-kelompok yang ditandai dengan adanya interaksi antar anggota yang terjalin lebih intensif, lebih erat, dan lebih akrab. Kelompok primer ini sering disebut juga dengan kelompok “face to face”, karena para anggota kelompok sering berdialog dan bertatap muka karenanya mereka saling mengenal lebih dekat dan lebih akrab. Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok priomer bercorak kekeluargaaan dan lebih berdasarkan pada simpati.

Oleh Selo Soemardjan dan Soemardi kelompok primer dikemukakan sebagai kelompok-kelompok kecil yang agak langgeng atau permanen dan berdasarkan kenal-mengenal secara pribadi antara sesama anggotanya.

Pada kelompok primer pembagian kerja atau pembagian tugas tidak dilakukan secara terpaksa, karena lebih dititik beratkan atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Contoh dari kelompok primer antara lain: keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, dan lain sebagainya.

 

Kelompok Sekunder

Kelompok yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu didasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya tidak begitu langgeng. Pada kelompok sekunder ini, diantara kelompok, terdapat hubungan tak langsung, formal, dan kurang bersifat kekeluargaan. Diantara anggota kelompok yang satu dengan yang lainnya bahkan tidak saling mengenal, dan tidak akrab, sifatnyapun tidak permanen.

Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemapuan, dan kelihatan tertentu disamping dituntut adanya dedikasi. Adanya pembagian seperti ini diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah ditetapkan dalam program-program yang sudah disepakati bersama. Contoh dari kelompok sekunder adalah: partai politik, perhimpunan serikat kerja, organisasi profesi, dan sebagainya.

 

 

 

Kelompok Formal

Kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan di antara anggota-anggotanya.

Pada kelompok resmi (formal group ini) biasanya didukung adanya Anggaran Dasar (AD) , dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Disamping itu kelompok resmi memiliki pembagian kerja, peranan-peranan serta hirarki tertentu. Hal ini dirumuskan secara tegas dan tertulis. Contoh dari kelompok resmi adalah: OSIS, partai politik, dan sebagainya.

 

Kelompok Informal

Kelompok-kelompok yang tidak memliki struktur organisasi tertentu yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut pada umumnya terbentuk karena adanya pertemuan-pertemuan yang berulang kali dan hal tersebut menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama.

Kelompok tidak resmi (informal group) ini tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh anggaran dasar (AD), dan anggaran rumah tangga (ART) seperti yang lazim berlaku pada kelompok resmi.

Contoh dari kelompok informal adalah Klik (Clique) yaitu suatu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik sering ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antara anggota, lazimnya hanya bersifat antara “klik” saja.

 

REFERENSI

_____________. (2009). Kelompok Sosial [Online], 36-37, 39. Tersedia: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_sosiologi_dan_ilmu_sosial_dasar/bab4_kelompok_sosial.pdf [29 September 2010].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s