BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang Masalah

Jumlah Perokok di Indonesia Tempati Rangking 3 Dunia

Indonesia menempati ranking ke tiga dalam hal jumlah perokok aktif setelah Cina dan India. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia perokok aktif. Mungkin karena itu, pemerintah Indonesia hingga kini enggan menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). “Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani FCTC,”kata Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Prijono Satyabakti, kepada wartawan dalam konferensi pers dan pertemuan jurnalis tobacco control support center (TCSC) di rumah makan Kebon Pring, Jalan Dharmahusada, Surabaya, Kamis (28/10/2010). Prijono mengatakan bahwa tidak dapat disangkal bahwa cukai industri rokok di Indonesia memang menyumbang pendapatan yang besar untuk negara. Mungkin itu juga yang membuat pemerintah Indonesia enggan menandatangani FCTC. Padahal anggapan tentang cukai industri rokok menyumbang pendapatan besar ke negara adalah salah. Yang membayar cukai rokok adalah konsumen, bukan industri rokok. Selain itu, pengobatan  akibat penyakit rokok justru menelan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan pendapatan negara dari cukai rokok. Pada tahun 2005, penerimaan negara dari cukai rokok mencapai Rp 32,6 Triliun, tetapi pengeluaran negara akibat penyakit rokok mencapai Rp 167,2 Triliun atau 5 kali lipat dari pendapatan untuk negara. “Selain perokok aktif, perokok pasif juga banyak yang terkena penyakit akibat rokok,” tambah Prijono. Prijono sendiri pada 5-9 Oktober lalu telah menghadiri Asia Pacific Conference on Tobacco or Health yang diadakan di Sydney. Dalam forum tersebut, Prijono merasa malu karena Indonesia disorot sebagai negara yang kurang peduli terhadap rokok. Prijono mengatakan bahwa kemasan rokok produksi Indonesia yang dijual di luar negeri ditampilkan dengan membesarkan gambar dan tulisan akibat merokok dan mengecilkan nama dan logo rokok itu sendiri. Tetapi di Indonesia justru berkebalikan. Nama dan logo rokok malah diperbesar dan tulisan risiko akibat merokok malah kecil dan bahkan tanpa gambar akibat merokok.

(sumber: Detik Surabaya, Kamis, 28 Oktober 2010)

Akibat buruk dari merokok nampaknya sudah tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat Indonesia. Suara iklan tentang bahaya merokok yang sering kita dengar nampaknya memang sudah menjadi suara yang hanya mampir dalam telinga kita. Dapat dikatakan semua orang hafal dengan kalimat itu, tetapi ironisnya memang hanya sekedar hafal dan tanpa tindakan yang berarti untuk mencegahnya.

Rokok saat ini bukan hanya sekedar trend di kalangan dewasa, tetapi rokok saat ini juga sudah merambah kepada generasi muda Indonesia. Anak dan remaja tak luput dari pengaruh trend rokok di Indonesia. Data badan kesehatan dunia menunjukkan terjadi peningkatan jumlah anak merokok di Indonesia. Diperkirakan 35% atau 25 juta dari 70 juta anak Indonesia merokok. Bahkan 1,9 % diantaranya mulai merokok pada usia 4 tahun. Mungkin karena inilah Indonesia menduduki peringkat pertama pada bidang perokok remaja tertinggi di dunia. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia, karena anak dan remaja merupakan masa depan negara ini dan dengan merokok akan merusak masa depan anak dan remaja itu sendiri.

Rumusan Masalah
Mengacu kepada latar belakang yang ada, maka rumusan masalah yang ada antara lain:

  1. Apa yang menyebabkan masyarakat Indonesia kecanduan merokok.
  2. Bagaimana hubungan antara tahap oral pada tahapan perkembangan menurut Freud dengan fenomena kecanduan merokok.

Tujuan Pembahasan
Dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai oleh penyusun yaitu:

  1. Menambah pengetahuan mengenai teori tentang kepribadian menurut Freud yang berhubungan dengan fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
  2. Mengetahui penyebab seseorang memiliki kecanduan merokok.

Prosedur Pemecahan Masalah
Dalam makalah, sumber data yang digunakan dalam memecahkan masalahnya adalah dengan menggunakan data sekunder yang didapatkan dari kajian literatur, jurnal dan hasil penelitian.

Sistematika Penulisan
Pada bab 1 pendahuluan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan pembahasan, prosedur pemecahan masalah dan sistematika penulisan. Pada bab 2 didalamnya dibahas mengenai pengertian tahap oral dalam tahapan perkembangan menurut Freud. Pada bab 3 analisis akan dibahas mengenai keterkaitan antara kebiasaan merokok dengan tahap oral pada usia kanak-kanak. Pada bab terakhir yaitu bab 4 akan dibahas mengenai simpulan dan rekomendasi.

BAB II

PEMBAHASAN

(Tahap Oral (Oris = Mulut))

 

Tahap oral adalah periode bayi yang masih menetek yang seluruh hidupnya masih bergantung kepada orang lain. Pada massa ini libido didistribusikan ke daerah oral sehingga perbuatan mengisap dan menelan menjadi metode utama untuk mereduksi keteganngan dan mencapai kepuasan (kenikmatan). Karena mulut menjadi sumber kenikmatan erotis, maka anak akan menikmati peristiwa menetek pada ibunya dan juga memasukkan segala jenis benda ke dalam mulutnya, termasuk jompelnya sendiri. Ketidakpuasan pada masa oral (seperti disapih dan kelahiran adiknya) dapat menimbulkan gejala regersi (kemunduran) yaitu berbuat seperti bayi atau anak yang sangat bergantung kepada orang tuanya atau banyak tuntutan yang harus dipenuhi dan juga gejala perasaan iri hati (cemburu). Reaksi dari kedua gejala tersebut dapat dinyatakan dalam beberapa tingkah laku, seperti: mengisap jempol, mengompol, membandel, dan membisu seribu bahasa. Di samping itu ketidakpuasan ini akan berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, seperti: merasa kurang aman, selalu bergantung kepada orang lain, selalu meminta perhatian orang lain atau egosentris. Sama halnya dengan anak yang tidak mendapat kepuasaan, anak yang mendapat kepuasan secara berlebihan pun ternyata berdampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadiannya. Dia akan menampilkan pribadi yang kurang mandiri (kurang bertanggung jawab), bersikap rakus, dan haus perhatian atau cinta orang lain. Menurut Freud, fiksasi pada tahap ini dapat membentuk sikap obsesif yaitu makan dan merokok pada kehidupan berikutnya (masa remaja dan dewasa). Pada tahap ini juga dorongan agresi sudah mulai berkembang.

Tahapan perkembangan psikoseksual akan memberikan dampak yang beragam bagi perkembangan karakter atau kepribadian individu pada masa dewasanya. Apabila individu dapat melalui semua tahapan tersebut secara mulus, maka dia cenderung akan memiliki kepribadian yang sehat. Namun apabila sebaliknya, cenderung akan mengalami gejala tingkah laku mala suai (maladjustment) atau neurotik (gangguan jiwa). Menurut Freud indikator dari karakter atua pribadi yang sehat adalah kemampuan dalam bercinta (hubungan sosial) dan bekerja.

Keterkaitan antara karakter orang dewasa dengan perkembangan psikoseksual dapat digambarkan sebagai berikut.

Keterkaitan Karakter dengan Perkembangan Psikoseksual

Tahapan

Perpanjangan ke Masa Dewasa

Sublimasi

Formasi Reaksi

Oral

Merokok, makan, minum, ciuman, memelihara kesehatan mulut, dan mengunyah. Mencari ilmu, senang humor, dan sarkaisme. Sangat hati-hati dalam berbicara, pengikut mode, tidak senang susu, dan senang memberikan larangan.


BAB III

ANALISIS

 

Freud dipandang sebagai teoretisi psikologi pertama yang memfokuskan perhatiannya kepada perkembangan kepribadian. Dia berpendapat bahwa masa anak (usia 0 – 5 tahun) atau usia pregential mempunyai peranan yang sangat dominan dalam membentuk kepribadian atau karakter seseorang. Karena sangat menentukannya di masa dewasa, dia berpendapat bahwa “The child is the father of man” (“anak adalah ayah dari manusia”). Berdasarkan hal ini, maka hampir semua masalah kejiwaan pada usia selanjutnya (khususnya usia dewasa), faktor penyebabanya dapat ditelususri pada usia pregential.

Makna perkembangan kepribadian menurut Freud adalah “Belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan (tension reduction) dan memperoleh kepuasan”. Ketegangan itu terjadi bersumber kepada empat aspek, yaitu sebagai berikut.

  1. Pertumbuhan fisik. Seperti peristiwa menstruasi dan mimpi pertama dapat menimbulkan perubahan aspek psikologis, dan juga ada tuntutan baru dari lingkungan (seperti dalam berpakaian dan bertingkah laku).
  2. Frustasi. Orang yang tidak pernah frustasi tidak akan berkembang. Jika anak dimanja (over protection) tidak akan berkembang rasa tanggung jawab dan kemandiriannya.
  3. Konflik. Ini terjadi antara id, ego, superego. Apabila individu dapat mengatasi setiap konflik yang terjadi di antara ketiga komponen kepribadian tersebut, maka dia akan mengalami perkembangan yang sehat.
  4. Ancaman. Lingkungan, di samping dapat memberikan kepuasan kepada kebutuhan atau dorongan instink individu, juga merupakan sumber ancaman baginya yang dapat menimbulkan ketegangan. Apabila individu dapat mengatasi ancaman yang dihadapinya, maka dia akan mengalami perkembangan yang diharapkan.

Teori perkembangan Freud didasarkan kepada pengalamannya dalam menganalisis masalah yang dihadapi para pasiennya. Dalam mengeksplorasi proses kehidupan mental para pasien, ternyata sering mengarah kepada pengalaman masa kecilnya.

Perkembangan kepribadian berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual yaitu tahapan periode perkembangan seksual yang sangat mempengaruhi kepribadian masa dewasa. Freud berpendapat bahwa perkembangan kepribadian manusia sebagian besar ditentukan oleh perkembangan seksualitasnya. Keeratan antara seks dengan kepribadian ini dikemukakan juga oleh Master dan Johnson: “seksualitas adalah dimensi dan pernyataan dari kepribadian.”

Tahap oral merupakan salah satu tahap perkembangan yang terdapat dalam 5 tahapan perkembangan menurut Freud. Tahap ini terjadi ketika anak berusia 0-1 tahun. Keempat tahap perkembangan lainnya adalah tahap anal, phalik, latensi, genital.

Merokok merupakan salah satu sikap obsesif yang diakibatkan oleh adanya fiksasi pada tahap oral. Hal ini berarti ada kesalahan dalam menjalani tahapan perkembangan ketika usia kanak-kanak terutaman dalam tahap oral karena pusat dari kepuasan dalam tahapan ini terletak pada mulut, sehingga jika kepuasaan ini tidak terpenuhi secara sempurna pada tahap oral, maka ketika usia dewasa akan memiliki karakteristik atau kebiasaan yang diakibatkan oleh adanya ketidaksempurnaan tahap perkembangan ketika usia kanak-kanak, yang dalam hal ini adalah kebiasaan merokok.

BAB IV

PENUTUP

 

Simpulan
Merokok merupakan suatu kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dahulu kala, tetapi belakangan kebiasaan itu sangat mengkhawatirkan karena kebiasaan buruk itu saat ini sudah mencapai angka yang sangat memprihatinkan di Indonesia. Hal itu bukan tanpa alasan, melainkan karena memang Indonesia merupakan negara dengan perokok tertinggi nomor tiga di dunia.

Dengan memperhatikan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa merokok merupakan salah satu akibat yang ditimbulkan dari adanya ketidaksempurnaan dalam menjalani tahap oral pada usia kanak-kanak.

Rekomendasi
Untuk menanggulangi akibat adanya kebiasaan merokok tersebut hendaknya orang tua harus memperhatikan tahap oral pada usia kanak-kanak anaknya karena memang tahap inilah yang sangat berperan dalam kebiasaan merokok pada usia dewasa menurut Freud.

Konselor sebaiknya harus menerapkan teori Freud untuk mereduksi kebiasaan merokok pada seseorang, mulai dari metode asosiasi bebas, analisis mimpi, interpretasi, resistensi, sampai transferensi.

Pemerintah juga sebaiknya ikut andil dalam menekan laju pertumbuhan perokok di negara Indonesia. Larangan merokok di tempat umum sampai fatwa haram merokok oleh Muhammadiyah nampak menjadi suatu bentuk nyata pemerintah dalam menekan laju pertumbuhan angka perokok yang sudah sangat mengkhawatirkan pada dewasa ini.

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, S. dan Nurihsan, J. (2008). Teori Kepribadian. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rossi, Indra Manenda. (2006). Perokok Remaja Indonesia Tertinggi di Dunia [Online]. Tersedia: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/06/01/brk,20060601-78242,id.html [01 Desember 2010].

Wahyudiyanta, Imam. (2010). Jumlah Perokok di Indonesia Tempati Rangking 3 Dunia [Online]. Tersedia: http://surabaya.detik.com/read/2010/10/28/163152/1477814/466/jumlah-perokok-di-indonesia-tempati-rangking-3-dunia [01 Desember 2010].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s