Perbedaan antara skor tes kaum minoritas dengan kulit putih pada tes kecerdasan umumnya tentang ukuran yang sama dengan deviasi standar dari ujian, atau sekitar 15 poin, meskipun kesenjangan ini tampaknya menyusut. Perbedaan nilai tes rata-rata menunjukkan bahwa relatif sedikit kaum minoritas yang menerima skor tes tinggi dan terwakili di antara mereka yang menerima skor rendah pada tes. Akibatnya, jika tes digunakan sebagai satu-satunya metode untuk membuat keputusan, minoritas akan lebih sedikit pilihan ke sekolah-sekolah, pekerjaan, dan program pelatihan, dibandingkan jika keputusan diambil secara acak atau jika kuota dikenakan. Dalam konteks sangat selektif (misalnya, sekolah bergengsi), penggunaan tes sebagai alat tunggal untuk membuat keputusan lebih efektif untuk menyeleksi para calon siswa.
Banyak yang percaya bahwa penggunaan uji kemampuan kognitif dibiaskan dalam penempatan pendidikan, penerimaan akademik, dan hasil seleksi karyawan dalam keputusan-keputusan yang fundamental. Hal ini tentu tidak adil. Salah satu bukti bahwa tes tersebut dibiaskan adalah adanya perbedaan sistematis dalam nilai tes sebagai fungsi status sosial-ekonomi, jenis kelamin dan ras (Jensen, 1980; Linn, 1982). Para peneliti menunjukkan bahwa pada tes yang dibiaskan, umumnya :
1. Nilai tes anak-anak dan dewasa dari kelas sosial menengah dan atas, cenderung lebih tinggi dari kelas sosial bawah.
2. Kaum kulit putih cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi daripada kaum minoritas.
3. Laki-laki mendapatkan nilai lebih tinggi pada beberapa tes dan secara sistematis mendapatkan nilai lebih rendah dari wanita dalam tes lain.
Perdebatan tentang bias dan keadilan dalam bias tes mental dan dihambat oleh kurangnya kesepakatan atas persyaratan dasar.
Dalam konteks pengujian/tes dan membuat keputusan, bias dan fairness menunjukkan konsep yang pada dasarnya berbeda. Dalam beberapa hal, pengujian bias menunjukkan pilihan yang adil, tetapi tes yang tidak bias menunjukkan pilihan yang tida adil. Sangat penting untuk membedakan kedua konsep tersebut.
Secara sederhana, bias merupakan ciri statistik dari nilai suatu tes atau prediksi berdasarkan tes tersebut. Sehingga, bias bisa dikatakan terjadi apabila tes membuat kesalahan secara sistematis dalam pengukuran dan prediksi. Contoh, jika nilai tes menunjukkan bahwa laki-laki baik dalam membuat alasan verbal ketimbang wanita, tetapi ternyata keduanya sama, tes tersebut memiliki pengukuran yang bias tentang verbal reasoning. Jika tes tersebut digunakan dalam seleksi masuk universitas dan secara sistematis melebihkan perhitungan kemampuan laki-laki daripada perempuan, tes tersebut disebut dengan predictor bias.
Fairness mengacu pada pertimbangan nilai tentang keputusan atau tindakan yang diambil sebagai hasil skor tes. Misalnya, dalam memilih petugas pemadam, kebanyakan kota menggunakan beberapa kombinasi tes kemampuan kognitif, wawancara, dan tes kekuatan fisik. Seringkali kelompok yang dipilih pelamar didominasi laki-laki, meskipun banyak perempuan mungkin diterapkan untuk pekerjaan itu. Beberapa orang menganggap situasi ini pada dasarnya tidak adil, karena sebagian besar perempuan dikecualikan dari pekerjaan ini. Lainnya menganggap situasi yang sama seperti benar-benar adil, alasan bahwa tes memilih pelamar yang paling memenuhi syarat, tanpa memandang jenis kelamin.
Bias dalam pengukuran terjadi ketika tes membuat kesalahan secara sistematis dalam mengukur cirri spesifik dan kedudukannya. Contoh, beberapa psikolog menyatakan bahwa tes IQ mungkin berlaku untuk kulit putih kelas menengah, tetapi tes tersebut tidak dapat berlaku untuk kulit hitam atau kelompok minoritas lainnya (Yusuf, 1977; Williams, 1974). Buktinya, ada pengukuran bias dalam interview pada karakteristik pelamar kerja; contohnya pada para pelamar yang menarik. (Arvey, 1979).
Bias dalam prediksi, terjadi ketika tes membuat kesalahan sistematis dalam memprediksi kriteria hasil. Hal ini sering diperdebatkan bahwa tes yang digunakan dalam penerimaan akademis dan seleksi karyawan selalu menaksir terlalu rendah para pelamar kaum minoritas dan tes memberikan dampak yang merugikan bagi yang sudah masuk atau diterima. Dalam kasus lain, mungkin tes prediksi berguna untuk satu kelompok (misalnya, laki-laki) tetapi bisa kurang akurat bila digunakan untuk memprediksi kinerja dari beberapa kelompok lain.

Buku Asli:
Murphy, K. R. & Davidshofer, C. O. (2005). Psychological Testing: Principles and Applications. New Jersey: Pearson.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s