Kultur berbeda langsung menghampiri saya ketika pertama kali masuk kuliah 2 tahun yang lalu. Berbagai macam perbedaan kultur sangat terlihat nyata, terutama dalam hal ritual keagamaan. Namun yang menjadi perhatian saya adalah maraknya slogan “dakwah” di kampus tercintaku. Bagaimana tidak, motto kampus yang “ilmiah, edukatif, dan religius” menambah tumbuh suburnya perkembangan dakwah di kampus. Berbagai macam UKM ataupun organisasi didirikan untuk menampung hasrat “haus ilmu” para mahasiswa. Tinggal pilih saja mau yang seperti apa model dakwahnya. Ada yang ekstrim, ada yang wajar saja, tetapi ada juga yang terselubung.

Saya tidak akan mengomentari mengenai pengertian dakwah itu sendiri, karena saya yakin teman-teman sudah dapat mengartikan sendiri apa itu dakwah, namun yang menjadi perhatian saya kali ini adalah kesenjangan antara dakwah para mahasiswa dengan dakwah para kiai di lingkungan masyarakat. Saya sebut dakwah mahasiswa karena memang yang kebanyakan pendakwah tersebut adalah mahasiswa. Namun pertanyaan pertama dan yang paling dasar adalah, “Bukankah dakwah itu mencakup seluruh elemen masyarakat ? tetapi mengapa kebanyakan dakwah kampus itu hanya terbatas pada mahasiswa saja dan kurang menjamah elemen masyarakat yang masih cenderung Islam KTP?”

Berdasarkan pengalaman saya sebagai mahasiswa selama 2 tahun memang saya merasakan sendiri adanya atmosfer yang seperti itu. Dakwah kampus hanya terbatas untuk kalangan kampus saja. Yang sering saya sayangkan adalah mereka terkadang menyalahkan para mahasiswa yang tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini yang sebenarnya yang disalahkan itu sudah baik dan sudah memiliki niatan untuk tetap baik. Lalu apa dasarnya pendakwah kampus yang ekstrim itu menyalahkan dan – yang lebih ekstrim lagi – mengkafirkan orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini oleh komunitasnya? Jika sudah begini, ada dua kemungkinan yang akan terjadi menurut pandangan saya. Pertama, orang yang disalahkan itu akan berbalik kepada kehidupan yang sebelumnya yang bisa kita sebut jahiliyah karena merasa dipersalahkan oleh orang yang “dianggap” tahu tentang agama. Kemungkinan yang kedua adalah orang yang dipersalahkan tersebut akan mengikuti apa yang diinginkan oleh yang menyalahkan tetapi dengan perasaan karena adanya ketakutan tersendiri, bahkan mungkin karena hanya ditakut-takuti adanya neraka sehingga menyebabkan perubahan yang terjadi pada orang yang sudah mulai baik itu hanya sebatas ketakutan saja dan bukan berasal dari keikhlasan dan keyakinan hatinya. Cara ini yang terkadang saya kurang setuju. Mengapa para pendakwah kampus tidak mencontoh cara dakwah para ulama yang sudah terbukti ampuh dalam menyebarkan syiar Islam di bumi Indonesia yang jauh dari kata ekstrim?

Pertanyaan saya selanjutnya adalah, mengapa dakwah kampus hanya terbatas pada mahasiswa saja tanpa mencakup elemen masyarakat di luar kampus? Padahal di sekitar kampus masih banyak sekali orang yang hanya sebatas “Islam KTP” yang seharusnya dapat menjadi “lahan dakwah” yang segar bagi para pendakwah. Satu pertanyaan besar yang sampai saat ini belum saya rasakan di kampus, terutama kampus tercinta saya.

Satu hal yang juga membuat saya merasa miris adalah dari sekian banyak UKM dakwah di kampus, ternyata mereka memiliki “hidden agenda” tersendiri yang terkadang tidak diungkapkan atau bahkan cenderung ditutup-tutupi. Yang lebih ironisnya lagi adalah para UKM dakwah itu dimotori oleh organisasi masyarakat yang berbeda-beda yang jika ditelisik lebih jauh lagi, semuanya bermuara pada “satu tujuan”. Jadi kalau boleh saya mengambil kesimpulan, tidak jarang organisasi dakwah kampus yang begitu banyak itu dijadikan lahan oleh para organisasi masyarakat yang cenderung “ekstrim” untuk meraih simpati dan dukungan dari para mahasiswa yang – juga tidak jarang – tidak memiliki dasar keimanan yang kuat, yang kurang mengetahui mengenai pergerakan-pergerakan organisasi Islam.

Hal tersebut sangat terasa ketika saya pribadi merasakan keanehan yang terkadang menyerembab ke dalam benak saya. Satu pertanyaan lagi yang mewakili apa yang saya rasakan itu. “Mengapa kebanyakan organisasi dakwah kampus tidak mengundang ulama atau kiai pimpinan pondok pesantren ataupun kiai kondang lainnya yang kebanyakan orang sudah mengetahuinya?” Setelah berjalannya waktu, hal tersebut dapat saya ambil kesimpulan bahwa memang para organisasi dakwah kampus memiliki ketentuan minimal bagi para pembicara yang akan mengisi di acaranya organisasi tersebut. Satu yang sangat umum adalah “Sang pembicara harus berasal dari organisasi Islam yang mewadahi atau memotori organisasi dakwah kampus tersebut.” Satu kata yang keluar dari mulut saya adalah, Ironis! Mengapa untuk merekrut anggota untuk masuk ke dalam organisasinya itu harus dengan cara-cara yang sudah saya sebutkan di atas tadi?

Namun, disamping itu semua saya tidak menyalahkan adanya dakwah kampus. Saya bersyukur, paling tidak ada mahasiswa yang peduli terhadap perkembangan agama Islam di kampusnya. Tetapi di sisi lain juga saya prihatin terhadapnya. Keprihatinan saya mungkin sedikit banyak sudah saya utarakan di atas yang sebenarnya pada intinya adalah mengapa para pendakwah kampus itu tidak merambah kepada masyarakat di sekitar atau di luar kampusnya?

Semoga tulisan saya ini dapat membuka cakrawala berpikir bagi para mahasiswa yang mungkin belum begitu tahu mengenai keadaan “religius” yang ada di kampus, terutama kampus saya tercinta ini.

Wallahua’lam . . .

Bandung, 25 September 2011

Advertisements

3 thoughts on “Dakwah Mahasiswa dan Dakwah Para Kiai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s