Wacana akan go green dan juga save our world sudah banyak sekali digembar-gemborkan oleh semua pihak, baik pemerintah, komunitas, maupun berbagai macam instansi yang bergerak di bidang lingkungan maupun non-lingkungan. Berbagai macam usaha mereka lakukan atas nama instansi dan juga sekaligus sebagai ajang untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar kita.

Tetapi pertanyaan yang terkadang masih menghantui pikiran adalah “Mengapa masih saja banyak orang yang secara terang-terangan mengatakan bahwa akan menjaga lingkungan tetapi nyatanya dalam perilaku sehari-hari sangat tidak dapat mencerminkan perilaku yang dapat dikatakan menjaga lingkungan sekitarnya?” Tentu jika berkaca pada pertanyaan tersebut para masyarakat akan berpikir kembali tentang pentingnya menjaga lingkungan. Masyarakat pasti memiliki prinsip, “Yang mengkampanyekan akan pentingnya menjaga lingkungan juga tetap saja tidak mencerminkan perilaku menyanyangi lingkungan, jadi buat apa aku ikut-ikutan menjaga lingkungan? Cape sendiri.”

Sudah menjadi rahasia publik bahwa hanya segelintir orang saja yang memang benar-benar peduli dengan lingkungan dan melakukan aksi nyata bagi bangsa, negara, dan juga bumi tercinta ini. Masyarakat juga sudah semakin kritis melihat sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Mereka sudah cukup muak dengan janji-janji pemerintah yang terkadang hanya sekedar wacana saja tanpa ada sebuah pembuktian. Jadi bagi masyarakat, adanya kampanye untuk go green atau semacamnya dirasa sudah tidak efektif lagi karena memang tidak ada bukti nyata yang ditawarkan pemerintah kepada masyarakatnya.

Justru ide-ide kreatif untuk mengajak masyarakat lebih mengenal lingkungannya sendiri lebih dihadirkan oleh pihak-pihak swasta yang memang lebih mengangkat topik-topik sosial yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Lihat saja salah satu acara talk show ternama di salah satu stasiun televisi swasta yang menghadirkan berbagai tokoh yang mengabdikan dirinya kepada hal-hal yang semua orang mengetahui bahwa itu adalah hal-hal yang positif. Sudah banyak masyarakat yang mengaku terinspirasi dengan acara tersebut karena muatan nilai positifnya yang sarat makna dan perjuangan. Berangkat dari fakta tersebut, tentu pemerintah seharusnya belajar memahami langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk merangkul masyarakat agar mereka mau bergerak maju dan berkontribusi bagi lingkungannya.

Masyarakat juga seharusnya memahami bahwa semua tindakan positif itu berangkat dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Tidak usah langsung bergerak kepada hal-hal yang besar, tetapi mulailah dengan yang kecil terlebih dahulu. Asal semua itu konsisten maka bukan tidak mungkin lama-kelamaan manfaatnya akan dapat dirasakan bagi dirinya sendiri dan juga lingkungannya.

Contoh paling nyata dan juga paling mudah untuk dilakukan adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sesuatu yang kecil tetapi jika tidak dilakukan dengan konsisten maka semua itu hanya sekedar bualan belaka. Berangkat dari hal tersebut, maka terkadang saya miris ketika banyak sekali orang-orang, baik tua maupun muda begitu mudahnya membuang sampah di sembarang tempat. Terkadang prinsip mereka adalah, “Nanti juga ada petugas kebersihan yang membersihkannya.” Dalam hati saya sering menjawab, “Iya memang, tetapi jika semua orang berpikiran seperti itu bukan tidak mungkin daerah tersebut akan menjadi daerah yang penuh dengan sampah.” Dan lihat saja, sekarang ini di kota-kota besar masalah sampah sudah menjadi momok menakutkan tersendiri bagi warga dan juga pemerintahnya. Mereka sudah mulai kewalahan bagaimana seharusnya menindaklanjuti adanya sampah yang mulai menggunung. Tentu semua itu salah satunya disebabkan karena adanya prinsip yang salah dari kebanyakan masyarakat kita.

Niat baik juga bukan berarti akan mulus-mulus saja dalam menjalankannya. Seringkali niat baik malah mendapat cercaan dan juga komentar dari orang lain. Pernah suatu waktu ketika saya sedang menaiki kereta ekonomi untuk kembali ke kampung halaman saya di Cilacap, saya ditanya oleh seseorang di samping saya. “De, ko bungkus makanannya ga dibuang saja? Buang saja keluar. Ga ada orang ko di luar.” Memang sebelumnya saya membeli makanan dari salah satu pedagang asongan di dalam kereta dan ada bungkus makanannya. Tetapi pembungkus makanan tersebut tidak saya buang, melainkan tetap saya pegang sepanjang perjalanan karena di pembungkus tersebut masih terdapat air sisa makanan yang baru saja saya makan sehingga tidak mungkin saya memasukannya ke dalam saku.

Untuk menghormati orang yang berada tepat di sebelah saya itu, saya berusaha mencari jalan lain agar dia tidak terus-terusan disuruh untuk membuang sampahnya ke luar jendela kereta. Secara tidak sengaja, ada orang di depan saya yang baru saja selesai memakan keripik dari dalam bungkusan plastik. Akhirnya saya-pun memberanikan diri untuk meminta plastik yang sudah tidak terpakai tersebut dan saya gunakan untuk membungkus bungkusan makanan yang sejak tadi saya pegang. Kembali untuk menghormati ajakan orang yang disebelah saya, saya menaruh bungkusan yang telah dimasukkan ke dalam plastik di pojokkan kursi yang saya duduki sembari berniat akan mengambilnya nanti ketika sudah tiba di stasiun tujuan. Semua itu saya lakukan karena memang di dalam kereta tersebut tidak terdapat tempat sampah yang disediakan khusus oleh PT. KAI dan juga tidak mungkin saya menyalahkan pemerintah hanya karena tidak adanya fasilitas tempat sampah. Oleh karena itu, daripada saya hanya menyalahkan pemerintah dan memaki-makinya lebih baik saya mencari jalan lain yang mungkin bagi sebagian orang dirasa kurang praktis tetapi bagi saya tidak ada salahnya jika kita berniat untuk berbuat baik demi lingkungan kita bersama.

Terkadang ketika saya sedang berada di kelas perkuliahan, tidak sedikit juga mahasiswa yang katanya “agen of change” tetapi menampilkan perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan akan perubahan menuju hal yang lebih baik. Salah satu contoh yang berkaitan dengan membuang sampah pada tempatnya adalah ketika beberapa mahasiswa yang dengan mudahnya membuang sampah ke luar jendela setelah memakan makanan yang mereka makan di dalam kelas. Lebih parahnya lagi, mereka membuang sampah tersebut atau lebih tepatnya melempar sampah ke luar jendela dari lantai 3 gedung perkuliahan. Kadang saya berpikir, “Bagaimana jika di bawah sana ada orang yang sedang duduk-duduk atau sekedar berteduh? Bukankah itu akan membuat mahasiswa tersebut menjadi malu sendiri?” Apakah seperti ini generas penerus bangsa? Tidak adakah kesadaran dalam diri mereka untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan?

Tidak ada usah yang lebih baik melainkan dimulai dari diri sendiri selain juga pemerintah sebagai penggerak utama dalam menggalakkan kesadaran bagi warga negaranya. Bagi diri sendiri salah satunya seperti yang sudah diceritakan di atas, namun bagi pemerintah sudah seyogianya mencari inovasi baru dalam mengkampanyekan penyelamatan lingkungan hidup. Seperti juga pihak swasta yang dirasa memiliki kreatifitas lebih dalam menyampaikan pesan-pesannya kepada masyarakat, mengapa pemerintah tidak dapat melakukan hal yang sama? Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi para stakeholder pemerintahan untuk memberikan bukti nyata dalam berkontribusi menjaga lingkungannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s