Pemuda sebagai agen penerus bangsa tentu harus menjiwai jiwa-jiwa sosial di dalam dirinya. Terlebih bangsa Indonesia yang sejak dulu sudah dikenal sebagai bangsa yang ramah dan mempunyai tata krama. Budaya ketimuran akan selalu melekat pada bangsa ini sejauh para pemuda masih memegang teguh nilai-nilai luhur bangsa dan negara.

Jiwa sosial sebagai sebuah nilai yang sudah seharusnya menjadi denyut nadi bagi setiap insan muda-mudi bangsa ini sepertinya masih perlu dipertanyakan kembali. Lihat saja, apa yang dilakukan pemuda saat ini sudah mulai meninggalkan nilai-nilai sosial yang menjadi ciri khas bangsa ini. Salah satu contohnya adalah jiwa bersosial dengan masyarakat sekitar rumahnya sendiri. Betapa banyak mereka yang kurang mementingkan apa yang ada di sekitar lingkungannya. Pemuda perkotaan dewasa ini sudah mulai benar-benar menghilangkan apa yang disebut dengan guyub rukun dengan tetangga. Kehidupan mereka praktis hanya di sekolah, rumah dan tempat hiburan. Lalu kapankah waktu untuk bersosialisasi dengan masyarakat? kemana para orang tua yang seharusnya menjadi salah satu pembimbing bagi anak-anaknya untuk mengajarkan nilai-nilai kemasyarakatan?

Namun di sisi lain, tidak semua pemuda perkotaan bertingkah laku seperti apa yang ditandaskan di atas. Mereka yang peduli dengan masyarakat sekitar tentu membentuk sebuah kelompok sendiri dengan pemuda lain yang memang peduli dengan masyarakat sekitarnya. Bagi mereka masyarakat adalah saudara yang paling dekat dengan dirinya. Hablumminalloh dan Hablumminannas masih mereka pegang teguh selama mereka bisa dan mampu untuk menjalankannya. Kurang efektif jika kita berbicara masalah hubungan kita dengan Tuhan namun mengesampingkan hubungan kita dengan sesama manusia. Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk hidup rukun dengan sesama manusia?

Dalam salah satu kitab dikatakan bahwa penilaian Allah terhadap kita juga ditentukan dari tetangga sekitar menilai diri kita. Ambil contoh saja misalkan tetangga sekitar kurang senang dengan kehadiran kita, maka Allah juga akan menilai kita seperti apa yang dinilai oleh masyarakat atau dalam hal ini tetangga sekitar. Hal itu cukup beralasan karena tetangga kurang senang dengan kita tentu ada alasan-alasan tertentu yang menyebabkan semua itu. Salah satu yang mennyebabkannya adalah karena diri kita kurang bersosialisasi dengan mereka. Dengan adanya hal demikian, tentu masyarakat akan mempunyai pandangan yang jelek terhadap kita. Mereka bertanya, “Kemana saja orang itu? Apakah begitu sibuknya hari-harinya sehingga tidak mau kenal dengan tetangganya?” Hal inilah yang seharusnya diwaspadai oleh setiap insan muda bangsa ini, bukan malah bersedih karena tidak dapat bertemu dengan seorang artis yang dipujanya dalam sebuah konser musik.

Nilai-nilai kemasyarakatan sepertinya harus mulai ditanamkan kembali secara tepat dan optimal karena mengingat adanya moral bangsa ini yang sudah mulai luntur termakan oleh jaman yang juga sudah mulai dimasuki budaya barat yang mementingkan sikap individualistik dan egoisme.

Bangkitlah pemuda Indonesia! Di tanganmulah bangsa dan negara ini digantungkan nasibnya.

Wallahoa’lam . . .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s