Saya sering sekali memimpikan jika semua pendidik di Indonesia memiliki kharisma dan juga keluasan ilmu seperti apa yang telah dicontohkan oleh para kiai di berbagai Pondok Pesantren di negeri ini mungkin hubungan antara pelajar dan juga pendidik akan saling menguntungkan.

Pendidik
Pendidik jika kita merujuk pada seorang kiai yang memegang peranan penting dalam sebuah institusi pendidikan tentu selain berkewajiban menyampaikan ilmu yang ia miliki (tabligh) juga berfungsi sebagai orang tua bagi para pelajar. Niat dalam menyampaikan ilmu tentu berbeda. Dimana letak perbedaannya? Jika seorang kiai niatnya adalah semata-mata lillahita’ala, tetapi jika pendidik yang berlaku di Indonesia, ada saja yang hanya berniat untuk mencari uang tanpa memikirkan ilmu yang disampaikannya walaupun itu hanya sebagian kecil saja. Fungsi pendidik juga seharusnya dapat menjadi orang tua bagi para pelajar di mana mereka tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengayomi layaknya orang tua terhadap anak-anaknya. Perhatian adalah kunci utama dalam aspek ini. Lihat saja, kebanyakan siswa bermasalah di negeri ini adalah karena kurangnya perhatian baik dari lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolahnya. Tentu ini juga menjadi perhatian serius bagi proses pendidikan di negeri Indonesia ini karena memang selama ini masih banyak siswa-siswa yang luput dari perhatian seorang guru terhadap siswanya.

Pelajar
Pelajar jika murujuk pada santri di Pondok Pesantren tentu harus ta’dim dan patuh kepada pendidiknya. Bagi kalangan santri, ta’dim kepada seorang kiai merupakan syarat wajib bagi mereka agar ilmu yang mereka dapatkan dapat bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain. Karena buah dari keta’dimannya itu adalah adanya restu dari seorang kiai yang mana selama di pondok pesantren ia berfungsi sebagai orang tua sekaligus guru bagi para santri. Restu inilah yang diharapkan oleh setiap santri karena mereka percaya bahwa karomah seorang kiai juga sangat berperan penting dalam kelancarannya menuntut ilmu. Dalam praktek pendidikan di Indonesia, masih banyak sekali siswa-siswa yang tidak mengabdi pada gurunya sendiri, bahkan ada juga yang menentangnya. Hal ini tentu menimbulkan kesedihan tersendiri bagi insan pendidik di negeri ini, terutama bagi mereka yang dengan ikhlas menyampaikan ilmu yang ia pahami kepada para siswanya.

Hubungan antara kiai dan juga santri juga terkadang tidak dapat ditelaah secara fisik karena hubungan tersebut terkadang muncul dengan sendirinya atas izin Allah Yang Maha Kuasa. Di sinilah sebenarnya arti pentingnya pembelajaran di mana sudah terjalinnya hubungan yang harmonis antara seorang pendidik dan juga seorang pelajar yang sedang memahami sebagian kecil ilmu yang dimiliki oleh Tuhan yang tak lain adalah Allah Swt karena kita semua mengetahui bahwa apa yang kita pahamai saat ini hanyalah sebagian kecil saja dari ilmu Allah Yang Maha Mengetahui.

Wallahua’lam . . .

Advertisements

2 thoughts on “Perandaian Pendidik dan Pelajar di Negeri ini

  1. Y. bermimpilah terus seperti itu. semoga mimpi X bisa menjadi kenyataan. kalau menurut Q. sulit untuk mewujud kan mimpi sampean. soalnya dunia pesantren kini juga mulai tergerus oleh arus modernisasi. di mana hubungan kiai dan santri mulai meluntur. tradisi santri yg ta’dhim pada kiai mulai digerus oleh arus kecanggihan tehnologi yg semakin maju. kharisma kiai sedikit demi sedikit di porak-porandakan oleh perkembngn tehnologi yg semakin maju. jika semua para pelajar Indonesia ta’dhim pada guru X masing-masing. alangkah bahagianya Q.
    this is my opini. manturnuwon …….
    ngapunten ingkang katah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s